Bersenang-senang di atas Penderitaan Orang Lain

Judul di atas kesannya kok enggak simpatik banget yah? bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Sungguh trewelu, tapi nyatanya hal itulah yang dulu sering aku lakukan ketika ngerasa stress/ bete dengan masalah2ku.

Bersenang2 disini bukan berarti aku terus menjadi penjajah dan memperlakukan orang yang ada di bawahku semena-mena, hei siapalah aku ketika itu, masih anak SMA dari desa yang jatuh tebluk di tlatah ngayogyakarta.

Hobiku bersenang-senang di atas penderitaan orang lain ini bisa disebut hobby yang positif (hadezig) karena tidak mengeluarkan biaya dan tidak merugikan orang lain. Hmmm, ini bukan semacam simbiosis parasitisme dimana anda lemas dan saya puas, tapi jenis simbiosis komensalisme dimana obyeknya gak aku rugikan tapi aku dapat kepuasan.

Aku menyebut hobiku itu terapi keceriaan, terapi untuk membuatku tersenyum dan menyadari kalo ada orang2 yang lebih “teraniaya” daripadaku. Nah apa sih hobiku sebenernya?

Jadi waktu SMA dulu aku sama temen sekelasku paling anti main ke mall, alasannya simpel, kita ini bujangan kere, jadi mencitrakan diri pembenci mall, maksude ya ben nek jalan sama cewek seolah punya prinsip idealisme, ning dasare kere.

Tapi kita berdua seneng kok main ke mall klo lagi suntuk atau lagi males garap tugas. Yang kita lakukan di sono bukan bermain atau nguras isi dompet kek cewek2 penggila shopping, tapi kita semacam melakukan windows shopping. Dan yang berbeda adalah obyek yang kita lihat.

Yep, bukan barang dagangan yang kita lihat, dan bukan juga para pengunjung cewek yang menjajakan pahanya di selasar mall, tapi kita ngeliat penampakan para pasangan muda mudi yang masuk ke mall. Seperti kelakuan maling aja mau ngincer calon korban, bedanya kita gak bertindak kriminal kok, hanya cari kesenangan.

Rata2 setiap pasangan yang baru nongol dari pintu masuk mall, mukanya sumringah, yang cewek berseri2 karena bakalan dijajanin, yang cowok kelihatan PD dengan stok isi dompetnya. Dan begitulah, aku ma temenku cuma ngeliatin ke toko mana aja mereka masuk.

tidak semua cewek matre, Tiap pasangan itu keluar dari toko, terjadi perubahan pada mimik wajah masing2 pasangan, yang cowok dijamin mimik mukanya mulai menurun drastis, sementara yang cewek kegirangannya langsung melejit. Dan setelah keluar dari toko terakhir bisa dibayangkan wajah si cowok tegang, prihatin dan penuh penderitaan dengan tangan kerepotan menenteng tas belanjaan, sementara si cewek berjalan di depan sambil  asik windows shopping buat nentuin target yang akan dibeli klo mereka main ke situ lagi.

Jelas lah setiap pasangan itu keluar aku ma temenku cuma ngakak, pernah satu kali ada pasangan usianya SMA, yang cowok udah dandan sekumel2nya, tas slempang butut, pake sandal jepit, muka berantakan, sementara si cewek tampil necis, makeupnya full, parfumnya boo harum mewangi deh. Setelah bolak balik masuk toko, mereka masuk toko mainan di samping aku n temenku berdiri, do you know what I see??

Si cewek asik pilah pilih boneka barbie, dan si cowok pura2 melihat2 mainan, padahal dari luar jelas banget si cowok berusaha ngehindarin si cewek biar gak disuruh beliin ini itu. Nah setelah si cewek dapet 2pcs boneka barbie dan sekalian beli 1 set baju gantinya, n maju ke meja kasir tuh cowok keliatan gontai jalannya tapi ya tetep aja ngeluarin dompet buat ngebayarin cewek kesayangannya.

Abis mereka pergi aku ma temenku iseng masuk ke toko mainan itu, pura2 liat barang yang ditawarin jugak padahal aslinya sih ngeliat harga boneka yang dibeli cewek itu. Dan setelah tau harganya n mentotal kira2 si cowok tekor berapa kita berdua pun ngakak dan milih balik dari mall sebelum diciduk satpam :D

Itu cara aku melakukan terapi senyum, temenku yang lain ada juga yang memiliki terapi lebih kejam, bersenang-senang di atas penderitaan orang gila. Hooh tenanan iki, klo dia bete, biasanya pergi ke RSJ, entah yang di Pakem atau Puri Nirmala, pura2nya bilang mau jenguk sodara *entah aku yo gak dong dia bisa dapet nama2 pasien dari sapa* n disana  dia bisa terhibur n ketawa ngeliat tingkah2 orang2 gila. Konon menurut pengakuannya, pulang dari RSJ bisa membuat dia waras kembali, *ncen dasare koncoku ki gemblung tenan sajake, terapi versi dia ngaranku mung alibi asline ketoke njaluk obat tenanan neng sustere*

Moral of the story adalah, klo kita ngerasa teraniaya, sering2 melihat ke bawah, ngeliat bahwa masih banyak orang lain yang lebih teraniaya daripada kita, dan itu membuat kita menjadi sedikit lebih mensyukuri hidup. Percayalah!

2,582 total views, 8 views today

Incoming search terms:

Post You May Also Like

About Priyo Harjiyono

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.
This entry was posted in me my self and I and tagged , , . Bookmark the permalink.

21 Responses to Bersenang-senang di atas Penderitaan Orang Lain

  1. Tina Latief says:

    hehe pasangan muda-mudi itu fenomena yang patut dilihat mas, bisa dibedakan mana gerak muda-mudi saat ini dengan sekarang :)

  2. rawins says:

    lah ket biyen paling bebeh kluyuran mol
    apa maning nek ngetutna darma wanita
    kesel nginthil sing ngetan ngulon munggah mudun apa bae dimek tapi dituku ora

  3. debapirez says:

    haha…cah gemblung. kalau mimik wajah biz keluar dr bioskop, sumringah kok :D

  4. Hahaha.. iku aku tenan pas jaman kuliah, sok anti kapitalis, anti pembangunan mall, padahal asline kere :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>