DEBAT VS UJI KANDIDAT


TVONeKemunculan TV One di Indonesia menggantikan Lativi cukup bagus, jika dibanding Lativi yang hanya menampilkan film2 bioskop dewasa Jadul macam Gairah Malam, Gairah Pagi, Gairah Siang sampai Gairah Terus…kemunculan TV One langsung menarik perhatian banyak pihak, di satu sisi TV One mengakomodasi kemauan publik yang jenuh dengan  SinetronRia Televisi ala Cinderella, Ratingisasi Musik+Gosip dan Kontesisasi Televisi yang bikin jenuh macam AFI, Indonesian Idol, sampai yang masih aja ada penggemarnya Idola Cilik dan publik yang malas nengok TV Monoton macam MetroTV, meskipun MetroTV sarat dengan informasi namun sayang sekali karena kurang memberikan semacam hiburan ringan kepada masyarakat, entah karena Metro TV memang diciptakan sebagai Televisi Bisnis atau Televisi Kantoran yang cuma dilirik warung Burjo ketika acara Kick Andi dan republik BBM.

Dari pemilihan materi acara TV One tidak sekolot Metro TV dan tidak pula se ember TV lain macam TPI, SCTV Indosiar dan RCTI. Lebih banyak memainkan perannya sebagai televisi yang pandai membawa emosi publik untuk larut dalam acaranya, penyampaian berita yang dikemas lebih santai, TV One muncul sebagai TV yang sedikit “berbeda” dari TV lainnya.

Yang lumayan mendapat lirikan masyarakat mungkin acara Debat dan Uji Kandidat, dari pokok permasalahan Debat menyajikan perbedaan persepsi antara pro dan kontra terhadap suatu masalah, sebenarnya acaranya cukup bagus karena dengan adanya suara pro dan kontra kita mendapat gambaran tentang suatu masalah, namun sekali lagi kita hanya mendapat gambarannya saja. Bukan PENYELESAIAN.

kita hanya disuguhkan obrolan pro kontra yang sering kita dengar dari mulut tukang becak dan tukang parkir di warung burjo, bedanya yang berdebat bertitel Sarjana, Magister, Doktor tapi dari esensi perdebatannya sama saja cuman klo yang diburjo ga bisa nyebut istilah Europe-nya.

Acara Debat sama sekali bukan sebuah acara ramah tamah yang mempertemukan dua golongan yang pro dan kontra untuk diselesaikan namun untuk diungkap sisi baik buruknya berdasar persepsi masing2 golongan, runyamnya lagi acara ini tidak memberikan kontribusi apapun bagi permasalahan yang diperdebatkan, sayang sekali karena kita hanya disuguhkan obrolan pro kontra yang sering kita dengar dari mulut tukang becak dan tukang parkir di warung burjo, bedanya yang berdebat bertitel Sarjana, Magister, Doktor tapi dari esensi perdebatannya sama saja cuman klo yang diburjo ga bisa nyebut istilah Europe-nya.

Pun dari perdebatan itu sebenarnya kita tidak bisa menganalisa mana yang baik dari kedua kelompok,kenapa???ketika kita menonton sebuah acara perdebatan kita cenderung akan mengikuti dan mendukung kelompok yang pertamakali “memiliki persepsi sama” dengan anda, dengan begitu sangat musykil rasanya jika dalam perdebatan kita tiba2 akan membenarkan kelompok yang lain meskipun sebenarnya ada kebenaran yang disampaikan kelompok lain tersebut. Kita seolah sudah terjebak dalam stigma awal dan akan menutup diri dari kebenaran yang mungkin akan disebutkan kelompok lain.

Seandainya acara yang ditampilkan adalah untuk mempertemukan dua kelompok yang pro dan kontra dalam satu tempat lalu diajak berdialog dan mencari jalan terbaik tentu lebih bermanfaat daripada sekedar melihat perdebatan yang tidak akan selesai, acara ini bukan membuat kita sebagai satu bangsa itu merasa utuh dan satu, namun dari semua perdebatan yang ada justru saya menangkap kalo saya seolah diajak membenarkan atau menyalahkan golongan lain.

Uniknya proses ini mendukung terjadinya perpecahan yang lebih cepat bagi keutuhan NKRI, bagaimana tidak, dahulu di zaman Tabiit Tabiin, Imam Syafii sering berdebat dalam berbagai hal dengan ulama lain, tapi setelah berdebat Imam Syafii selalu bersalaman dan memeluk musuh debatnya, di zaman Rasul banyak sahabat yang memiliki pandangan berbeda2 tentang suatu masalah tapi tidak seorangpun dari mereka saling mengkafirkan namun justru saling memuji keunggulan akhlak sahabat lain. Bagaimana dengan acara debat di TV One??? seorang yang anti pemilu jangankan akan memuji lawan debatnya yang pro pemilu, untuk mau bersalaman saja masih diragukan keikhlasannya, begitu juga sebaliknya.

Kita diajarkan untuk memasang tameng terhadap mereka yang berbeda dengan kita, menjaga jarak dengan mereka yang tidak pro dengan kita, lalu beginikah cara berdemokrasi negara ini???mentang2 bebas menyampaikan pendapat?
Saya lebih setuju perdebatan tentang hal2yang sensitif hanya dilakukan oleh orang2 yang ahli dan tidak dilangsungkan didepan khalayak ramai, karena tidak semua penonton memiliki tingkat pengendalian emosi yang sama dengan mereka, lebih arif jika harus ada perdebatan hendaknya dilakukan ditempat tertutup, toh negara ini didirikan berdasarkan Musyawarah untuk Mufakat bukan Debat untuk Tidak Sepakat.

Apakah karena Orde Baru tumbang sampai kita hari ini melupakan jatidiri kita sebagai bangsa???dimana letak musyawarah untuk mencari jalan terbaik???dimana otak2 yang harusnya ada untuk memikirkan kebaikan bangsa ini???bukan otak yang sibuk menyiapkan manuver perdebatan untuk menjatuhkan kelompok lain

Lain Debat lain Uji Kandidat, sekali lagi ini adalah program yang cukup menarik memberikan informasi kepada masyarakat sejauh mana visi misi dan intelektualitas seorang calon anggota legislatif. Tapi saya justru merasa lucu dan prihatin terhadap acara ini, jika kita mendengarkan visi dan misi seorang caleg, tidak ubahnya dia sedang membacakan Pembukaan UUD 45 Alinea ke 4, semua memiliki visi misi yang sama dan statik, mirip seorang bocah SD yang disuruh membaca buku di depan kelas.

para panelis ini jauh lebih kejam dari caleg2 lain, karena mereka mampu memberikan pertanyaan2 konyol dan menghunjam, kenapa saya bilang konyol???karena sebenarnya mereka tidak melontarkan pertanyaan yang harus dijawab secara kritis, tapi melontarkan pertanyaan yang membuat para caleg menjilat ludah omongan yang baru mereka sampaikan.

Selanjutnya yang lebih menggelikan adalah bantai membantai antar caleg yang memanfaatkan kesalahan omong dari caleg yang lain, kesalahan yang kecil ini rupanya sudah lebih dari cukup untuk menjatuhkan image caleg lain. Rupanya dari caleg2 tersebut bukannya tidak intelek, tapi mereka lebih tertarik untuk menunjukkan pada publik bahwa mereka lebih pinter ngomong, lebih pinter memutar balikkan kata, lebih pinter membuat orang lain merasa bersalah,

Dua panelis yang ada pun tidak lebih dari orang yang jeli memanfaatkan salah kata, salah kalimat dan salah tingkah para caleg tersebut, para panelis ini jauh lebih kejam dari caleg2 lain, karena mereka mampu memberikan pertanyaan2 konyol dan menghunjam, kenapa saya bilang konyol???karena sebenarnya mereka tidak melontarkan pertanyaan yang harus dijawab secara kritis, tapi melontarkan pertanyaan yang membuat para caleg menjilat ludah omongan yang baru mereka sampaikan.

Jadi inti nya mereka akan berputar pada kontranisasi terhadap wacana yang diberikan caleg, jika wacana caleg tentang kebaikan pemerintahan sekarang maka ditanya kejelekan pemerintah yang masih saja tidak selesai, jika wacana caleg tentang kebobrokan pemerintah, ditanya kenapa dulu waktu presiden dukungan anda menjabat juga bobrok pemerintahannya??

Ada caleg yang langsung mati kutu dan terbata2 karena mungkin tidak pernah mengira akan mendapat pertanyaan2 seperti ini, ada caleg yang tidak tahu malu dengan ngeles sana ngeles sini meski harus terlihat menjilat ludah masih berusaha menjawab supaya tetap terlihat ganteng, ada yang pura2 tidak mendengar dan tidak mengerti maksud pertanyaan panelis, wah lucu pokoknya.

Seandainya dua panelis itu merasa lebih pintar dan lebih mampu dibanding para caleg kenapa tidak mereka saja yang mencalegkan diri sehingga tidak akan ada lagi panelis yang harus mempertanyakan visi dan misi mereka.

Dua acara Debat dan Uji Kandidat ini apakah merupakan cerminan manusia2 dari bangsa ini??? bangsa yang suka berselisih?bangsa yang seneng berdebat?bangsa yang anti terhadap golongan lain?bangsa yang enggan bersatu dengan mereka yang berseberangan?bangsa yang suka ngeles?bangsa yang cuma bisa baca pembukaan UUD 45?bangsa yang hobby menjatuhkan orang lain?bangsa yang tidak tahu malu?bangsa yang bangga terhadap tindakan bangsanya yang memalukan ini?




DMCA.com Protection Status

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda