#BatikIndonesia Mengenal Batik Jogja


Nelson Mandela mungkin telah tiada, tetapi masyarakat Indonesia masih terus mengenangnya sebagai salah satu tokoh dunia yang gemar menggunakan batik dalam acara-acara resmi yang dihadirinya. Saat ini batik mulai digunakan secara luas oleh masyarakat, tidak hanya dalam acara-acara adat saja, batik juga hadir dalam aneka produk fashion kontemporer dan dinamis, seperti tas, sepatu, kemeja, jaket, syal dan lain sebagainya. Semakin meningkatnya minat generasi muda terhadap batik ini tentu perlu kita apresiasi. Meski demikian, tidak semua anak muda yang memakai produk batik, mengerti dan memahami tentang apa itu batik, darimana batik itu berasal? dan bagaimana peruntukkannya? bagi mereka, batik adalah simbol budaya, yang bisa dijadikan salah satu pilihan dalam mode mode baju terkini, terlepas dari filosofi-filosofi yang mungkin ada dalam motif yang mereka kenakan.

Jogja sebagai salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kerajinan batik, batik-batik Yogyakarta memiliki ciri khas yang berbeda dengan daerah lainnya. Batik produksi Yogyakarta umumnya memiliki pola besar dan memiliki perpaduan warna putih dan gelap soga. Sedikit berbeda dengan batik Solo yang lebih cenderung berwarna coklat keemasan.

Penggunaan batik di Yogyakarta sendiri saat ini cukup menggembirakan, dengan dukungan pemerintah Yogyakarta antara lain tertuang dalam Peraturan Gubernur no 12 tahun 2012 tentang Pakaian Dinas Harian Pegawai dan Peraturan Gubernur no 87 tahun 2014 tentang Penggunaan Pakaian Tradisional Jawa Yogyakarta di lingkup pemerintahan Provinsi DIY.

Di Yogyakarta ada banyak motif khas, akan tetapi sebagian besar terangkum dalam motif-motif berikut ini.

BACA JUGA:   Apartemen Eksklusif Di Lingkungan Strategis Kota Jogja

Motif Parang

Motif parang merupakan motif yang berupa jajaran keris bolak balik yang disusun diagonal. Motif parang ini merupakan salah satu motif yang paling mudah dikenali oleh masyarakat dan merupakan motif larangan, hanya bisa digunakan oleh Sultan, kerabat kerajaan, pejabat kerajaan yang hendak menerima titah raja. Hal ini sesuai dengan Pranatan Dalem asmanipun Panganggo Keprabon wonten Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat tahun 1927. Penggunaan motif larangan menunjukkan derajat kebangsawanan penggunanya. Motif parang, merupakan motif yang diciptakan oleh keluarga kerajaan atau bahkan Raja sendiri, misalnya motif Parang Baron yang diciptakan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo hanya dapat digunakan oleh raja, motif parang rusak hanya dapat digunakan kerabat kerajaan pada acara-acara khusus.

motif parang rusak (winotosastro.com)
motif parang rusak (winotosastro.com)

Motif Kawung

Motif kawung (kolang kaling) berupa empat buah lingkaran atau elips disusun diagonal yang melingkari sebuah lingkaran kecil. Motif ini menandakan empat arah mata angin dan filosofinya, yakni timur (sumber kehidupan) utara (tempat roh) barat (surutnya keberuntungan) dan selatan (pusat kehidupan) Lingkaran di tengah menandakan raja sebagai pengayom rakyatnya. Motif ini merupakan perlambang keseimbangan, keadilan dan kesejahteraan masyarakat di tangan raja.

motif kawung; sumber goresancanting.blogspot.co.id
motif kawung (goresancanting.blogspot.co.id)

 

Motif Cemplok

Motif cemplok memiliki bentuk geometris, baik berupa garis, bunga mawar, bintang, maupun titik-titik kecil. Cemplok disebut juga grompol merupakan simbol persatuan dari keluarga Jawa agar anak-anak mereka tetap mengingat keluarga mereka setelah mentas dan memiliki kehidupan sendiri-sendiri.

BACA JUGA:   Semesta Gelar Budaya Sendangagung
motif cemplok (batik-tulis.com)
motif cemplok (batik-tulis.com)

Motif Semen

Motif semen adalah batik yang memiliki motif kehidupan (bersemi) motif yang digunakan dalam kain ini adalah tanaman, hewan, burung, laut dan awan. Motif ini cukup dikenal dari bentuk motif yang ada di batik, misal motif sayap garuda, burung, dan bunga.

semen sidomukti (batik-tulis.com)
semen sidomukti (batik-tulis.com)

Motif Isen

Motif isen memiliki dua unsur, yakni motif utama dan motif pelengkap. Motif utama dapat berupa lingkaran atau bentuk geometris lain yang dikelilingi oleh motif-motif pelengkap. Selain kelima motif tersebut masih ada beberapa motif lain seperti motif truntum, nitik, lereng dan lain sebagainya.

aneka motif isen (ibid)
aneka motif isen (ibid)

Meski memiliki batik khas sendiri, tidak dapat dipungkiri banyak masyarakat Jogja yang awam dengan motif batik dan aturan penggunaannya. Misalnya menggunakan kain batik parang rusak untuk kesenian jathilan, tayub, atau pengantin menggunakan kain batik Jogja dengan riasan Solo. Sebagai warga masyarakat mungkin hal ini terlihat biasa, akan tetapi mengingat saat ini Jogja telah diakui keistimewaannya dan tercantum dalam Undang Undang Keistimewaan, akan lebih baik juga jika kita bisa memahami, menggunakan dan menempatkan penggunaan benda-benda budaya tersebut sesuai dengan peruntukkannya.

Masyarakat akan lebih bisa memahami makna dibalik motif batik, dan mampu memberikan informasi yang benar kepada para wisatawan yang berkunjung ke Jogja tentang batik-batik khas Jogja dan keistimewaannya.

 


DMCA.com Protection Status

batik jogja (1), mengenal batik jogja (1)

Post You May Also Like

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda