Melihat Proses Pembuatan Batik Indonesia ala Shibori


Pada Hari Batik Indonesia, tanggal 2 Oktober 2016, kami para blogger Jogja diajak berkeliling oleh tim panitia Gelar Budaya Desa Sendangagung untuk berkeliling melihat potensi wisata yang ada di Desa Sendangagung Kecamatan Minggir, Sleman. Desa yang terletak di ujung barat Sleman ini berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo dan dipisahkan oleh aliran Kali Progo.

Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah rumah Mbah Kiyat, seorang perajin batik asal Sendangagung. Mbah Kiyat merupakan perajin batik yang menggunakan teknik Shibori dalam pembuatan batiknya. Kata Shibori berasal dari bahasa Jepang, merupakan teknik menghias kain dengan cara melipat kain dalam pola tertentu lalu mencelupkannya ke dalam larutan pewarna. Di Indonesia teknik ini disebut dengan teknik jumputan.

Teknik ini berbeda dengan kebanyakan teknik pembuatan batik tradisional seperti batik tulis yang diakui UNESCO dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) dalam Sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah (Fourth Session of the Intergovernmental Committee) di Abu Dhabi. Jumlah perajin batik di Indonesia menurut Kemenperin ada sekitar 48.000 dengan tenaga kerja sekitar 800.100 orang, dan nilai produksi sekitar Rp2,9 triliun serta memberi kontribusi ekspor mencapai 138 juta dollar AS/tahun (Kemenperin).

Mendung pagi mulai menggelayut saat kami sampai di rumah Mbah Kiyat, selepas kami bertemu dengan pemilik rumah, Mbah Kiyat segera mengeluarkan uborampe yang dibutuhkannya untuk membuat Batik Celup Shibori. Larutan perekat, bubuk pewarna, air panas dan juga kain putih yang sudah dilipat dengan pola segitiga sama kaki, segitiga sama sisi dan pola tidak beraturan.

Pertama-tama Mbah Kiyat menuangkan larutan perekat dicampur dengan air panas ke dalam wadah plastik. Kemudian beliau mengambil satu wadah lagi untuk ditaburi pewarna hitam. Menurut Mbah Kiyat, meskipun pewarnanya berwarna hitam, biasanya warna yang akan muncul pada kain batik ini adalah warna biru, intensitas kepekatan warna birunya ditentukan seberapa banyak bubuk pewarna dan air panas yang dilarutkan ke dalam pewarna. Semakin banyak bubuk pewarna maka warna yang akan dihasilkan semakin pekat, sedangkan untuk mendapatkan warna biru muda, cukup memperbanyak air ke dalam larutan pewarna.

BACA JUGA:   Miniatur kendaraan klasik dari Jogja
kain dicelupkan ke pewarna
kain dicelupkan ke pewarna

Urutan pembuatan batik celup dimulai dengan mencelupkan sudut kain ke dalam larutan pengikat, larutan pengikat lalu akan meresap ke dalam kain putih. Setelah itu, kain dicelupkan ke dalam larutan pewarna. Nah, teknik pengikatan dan lama proses mencelupkan kain ke dalam larutan pewarna ini akan mempengaruhi pola kain batik yang dihasilkan. Dan mengingat teknik ini merupakan teknik celup, motif yang dihasilkan akan bersifat unik, tidak akan sama antara kain satu dengan kain yang lain.

ditiriskan sebelum digoreng dijemur
ditiriskan sebelum digoreng dijemur

Setelah kain dicelup, mbah Kiyat meniriskan kain tersebut di papan kayu, kemudian melanjutkan proses pencelupan kain untuk beberapa ikatan kain lainnya. Setelah kain agak kering, kain di bawa untuk dijemur di pinggir jalan. Kain ini, harus dijemur dalam kondisi horizontal terlebih dahulu, direbahkan ke atas tanah. Ini untuk mencegah sisa pewarna yang masih menggumpal turun dan merusak pola yang diinginkan.

bantuin njemur, biar kepoto :))
mas ramli bantuin njemur, biar kepoto :))

 

kain hasil pencelupan, motifnya langsung jadi tuh
kain hasil pencelupan, motifnya langsung jadi tuh

Rekan-rekan blogger turut serta dalam proses penjemuran kain ini lho, dan saat kain dibuka, kami merasa takjub dengan pola batik yang dihasilkan. Ternyata untuk membuat pola semacam tersebut ada teknik sendiri yang tidak melelahkan, tidak perlu digambar terlebih dahulu dengan pensil, cukup mengikat kain dalam pola khusus dan mencelupnya dengan sudut-sudut tertentu.

Setelah dijemur dan kering, mbah Kiyat memulai proses pencucian kain di selokan, jangan kuatir, air selokannya cukup bersih kok, dan menurut mbah Kiyat, proses ini hanya untuk melunturkan sisa pewarna. Pewarna yang tidak melekat sempurna ke dalam kain akan ikut terhanyut dan meninggalkan bercak berpola biru keunguan di sisi luar motif biru hasil celupan. Kain yang sudah dicuci ini, nantinya masih akan dicuci ulang dengan mesin cuci untuk menghilangkan kotoran yang masih menempel. Setelah dicuci dan dikeringkan di mesin cuci, barulah kain dijemur di tiang jemuran. Proses penjemuran tidak lama, setengah hari sudah kering dan warna kain sudah menempel sempurna, siap untuk digunakan.

BACA JUGA:   Resep Minuman Tradisional Teh Talua Padang
proses pelunturan kain pewarna
proses pelunturan kain pewarna

Rekan blogger yang tidak sabar untuk menggunakan kain ini, mulai berpose menggunakan kain hasil percobaan kami di rumah Mbah Kiyat. Lihat tuh warnanya, keren-keren kan? cocok banget buat dijadikan baju batik, rok, atau hanya digunakan untuk kain gendong bayi di rumah.


Omong-omong berapa harga kain batik Shibori Mbah Kiyat? Harganya cukup murah hanya 125 ribu rupiah per item, menurut mbah Kiyat, beberapa pedagang langganannya menjual kain ini dengan harga 150 ribuan kepada konsumen, sementara untuk kain batik yang digunakan untuk jilbab paris harganya lebih murah lagi, hanya lima belas ribu rupiah per biji, duh jadi berasa pengen kulakan ke rumah Mbah Kiyat nih.

batik celup Shibori bisa jadi sarung (foto: dok pribadi Wawan Setyawan)
batik celup Shibori bisa jadi sarung (foto: dok Wawan Setyawan)

Sebelum kami meneruskan perjalan untuk menuju petilasan Tunggul Wulung di tepian Kali Progo, Mbah Kiyat menawari kami untuk memilih kain batik yang paling disukai untuk dibawa pulang. What a wonderful world!!!!

Maturnuwun sekali untuk Mbah Kiyat, panitia Gelar Budaya Sendangagung dan Pemerintah Desa Sendangagung yang telah memberikan kami kesempatan merayakan hari Batik dengan menyaksikan dan mempelajari cara membatik di Desa Sendangagung. Sukses untuk Batik Shibori, Pemerintah Sendangagung dan Batik Indonesia.

Tulisan ini disertakan dalam Blog Contest Tradition for Innovation yang diselenggarakan Astoetik & Sahid Rich Jogja


DMCA.com Protection Status

teknik pembuatan shibori (4), windows 10 tidak masuk desktop (3), pewarna untuk membuat kain shibori (1), laporan fortofolio batik jumputan teknik shibori (1), dimana beli batik shibori di yogya (1), cara pembuatan sibhori (1), cara pembuatan batik jumputan teknik shibori (1), cara mengikat batik shibori (1), cara membuat kain shibori (1), cara membuat batik shibori (1)

Post You May Also Like

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda