Evaluasi Kurikulum 2013


Kurikulum 2013, sudah terlanjur dipaksakan oleh Rezim M Nuh untuk dilaksanakan pada tahun ajaran ini. Dengan ketidaksiapan pemerintah dalam memberikan dukungan implementasi kurikulum ini, sekolah dan siswa dipaksa untuk mensukseskan implementasinya, sebuah lelucon yang konyol.

Dari sisi materi, K13 terlihat hanya sukses di kalangan pendidikan dasar dengan tematik integratifnya, pun pada dasarnya beberapa materi sangat dipaksakan di dalamnya, kenapa saya bilang begitu? karena saya juga ngeles anak2 SD yang make K13, dan kesimpulan saya tentang buku tematik integratif adalah aneh.


Kenapa saya bilang begitu?

Pembuat buku menganggap bahwa anak SD sudah harus secerdas dirinya, sehingga, materi yang dicampur adukkan dan di plot seolah berhubungan itu lebih mudah ditangkap siswa. Di mata saya, beban yang luar biasa buat anak SD dalam satu bab dia harus menguasai beberapa kompetensi kognitif sekaligus, itupun hampir tidak ada pengulangan/pendalaman untuk setiap kompetensi yang memastikan si anak bisa mendapatkan lebih banyak gambaran mengenai materi yang sedang dipelajarinya.

Habis bahasa, kemudian PKN, IPA, ngitung matematika (kadang materi matematisnya gak nyambung sama bahasan bab tersebut) terus olahraga/ bikin prakarya. Siapa yang bakal inget tadi konten bahasanya apa? IPAnya sebelah mana klo begini caranya?

Klo konsepnya tematik integratif memang bagus, anak gak akan abstrak dalam menghitung, tapi eksekusi dalam materi di buku masih rancu.

kurikulum 2013

Lalu beranjak ke SMK, kok bisa2nya Bahasa Inggris di SMK disisain 2 jam per minggu, besok ini sudah masuk MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) terus dengan bahasa Inggris 2 jam per minggu kita mau ekspansi ke negara asean sebelah mana? Malaysia lagi jadi buruh kelapa sawit?

BACA JUGA:   Game Tebak Provinsi Indonesia

Beruntung kepemimpinan M Nuh berakhir, dan dengan terpilihnya Anies Baswedan sebagai penggantinya tentu ini menjadi sebuah harapan baru, mengingat Anies menjadi pelopor gerakan Indonesia Mengajar dan aktifis pendidikan yang sangat capable untuk masalah pendidikan.

Mendikbud baru menjanjikan evaluasi Kurikulum 2013, UN, dan beberapa kebijakan pemerintah sebelumnya yang dianggap terlalu dipaksakan pada masyarakat. Semangatnya adalah untuk menyelamatkan masa depan anak2 kita. Salut pak!

Dan kalo boleh kasih masukan khusus untuk SMK tentu saja ini menyenangkan.

Dalam kurikulum 2013, sekolah terutama SMK terpasung dengan kewajiban menjalankan materi2 ajar yang aneh dan tidak dipahami oleh gurunya. Tujuan pendidikan SMK adalah untuk memberikan life skill pada anak didik selain memberikan ilmu normatif jika ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.


Tetapi racikan kurikulum SMK seringkali tidak sesuai dengan industri, hal ini yang membuat lulusan SMK lebih banyak bekerja bukan pada bidangnya, sing penting megawe. Perlu ada link and match dari hulu ke hilir, yaitu pemerintah-sekolah-industri sepaham dengan apa yang harus diajarkan pada anak didik di SMK untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Pemerintah seringkali tidak melibatkan sekolah dan industri dalam menyusun kurikulumnya, berbeda dengan kebijakan terhadap perguruan tinggi di mana perguruan tinggi memiliki wewenang untuk membuat struktur kurikulumnya sendiri, merumuskan kebutuhan2 mahasiswanya sesuai kapabilitas institusi dan sasaran/peluang yang ingin dicapai, inilah yang membedakan SMK dengan kampus.

Ada wacana untuk membuat tidak hanya 1 kurikulum yang berlaku untuk diterapkan secara nasional di Indonesia, aku setuju banget dengan ini. Nantinya sekolah bisa memilih kurikulum yang sesuai dengan kebutuhannya.

BACA JUGA:   Laporan Penilaian Hasil Belajar Siswa

Untuk SMK sendiri, menurutku alangkah eloknya, jika SMK nanti diberi kewenangan untuk merumuskan silabus, kurikulum, kompetensi dan standar kinerja nya sendiri. Untuk menyusunnya SMK bisa bekerja sama dengan lingkungan DU/DI yang menjadi mitranya, sementara pemerintah berperan sebagai regulator dan memiliki hak menentukan standar inti dalam setiap jurusan. Dengan demikian pemerintah tetap memiliki control terhadap tujuan utama pendidikan dalam setiap jurusan, tetapi memberikan ruang gerak pada SMK untuk menciptakan tenaga kerja yang bisa diserap oleh pasar.

Lalu bagaimana standar DU/DI yang menjadi mitra SMK nantinya? Tentunya hal ini bukan hal mudah untuk menentukan standar DU/DI, kapabilitas, kapasitas, omset, coverage, bisa sangat bervariasi, tetapi setidaknya bisa dipecah berdasar skalanya menjadi Industri lokal (regional), nasional dan internasional. Dengan demikian, tiap SMK akan punya pilihan untuk mengambil perannya sebagai suplier tenaga terampil untuk pasar lokal, nasional, internasional bahkan ketiga2nya.

SMK juga diberi dukungan untuk menjalin kerjasama dengan lembaga2 profesional, vendor agar lulusannya dapat memiliki sertifikat profesional, ada banyak sertifikat profesional yang dikeluarkan vendor2 dunia di berbagai bidang yang diakui di tingkat nasional maupun internasional, sebut saja SMC, SAP, Adobe, Oracle, Microsoft, HP, Cisco, Mikrotik, dan masih banyak lagi. Sehingga lulusan kita tidak hanya bermutu sesuai kata dirjen-nya tetapi juga diakui di level nasional bahkan dunia.

Dengan demikian, ungkapan SMK Bisa, bukan hanya menjadi semboyan kosong yang diteriakan para pejabat eselon di lingkungan ditPSMK.


DMCA.com Protection Status

Begini Racikan Kurikulum Tiap Era Pemerintahan (1)

Post You May Also Like

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda