Catatan bencana


Bencana yang besar akhir2 ini turut mengundang banyak respon dari berbagai kalangan, warga berbondong2 menjadi relawan, sebagian yang lain menyumbangkan rizkinya dan melakukan penggalangan dana dengan berbagai cara, penuh semangat kebersamaan. Empati dan simpati terus mengalir, menandakan rasa toleransi dan persaudaraan yang begitu erat.

Belajar dari banyak bencana besar yang sering terjadi dewasa ini, menjadikan warga semakin dewasa dalam menghadapi bencana, tidak terkecuali para pengungsi yang menjadi korban, mereka menyumbangkan tenaganya untuk membersihkan kendaraan2 yang lewat di desa mereka dengan air got untuk menghilangkan abu vulkanik yang menutupi kaca2 mobil.

Ketika terjadi mobilisasi pengungsi ke stadion maguwo saya begitu sedih melihat kondisi tersebut, bukan hanya pengungsi tapi memikirkan kondisi relawannya. Kondisi lapangan berbeda dengan kondisi bencana gempa jogja, dimana dulu tidak terjadi eksodus pengungsi besar2an, dan warga tidak bisa lagi bertahan di lokasi masing2. Kondisi yang carut marut dan darurat, mengingat fokus pertama adalah mengamankan penduduk sementara logistik dan peralatan dapur umum belakangan, dengan jumlah pengungsi yang puluhan ribu, akan sangat memberatkan relawan yang bertugas disana, baik memikirkan persiapan lokasi, pengaturan pengungsi, distribusi bantuan dan penyediaan makanan. Beruntung ketika warga berinisiatif melakukan gerakan nasi bungkus yang meringankan beban relawan untuk menyediakan konsumsi pengungsi.

Relawan bekerja dalam tim tim yang lebih kecil, terbagi dalam tugas2 yang lebih terfokus, ada yang menggalang dana, melakukan evakuasi, menyediakan logistik, distribusi, dapur umum,  membantu relokasi dan menjadi penanggung jawab posko2 pengungsi.

Warga sekitar posko menyediakan keperluan MCK bagi pengungsi dan relawan ikut berperan sebagai keamanan wilayah mereka. Sementara yang tidak bisa menjadi relawan mengirimkan bantuannya baik bagi pengungsi atau untuk membantu tugas para relawan dalam bentuk dana, pulsa dan bensin.

Beberapa relawan yang bertahan dari awal bencana mulai digantikan relawan baru dari berbagai pihak, memang menjadi relawan tidak mudah, ada saatnya jenuh dan kehabisan resource, penyegaran relawan perlu dilakukan untuk menjamin kondisi psikologis relawan dan keberlangsungan proses tanggap darurat.

Jika bantuan cenderung datang ke jogja mungkin karena beberapa pihak menganggap jogja dapat dijadikan tempat komando distribusi bantuan, banyak orangtua yang memiliki anak menjadi mahasiswa di jogja, banyak alumni/warga yang pernah tinggal di jogja, sehingga banyak bantuan menumpuk, sementara beberapa tempat masih kekurangan bantuan. Pun demikian tidak bisa disangkal banyak pihak hanya mampu mendistribusikan bantuan pada pos terdekat yang kebetulan berada di jogja, sementara pos2 di daerah lain mereka tidak bisa mendistribusikannya sendiri. Beberapa pos di jogja sampai terpaksa menolak beberapa item bantuan yang dikirimkan warga, bukan karena faktor jaim, melainkan stok sudah berlebih dan takut malah mubazir, sementara untuk membantu distribusi ke tempat lain mereka tidak mampu.

Meskipun di beberapa titik masih ada pos2 pengungsi yang masih minim bantuan, perjuangan semua pihak perlu kita apresisasi, proses pemerataan distribusi telah dilakukan, mbak difla misalnya mengubah kafenya sebagai dapur umum untuk didistribusikan di daerah2 yang jauh dari kota.

Sementara civitas akademik selain mengirimkan relawan dan membuka posko juga membantu memberikan informasi2 baru, UKDW membuat aplikasi penghitung jarak aman dari merapi untuk kesiapsiagaan warga. Media membantu informasi terkini dari daerah bencana, komunitas2 terus melakukan aksi2 terpadu untuk membantu proses tanggap darurat

Sayang ada pula yang menjadikan bencana sebagai safari politik, sarana ngejamm, mengeluarkan isu menyesatkan, bahkan lahan promosi produk, semprul tenan. Sementara untuk kedatangan presiden alangkah baiknya jika tidak ada pasukan protokoler dan pengamanan berlebih yang mengganggu aktifitas pengungsi dan relawan. Orang2 pemda tidak juga harus melakukan kegiatan2 mendadak hanya untuk jual muka di depan presiden.

Ada beberapa catatan dalam proses penanganan bencana yang saya amati lewat media, MP maupun dari lokasi

1. Menyayangkan dipulangkannya relawan ke mentawai karena ketiadaan sarana pengangkut ke lokasi bencana, sementara presiden bisa keluar masuk mentawai lewat helikopter.
2. Sikap orang2 pemerintah yang hanya jual muka ketika kedatangan presiden di wasior mentawai dan merapi
3. Rasa empati, persaudaraan yang begitu tinggi baik antar pengungsi, relawan, warga dan donatur
4. Laporan langsung media televisi memang dibutuhkan namun tidak terlepas dari subyektifitas wartawan di lokasi bencana, mengingat laporan langsung tidak melalui pengeditan informasi oleh redaksi, hendaknya diperhatikan faktor tempat, psikis dan fisik bisa membuat laporan cenderung ngelantur, berlebihan dan perlu di cross check agar tidak menimbulkan keresahan baru. Media juga harus bertanggung jawab pada kondisi wartawannya agar laporan yang diberitakan bisa tetap obyektif, memenuhi unsur jurnalisme bukannya menjadi masalah baru
5. Replacement relawan perlu dilakukan mengingat kondisi relawan juga perlu diperhatikan, relawan bersifat sukarela akan sangat tidak manusiawi jika tenaga relawan diforsir berlebihan, tidak ada salahnya beristirahat jika masih banyak relawan lain.
6. Tidak menjadikan posko bencana sebagai ajang promosi produk tapi lebih sebagai aksi kepedulian tanpa embel2
7. Banyaknya bantuan di sebuah posko jangan dijadikan opini penimbunan bantuan tetapi sebagai cadangan logistik untuk keberlangsungan selama masa tanggap darurat sampai akhir masa rehabilitasi bencana.
8. Perataan distribusi bantuan memerlukan waktu dan tenaga karena masing2 posko juga harus fokus dengan tanggung jawab posko masing2.
9. Donatur tidak bisa mendistribusikan bantuan sendiri, maka perlu bantuan dari posko untuk menerima bantuan, sekalipun bantuan telah berlebih. 
10. Mengingat bantuan berbagai pihak masih terus akan berdatangan hendaknya dibentuk relawan mobile yang berfungsi melakukan jemput bola bantuan, dan masing2 posko yang didatangi bantuan untuk menerima bantuannya dan diinformasikan lewat koordinator kepada posko relawan lain. Terutama bantuan makanan siap saji yang tidak dapat bertahan lama.
11. Bantuan dalam bentuk apapun masih sangat diharapkan baik untuk merapi, mentawai dan wasior, jika kelak stok bantuan bencana masih tetap berlebih bisa dialokasikan untuk bencana lain yang masih membutuhkan.
12. Tetap waspada dan membekali diri dengan masker, jika berada di dekat kondisi rawan tidak ada salahnya mempersiapkan diri untuk mencegah kepanikan, tidak mencela, melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri atau orang lain.
13. Masing2 pihak baik pengungsi, relawan, pemerintah, media, warga, komunitas2 lain tetap menjaga suasana tetap kondusif, jika ada hal yang perlu diperbaiki, diralat hendaknya disampaikan tanpa mendiskreditkan pihak tertentu.

Trimakasih kepada semua pihak, yang telah membantu keberlangsungan proses tanggap darurat bencana2 di negeri ini. Semoga dengan kebersamaan ini, Tuhan berkenan mengurangi ujian kita bersama. Amin ya Robbal Alamin



DMCA.com Protection Status

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda