[I LOVE MULTIPLY] Uniquely Multiply


NGOMONGIN MULTIPLY keknya gak bisa enggak deh, gak di dunia maya gak di dunia nyata, klo lagi asik ngobrol selalu nyrempet2 ngobrolin tentang multiply, apa yang lagi happening, posting2 atau kejadian2 yang pernah kualami di multiply.
Pertama kenal MP berawal dari iseng disuruh dosen nyari webhostingan, langsung deh kelabakan ndaftarin diri kemana2, dari myspace, awardspace, freewebs, blogspot, wordpress, MP, livejournal dsb.

Untuk masalah tampilan jujur aku lebih suka wordpress, tampilannya lebih rapih, recent komen update yang ada di site bisa dilihat langsung sama pengunjung, masalah indexing juga wordpress paling bagus, Blogspot punya keleluasaan mengotak atik tampilan n menggunakan javascript, tapi tampilan defaultnya ancur bener, harus rajin2 belajar CSS dan otak atik themes biar enak dilihat. Sementara di MP? indexing susah, javascript diharamkan, otak atik themes selalu dibayang2in TOS, tapi kenyataannya akhirnya aku milih MP sebagai rumah mayaku. Kenapa milih MP?

Social Media

Secara resmi MP tidak diakui sebagai sebuah blog, karena memang berawal dari social web, sebuah media sosial yang digunakan untuk saling bertukar file antar pengguna, kemampuan MP ini menempatkannya sebagai dari jejaring social paling unik selain myspace, ketika semua social web baru asik mengekor keberhasilan Friendster sebagai jejaring sosial, MP justru menawarkan cakrawala jejaring sosial yang sama sekali lain, jurnal, notes, foto, audio, video, recipe, reviews, semua dihosting sendiri oleh MP. Sebuah ide brilian di masa itu yang masih bisa kita nikmati sampai hari ini.

Ketika booming Facebook dan Prikitiew melanda nusantara, sama sekali gak ada niatan buat mengikuti dua jejaring tersebut, klo saja gak diseret temen2 lama buat bikin FB  kayake mpe hari ini tetep gak bakalan punya deh. Minus game Mafia Wars di FB, sudah gak ada alasan lain buat lebih demen mesbuk dibanding ngempi, prikitiew piye?? prikicuihhhhhhhh gw kan gak bisa makenya


Blog

Ya ya ya, MP bukanlah sebuah blog murni, itu mengapa banyak orang memandang sebelah mata keberadaan MP sebagai blog, sesuai gender MP yang berupa social media, sangat jarang ada sebuah website yang menempatkan MP sebagai sebuah blog sekelas WordPress, Blogspot, bahkan sekelas Livejournal dan TypePad pun enggak, Stigma ini cukup dirasakan para blogger MP, bahkan ketika Tumblr mulai naik daun mereka sukses menempatkan dirinya sebagai sebuah tumbleblog, sementara MP tetap pada posisinya, website dengan kelamin meragukan; setengah social media setengah blog plus setengah pasar.

Pengaturan setting postingan dan status MP yang merupakan socialweb memiliki dua konsekuensi, disatu sisi, indexing MP jelas tidak akan sebagus blog murni yang emang jor joran untuk urusan indexing dan javascript, namun disisi lain, memberikan privasi kepada penggunanya, aman dari reply sampah anonymouse dan bisa menentukan sebuah posting dibagi pada teman tertentu, kontak, jaringan, hanya postingan untuk semua orang yang dapat diindex search engine, sisanya merupakan privasi pengguna yang harus dijaga oleh MP.

Multiply Effect

Bagi orang yang belum mengenal MP dari dalam stigma MP adalah website dengan kesalahan gender sangat bisa kita maklumi, tapi bagi MPers yang sudah berkecimpung sekian lama di MP, MP adalah sebuah kampung, negara dimana kita bisa bercerita berbagi dan berekspresi tanpa perlu merasa terintimidasi stigma2 dari luar. Just be yourself karena setiap ID adalah unik

Journal MP yang tadinya hanya sebuah pelengkap social media justru laris manis digunakan oleh blogger untuk ajang berbagi, menuliskan pengalaman pribadi, opini, copas informasi, bertegur sapa dan saling mengenal, kelamin ganda MP yang bagi orang luar meragukan justru menjadi kekuatan MP dimata penggunanya, kekuatan pemikiran yang tertuang dalam sebuah blog dikombinasikan dengan kontiunitas komunikasi berbasis jejaring sosial memberikan multiply effect yang luar biasa bagi penggunanya.

Dibandingkan dengan Blogspot dan WordPress yang lebih ribet urusan promosi, blogwalking, widget, embeding chatbox, dashboard yang kurang familiar, RSS Feed, follow2an, MP benar2 memimpin jauh, Inbox MP merupakan yang paling rapih, bisa diatur berdasar parameter tertentu, memungkinkan penambahan filter, menandai kontak favorit, post anything, tidak perlu fasilitas follow do follow yang lazim pada blog, MP menempatkan setiap user adalah contact, add as friend, maka setiap user adalah setara dan mereka bisa terus berkomunikasi setiap saat.

Online Seller

MP pernah menjadi lahan mendownload MP3, namun ketika terbentur masalah hak cipta, mau tidak mau MP bermetamorfosis menjadi tempat yang nyaman bagi para blogger, fotografer, penikmat kuliner, komunitas, penggemar diskusi, debat sampai tukang trolling kampret yang cuma berani menyerang dengan fake ID.

Kekuatan socialmedia dan socialweb MP pada akhirnya menarik para online seller untuk menjadikan MP sebagai rumahnya, salah? enggak. Karena idem dengan kita yang ngeblog bukan pada tempatnya (blog murni maksudnya) toko online pun berkembang bak jamur dimusim kawin.

Blogger dan online seller di MP ibarat satu rumah lain dunia, yang satu fokus berbagi yang lain fokus berbisnis. Seperti halnya blogger yang mencintai MP karena tetap bisa keep in touch dengan  para kontak dan pengintip, online seller menggunakan MP karena masih tetap bisa berkomunikasi dengan para buyer lama dan calon pembeli. Wandering para online seller pasti seneng klo barang yang dijualnya bermanfaat, diapresiasi masih nongol dicerita/foto pribadi, bukan tentang uang tapi juga kepuasan. Tapi bisa juga sih malah kebalikannya

Perubahan MP menjadi marketplace emang bikin gerah para blogger tapi mengingat dulu pun kita pernah merasakan transformasi MP dari tempat download menjadi rumah blogger, sepertinya kita masih tetap bisa beradaptasi dengan wajah MP yang baru. Toh meskipun MP sudah gak sediain link donlot lagu, selama ini masih bisa kita akalin tanpa melanggar TOS

Group

Sudah lama nih MP tidak memiliki grup yang aktif, klopun grup yang masih lumayan aktif setahuku yah komunitas tokusatsu, sisanya grup2 agama, diskusi, wisata, budaya, puisi sudah mulai mati satu2. Yah wajar lah karena di MP setiap user menggunakan ID sendiri sedangkan klo memposting di grup berarti masuk ke ID yang berbeda mungkin itu alasannya para MPers males menulis/ mengunjungi grup kek dulu, masa2 keemasan grup di MP sepertinya udah terlewat jauh dibelakang

Uniquely Multiply: OOTisme & The OOTers

Boleh dibilang, platform blog yang komennya paling ancur2an adalah MP, dimana MPers sebagai para tersangkanya gemar melakukan tindakan OOT disana sini tanpa mengenal waktu. Gemblung? yo ben, sik waras kudu ngalah. Beberapa teman diluar MP sering geleng2 melihat kelakuan anak MP, postingnya apa komennya apa. Toh keOOTan MPers bukan tanpa sebab, di awal kemunculannya, MP menjadi satu satunya blog yang bisa menampilkan realtime reply, itu juga yang menyebabkan para admin setres dan server MP di Amrik ngehang terus gara2 kelakuan MPers Indonesia. Ekspektasi luar biasa terhadap keunikan jejaring MP.

Jika banyak orang menganggap OOTisme adalah kelakuan parah, sebaliknya saya pribadi menganggapnya adalah kecerdasan intelektual, bukan hal yang mudah untuk berkomunikasi tentang sesuatu yang jauh diluar tema, dikemas dalam jokes yang dikeluarkan dalam waktu singkat dan melibatkan beberapa user sekaligus. Tidak jarang, sebuah komentar yang OOT justru berisi pengetahuan dan informasi baru, yang dikemas secara santai, pekok namun berisi. OOT adalah formula untuk mencairkan kejaiman seseorang di MP. Dari OOTisme inilah biasanya para MPers menjadi akrab, karena terbiasa bercanda, bahkan mempercandakan sesuatu yang oleh masing2 pihak dianggap tabu, prinsipil, menjadi sebuah cara pandang baru, bahwa perbedaan tidak selalu harus disikapi dengan kemarahan, tidak harus dihadapi dengan teriak2, ngegas montor dan mengacungkan senjata.

Just try the OOT please, then the world would be in peace.



DMCA.com Protection Status

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda