FF Sepeda Kumbang


Kutatap cermin kecil di dinding rumahku.



Sekilas kumelihat senyum cantiknya hadir di dalam cermin itu, dua tahun berlalu sejak kepergiannya ke Ibukota provinsi, kuharap dia masih menyukai sepeda kumbangku. Sepertinya sudah cukup ganteng, kusemprotkan parfum ke arah tubuhku, akupun bergegas keluar bilik

“Duh kok ganteng bener anak simbok, mau kemana le?”
“Eh simbok, Bejo pamit dulu ya mbok mau dolan ke tempat Rini”

Kucium tangan simbok yang habis memotong2 sayuran di depan rumah dan segera mengambil sepeda kumbangku.

Mentari masih malu2 menampakkan dirinya, lereng Merbabu yang dingin tak mengusik semangatku menganyuh sepeda tua ini. Merambah hutan pinus di belakang desa, dan menyusuri bantaran sungai yang gemercik, melewati kembali napak tilas kenangan kami berdua, ahhh adakah kiranya dia kini berbeda?
Suara klakson mobil memaksaku meminggirkan sepedaku, aku berhenti dan memperhatikan rombongan yang melewatiku, sepertinya rombongan pengantar pengantin. Aku terdiam sejenak…

Kukayuh kembali sepedaku menuju rumah Rini, sayup sayup kudengar suara merdu langgam jawa yang semakin mengeras. Aku tertegun, sebuah pesta meriah telah menantiku di rumah Rini.

credited: Mibadezink for the art
             Dygta – Cinta sudah terlambat


DMCA.com Protection Status

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda