Idealisme Keislaman dalam Bayang – bayang Tradisi


Banyak diantara kita berfikir tentang idealisme, ketika kita berfikir tentang sebuah idealisme maka kita memiliki hasrat untuk mewujudkan nilai2 ideal tersebut, namun adakalanya kita tidak bisa menerima realitas yang ada hanya karena faktor idealisme yang belum terjadi hari ini

Lalu apakah dengan begitu kita dilarang berfikir tentang idealisme tentu tidak kan? yup kita hidup di dunia ini tentu berharap pada awal yang baik, cara yang baik dan goal yang baik, namun dunia ini tidak diciptakan dalam bentuk yang paling ideal, keadilan misalnya adalah sebuah idealisme namun sampai hari ini kita masih belum menemukan bentuk terbaik dari keadilan.

Begitu juga dengan keyakinan, ilmu dan bentuk2 lain yang masih akan terus kita gali kebenarannya sampai tutup usia kita. Setiap orang memiliki kadar resistansi dan tingkat pengetahuan berbeda dalam menyikapi permasalahan dan tolak ukur yang berbeda tersebut hendaknya bisa dijadikan sebuah pedoman dalam bertoleransi dalam kehidupan ini. Sebuah nilai yang baik yang bisa kita laksanakan akan lebih bermakna jika kita istiqomah menjalankannya namun tidak semua orang mampu menjalankannya, baik itu karena keterbatasan pendidikan, pemahaman maupun kesempatan.

Dunia akan selalu menemukan kebenaran2 baru, ilmu2 baru, bagi kita yang berkesempatan dapat ikut merasakannya tentu bisa bersyukur karena kita mendapat kesempatan itu tapi tidak bagi sebagian yang belum menemukannya. Oleh karena itu jika kita meyakini sebuah kebenaran yang tidak orang lain miliki alangkah lebih baik jika kita mensyiarkannya agar lingkungan kita pun mendapat hikmah dari kebenaran2 tersebut.

Dalam sejarah masuknya Islam ke nusantara kita mengenal Islam disebarkan oleh pedagang2 dari Gujarat dan timur tengah pada beberapa abad yang lampau, namun sampai hari ini pun kita menyadari meskipun negara kita adalah pemeluk terbesar Islam di dunia tetap saja secara kualitas keislaman kita masih belum banyak beranjak dari masa2 kesultanan dulu.

Dari pelajaran sejarah di waktu SD dulu, kita tahu Islam masuk ke nusantara disebarkan dengan jalan yang damai, dan mudah diterima masyarakat, berbeda dengan nasrani yang banyak ditentang karena penyebarannya dapat dikatakan bersamaan dengan penjajahan bangsa barat ke Indonesia. Memang benar demikian yang kita pelajari waktu itu tapi kita juga harus melihat ada faktor lain yang mempengaruhi mudahnya Islam diterima di nusantara.

Salah satu faktor tersebut adalah asimilasi dengan kebudayaan lokal nusantara zaman dulu, sebagai tanah yang dikuasai oleh kerajaan2 hindu – budha dan sebagian masyarakat masih menganut animisme dinamisme para penyebar agama Islam dihadapkan dengan objek dakwah yang memiliki resistansi tinggi terhadap sebuah akidah baru. Oleh karena itu asimilasi adalah salah satu cara untuk memudahkan masyarakat menerima sesuatu yang baru.

Aku ambil contoh dalam kisah para wali, Sunan Kalijaga membuat media wayang kulit dan gending2 macapat untuk menarik minat masyarakat belajar agama, Sunan Kudus menggunakan menara Kudus yang bercorak Hindu untuk menarik masyarakat masuk ke dalam masjid. Sedikit2 demi sedikit masyarakat diajari permasalahan muamalah, ibadah dan kemudian tauhid. Penyebaran islam ini menghasilkan Islam abangan yang memeluk Islam namun masih mempertahankan tradisi kebudayaan leluhur mereka, sampai saat ini masih banyak umat Islam di negara ini yang mencampur adukkan kebudayaan musyrik dengan Islam, misalnya dalam perayaan2 kebudayaan yang melibatkan doa2 dari AlQur’an plus jampi2, sesaji yang dipersembahkan pada makhluk halus.



Meskipun para wali tidak pernah mengajarkan untuk mencampuradukan ayat2 quran dengan sesaji bukan tidak mungkin pemahaman masyarakat waktu itu menganggap hal itu bukan hal tabu, dan berkembang menjadi tradisi baru seperti islam kejawen.

Berlanjut ke awal abad 20 ketika KH Hasyim Anshori mendirikan NU sebagai organisasi keagamaan di daerah pedesaan, mungkin untuk beberapa dari kita melihat NU meskipun merupakan organisasi muslim terbesar namun masih kesulitan menghilangkan penyakit TBC dalam kehidupan beragama masyarakatnya. Dalam keseharian warga NU masih mengenal istilah kenduri, peringatan 7 hari, 40 hari, 1000 hari, yang tidak pernah diajarkan Nabi. Hari ini kita masih sibuk mudik lebaran ke rumah orang tua, masih sibuk mencari ketupat dan opor ayam, kita tahu mudik dan ketupat bukan termasuk ajaran Islam hanya merupakan kebudayaan lokal yang menyertai sebuah perayaan Islam, lalu apakah kita juga harus meniadakan hal tersebut karena tidak diajarkan dalam Quran dan hadits?

Tapi marilah kita bersifat arif dalam menghadapi hal2 tersebut, meskipun banyak warga NU yang menjalankan berbagai aktifitas tersebut namun satu hal yang kita dapat simpulkan NU tidak mengajarkan untuk menduakan Tuhan, tidak pernah. Prinsip Allah adalah Tuhan yang Esa masih dipegang teguh NU, NU sudah berjuang melawan tradisi syirik yang masih tertinggal di masyarakatnya ketika itu, masalah apakah berhasil itu soal lain, dan itulah tugas kita sebenarnya, daripada kita melihat ormas Islam lain bersalah karena mentolerir TBC akan lebih baik jika kita mulai menyadarkan masyarakat untuk lebih giat beribadah. Lakukan hal yang bermanfaat untuk memperbaikinya daripada sekedar melemparkan isu yang cuma bisa menimbulkan keresahan bukan kesadaran. Bicara Islam bukan hanya bicara AlQuran, hanya bicara kenabian, bicara Arab dan Palestina, bicara islam juga berarti berbicara kualitas keislaman lingkungan kita, saudara2 kita yang hanya mengenal Islam karena garis keturunan, yang belum bisa membedakan ibadah dan bid’ah, kehidupan ekonomi mereka dengan lingkungan demografi dan sosiologi lokal masing2.

Boleh jadi kenduri merupakan cara untuk mendekatkan masyarakat pada ALQuran daripada nongkrong dipinggir jalan dan bermabuk2an, kita boleh tidak setuju dengan cara tersebut karena tidak diajarkan pada Nabi tapi kita masih bisa melihat manfaat dari cara itu. Masyarakat yang terbiasa melakukan kenduri belum tentu akan ikhlas jika kita melarang mereka melakukan kenduri, yang terjadi justru konflik sektarian bukan solusi permasalahan. Jangan hanya karena kita tidak sependapat maka kita harus menjauhinya, justru disinilah peluang kita untuk memberikan pemahaman kepada mereka dengan cara yang santun dan bersahabat.

Mengingat Islamisasi di negeri ini sebetulnya belum selesai maka tugas kita meneruskan estafet dakwah yang dimulai para wali hingga generasi sebelum kita, tugas dakwah kita lebih mudah dari para pendakwah di awal sejarah karena kita tidak berhadapan dengan umat dakwah yang kontra dengan Islam, tidak berhadapan dengan penguasa yang non muslim dan tidak berhadapan pula dengan penjajahan di negeri kita. Jangan salahkan mereka yang berjuang lebih dulu dari kita, karena objek dan medan dakwah mereka tidak sama dengan kita. Aku yakin cita2 para wali, Kyai Hasyim dan para pendakwah waktu itu adalah menyebarkan islam yang murni, hanya saja dalam usahanya mereka belum berhasil merampungkan cita2nya karena keterbatasan usia, yang pasti mereka sudah menanamkan ajaran keTauhidan dan ilmu2 keIslaman lainnya. Ibarat kata hari ini kita hanya terima jadi dari apa yang sudah diperjuangkan mereka yang hidup lebih dulu dari kita, kita hanya tinggal memolesnya supaya lebih mengkilap, hanya perlu membiasakan masyarakat untuk membedakan mana yang Islami dan mana yang lebih bersifat tradisi, karena sebenarnya masyarakat kita cukup mudah menerima hal baru jika hal tersebut tidak dipertentangkan.

Misalnya, masyarakat kita tidak resistif ketika budaya gaul, keren ala barat karena tidak pernah di pertentangkan secara langsung dengan kebudayaan lokal. Jika kita ingin mengikis tradisi musyrik campur2 yang masih banyak dijumpai dalam tradisi2 kebudayaan misal; sedekah laut, sedekah bumi, tapa bisu, dsb, maka buatlah tradisi yang pure kebudayaan atau yang pure Islam, kalaupun tidak bisa membuat yang ideal yah minimal ada pemilahan dari tradisi sebelumnya misal acara Solo Batik Carnaval, Festival Keraton Nusantara, Tabligh Akbar, dsb. Tapi kita harus mempertahankan tradisi keislaman lokal yang baik seperti mudik lebaran hanya untuk dapat mencium tangan dan memohon maaf pada orang tua kita, Yasinan, yah masing2 dari kita lebih bisa mengukur mana tradisi yang baik dan mana yang buruk, mana yang menghancurkan dan mana yang menguatkan.

Lalu bagaimana jika kita dianggap menghilang2kan tradisi dan jati diri bangsa Indonesia? aku pikir orang2 yang beranggapan begitu bukan orang yang memahami kebudayaan itu sendiri, hanya besar dimulut tapi sepi dalam perbuatan. Kekayaan budaya kita adalah hasil peradaban masa lalu leluhur kita, sehebat apapun kebudayaan kita, harus kita akui kebudayaan itu adalah hasil karya cipta para leluhur bukan kita2 yang hidup saat ini, buatku kebudayaan, kultur dan peradaban selalu datang dan pergi, apakah kita akan menjadi generasi yang hanya bisa mengenang sejarah dan kebudayaan masa lalu atau generasi yang ingin diingat anak cucu kita sebagai generasi kreator yang juga mampu menciptakan kebudayaan yang lebih baik untuk anak cucu kita di masa mendatang? Yang pasti dalam Islam jangan pernah mencampurkan dupa dan doa


DMCA.com Protection Status

apa pedoman yang harus dipegang oleh pendakwah (1)

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda