Antara Kita, Borobudur dan Rohingya


Saya bukan penganut mahzab bumi datar, bukan juga keturunan bani serbet. Tapi bisa dibilang sejak pilpres kemaren memang manusia Indonesia banyak diklasifikasikan sebagai bagian dari salah satu, antara penggemar bumi datar dan bani serbet. Terkadang istilah itu sendiri mengantarkan kita pada stigmatisasi ketika seseorang memiliki sebuah pandangan yang berbeda, wah omongannya mirip bani serbet. Misal. Meski tidak selalu asumsi tersebut valid.

Herannya, jika di jaman dahulu obrolan seputar itu hanya menjadi sebuah obrolan gayeng kala nongkrong sambil minum kopi, sejak zaman social media hal tersebut sudah dianggap sebagai validator keberpihakan seseorang pada salah satu mahzab. Yang sialnya, kebiasaan menggeneralisasi akhirnya berdampak pada kedua kesebelasan dan mengilhami masalah-masalah lain untuk dihukumi hitam atau putih.

Antara Borobudur dan Rohingya

Kasus Rohingya bisa dibilang salah satu kasus pelanggaran kemanusiaan terbesar saat ini, selain kasus Suriah, ISIS, Pembumihangusan negara-negara Arab oleh Amerika dan sekutunya. Ketika terjadi sebuah konflik katakanlah Israel – Palestina, Revolusi Suriah, bahkan Rohingya kita akan mengatakannya sebagai pertempuran antara Yahudi – Muslim, Sunni – Syiah, dan Islam – Budha. Kita menyebutnya semacam itu karena terbiasa dengan generalisasi sejenis sejak lama. Dan akhirnya, ya keputusan yang diambil pun menjadi kontradiktif.

BACA JUGA:   Terror sex ala LGBT
1754210borobudur-small2780x390 Antara Kita, Borobudur dan Rohingya  wallpaper
sumber gambar: kompas.com

Borobudur dan Rohingya tentu adalah dua entitas yang sama sekali berbeda, satu menunjukkan sebuah bangunan Candi yang berada di Magelang dan satu lagi merujuk pada etnis. Pelaku genosida terhadap etnis Rohingya yang mayoritas beragama Budha dan tinggal di Myanmar tentu tidak memiliki hubungan apapun dengan masyarakat Budha yang merayakan Hari Raya Waisak di Borobudur, selain mereka sama-sama pengikut Budha dan sama-sama manusia. Yang membedakan adalah masyarakat di Indonesia, tidak terlibat dalam pembantaian dan tidak membenarkan pembantaian.


Lalu jika Borobudur sebagai simbol umat Budha nusantara kemudian dijadikan sasaran kemarahan umat muslim yang geram dengan kelakuan pemerintah Myanmar, kan aneh? Jika itu dilandasi semangat membela saudara seiman, toh kita juga sama-sama paham bahwa umat muslim tidak perlu mendemo Masjid Istiqlal untuk mengutuk perilaku ISIS.

Hal kedua yang jadi pertanyaan besar, kenapa masyarakat kita hobi sekali mensharing berita yang memperlihatkan kondisi korban-korban pembunuhan, perang dan konflik ke dalam social media hanya demi memperoleh popularitas, like dan tentu saja, AMIN. Akun-akun tersebut bahkan membranding sebagai tokoh agama, muslimah cantik tetapi dengan secara tega menyebarkan disturbing content semacam itu? Apakah memang masyarakat kita sudah sesakit itu?

 

 


Post You May Also Like

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda