Googling Wae


Google, search engine terbaik saat ini telah menjadi tumpuan banyak orang untuk memperoleh informasi dari dunia maya. Istilah mbah google disematkan sebagai pengakuan bahwa google dapat menjadi referensi terpercaya untuk mendapatkan sharing pengetahuan dari internet.

Memang benar bahwa google dengan kemampuannya bisa memberikan banyak informasi bagus buat kita, dan terkadang muncul di dunia ini ungkapan bahwa google tahu segalanya, dadi googling wae.

Hal ini juga dimanfaatkan anak2 usia sekolah ketika mendapatkan tugas dari gurunya, baik berupa pekerjaan rumah atau curi2 kesempatan sowan mbah google via hape di jam2 ulangan.

Rata2 anak kita tidak terlalu kreatif dalam mengolah informasi yang didapat, sehingga ketika aku menyuruh mereka membuat artikel untuk dikumpulkan, tidak jarang dari beberapa kelompok praktis aku hanya mendapat satu – dua jartikel saja, karena memang mereka hanya main copy paste.

Ketika tugas presentasi, beberapa kelompok akhirnya menampilkan presentasi yang sama persis, karena ya memang hanya ngambil gitu saja dari internet dan hanya menambahkan nama mereka di halaman cover. Sisanya podo kabeh.

Karena hal semacam itu kerap terjadi, dan memang anak2 selalu pandai mencuri kesempatan untuk terkoneksi dengan internet dan urusan contek mencontek, aku menggunakan cara lain untuk mengatasinya. Aku bebaskan mereka menggunakan semua resource yang ada untuk menjawab soal2 ulangan yang aku berikan,

Aku enggak pernah nungguin anak2 ulangan, sengaja aku biarin mereka saling mencontek, terserah, tapi dalam poin penilaian aku selalu bilang, setiap jawaban yang sama atau mirip, maka jawaban tersebut akan aku salahkan. Tidak semua jawaban anak yang sama aku salahkan, jika ada dua – tiga anak yang jawabannya sama, dua anak jawabannya aku coret dan yang satu aku benarkan.

BACA JUGA:   Lamanya pembuatan plat nomor tnkb & STNK di samsat sleman

Pilih kasih?

Bukan, aku ingin menanamkan rasa kejujuran dan ketidaknyamanan atas hasil plagiasi ketika ulangan. Anak2 yang benar2 belajar mungkin nilainya jeblok, karena hasil ulangannya dicontek temannya habis2an, sementara si pencontek nilainya bagus2. Dengan demikian, anak2 yang mencontek biasanya akan merasa risih karena dia merugikan teman yang dicontekinya, yang dicontek juga akan berpikir ulang ketika akan memberikan contekan pada temannya.

blooms_taxonomy

Ulangan buatku bukan juga untuk menilai kemampuan siswa dalam menghafal isi buku catatan, tetapi agar anak bisa mensintesa apa yang dibacanya, memahami materi, mengolah informasi tersebut dan menuangkannya dalam bahasanya sendiri. Kemampuan sintesis semacam ini jarang diterapkan dalam lingkungan pendidikan dasar dan menengah.

Kenyataan bahwa teknologi informasi membuat kita terlalu mudah untuk mendapatkan informasi bukan berarti harus disikapi dengan negatif, banyak sekolah yang melarang penggunaan hape di sekolah dengan alasan akan berdampak negatif. Benar adanya, bahwa gadget, hape, tablet, laptop yang dibawa anak2 ke sekolah banyak digunakan untuk bermain2 atau mengakses situs media sosial. Pun kita tidak bisa memungkiri bahwa dengan adanya alat2 itu, kita bisa mendapatkan sumber2 belajar yang tidak terbatas.

Pembelajaran konservatif dengan menjadikan guru sebagai sentral ilmu sudah tidak berlaku di jaman serba teknologi, penggunaan e-learning, m-learning dan ubiquotus learning tidak bisa kita hindari, justru harus kita budayakan karena memang teknologi tersebut bisa menunjang kebutuhan kita dan siswa dalam belajar. Yang perlu dilakukan adalah mengarahkan siswa agar bisa bijak dalam menggunakan teknologi2 tersebut, bukan dengan menjauhkan anak darinya.

BACA JUGA:   Ada apa dengan Pemblokiran situs Islam

Kalau rekan guru lain mewajibkan anak2 mengumpulkan alat komunikasi di meja guru ketika ulangan, aku justru menantang mereka untuk mencari jawaban soal2 ulanganku dengan bantuan teknologi informasi, baik berupa aplikasi di komputer untuk mensimulasikan soal yang aku berikan, atau mencari panduan dan jawabannya di internet.

Karena itu aku lebih banyak memberikan soal uraian yang membutuhkan analisis, analogi, pembandingan metode, pengambilan keputusan atau berbasis kasus. Dan tentu saja sangat sulit bagi anak untuk mendapatkan jawabannya begitu saja dari google.

Anak2 sering mengeluh, kalau soal2 yang aku berikan lebih pintar dari kemampuan mbah google, karena setiap pertanyaanku tidak bisa dijawab dengan tepat oleh mbah google. Sebenarnya bukan begitu, google menyajikan informasi sesuai dengan apa yang diketikkan di papan keyboard, sementara soalku membutuhkan pemahaman beberapa informasi2 dari google untuk dianalisa, digabungkan, disimpulkan dan baru dituangkan dalam bentuk jawaban.

Kemudahan google memang memudahkan kita, tapi sesekali kemudahannya membuat anak2 kita enggan menggunakan otaknya untuk berfikir, karena semua jawabannya sudah ada disana. Mengacu pada taksonomi bloom, justru dengan semakin mudahnya informasi yang didapat dari google, pembelajaran kita seharusnya juga meningkat ke tingkat yang lebih tinggi, bukan hanya sekedar knowing knowledge, tapi meningkatkannya ke level pemahaman komprehensif, pengaplikasian, analisis dan evaluasi dari informasi2 tersebut.



DMCA.com Protection Status

Post You May Also Like

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

2 tanggapan pada “Googling Wae

Berikan tanggapan anda