Intolerance


Menurut Primbon Betal Jemur AdamLevigne, kata toleransi berasal dari bahasa latin yakni tolerare, yang artinya menahan diri, dan membiarkan. Dalam penggunaan ilmu sosial toleransi digunakan sebagai sebuah lingua franca untuk menyebut tindakan mau menghormati perbedaan yang dimiliki oleh orang lain.

Aku sendiri sayangnya adalah orang eksak, meskipun ilmu eksak dianggap sebagai ilmu pasti, akan tetapi, selama aku mempelajari ilmu eksak, satu-satunya kepastian dalam dunia eksak adalah ketidakpastian. Dalam disiplin ilmu yang aku tekuni aku juga belajar tentang apa itu toleransi. Toleransi dalam bahasa listrik adalah sebuah nilai yang menggambarkan kemampuan resistor (hambatan) untuk memberikan output sesuai yang diharapkan. Toleransi umumnya digambarkan dalam satuan persen.

Dengan rumus Arus = Tegangan/Hambatan, sebuah resistor yang memiliki nilai 220 ohm, diberikan tegangan 220v belum tentu akan menghasilkan kuat arus exactly sebesar 1 ampere, pasti ada selisih nilainya, nilai toleransi menentukan seberapa besar missing poin yang dapat diterima dari penggunaan resistor tersebut, bisa 1%, 5% atau bahkan 10%.


Nah jika aku melihat permasalahan sosial akhir-akhir ini terutama mengenai kelakuan satpol PP yang menyita barang dagangan pedagang makanan di Serang, Banten dan respon luar biasa masyarakat dengan penggalangan dana, maka aku berusaha melihat akar permasalahan dari persoalan tersebut. Tolerance.

Lu hargai dong orang yang lagi pada puasa

Orang puasa itu tidak untuk minta dihargai…. Lemah amat imannya, liat orang makan aja enggak kuat….

Lu ga usah hargain gue, hargai tuh anak2 kecil yang baru belajar nahan lapar

Ibadah saja menyusahkan orang lain..

Mending daripada elu, udah setua ini gak pernah ibadah, nyacat mulu

Puasa itu untuk Tuhan…. gak usah pamer

Emangnya lu, cuma bisa pamer maksiat

Klo orang tua, yang sakit, wanita haid, nifas, melahirkan, anak kecil ga kuat puasa, siang lu suruh makan apa mereka? Ngunyah mie goreng mentah? Lu mau nanggung urusan perut mereka?

Teruske dewe…. bangke ah

Ramadhan bukan sekedar Ra Madhang

Ketika tahun-tahun sebelumnya ada ormas yang dengan beringas melakukan sweeping rumah makan yang jualan pada siang hari di bulan puasa, sebagian kita tentu geram, sebagian lain mendukung. Semua memandang dari sudut pandang masing-masing, konflik akan terjadi saat perbedaan sudut pandang tersebut tidak lagi dapat ditampung dalam besaran nilai toleransi yang dimiliki masing-masing pihak.

BACA JUGA:   Trust Nobody

toleransi warung buka saat puasa satpol pp serang

Sebagai umat muslim, pada bulan puasa tentu kita menjalankan shaum ramadhan, ingatlah bahwa puasa itu adalah satu-satunya ibadah yang untuk Tuhan, bukan sholat, bukan zakat, bukan haji dan bukan yang lainnya.

“Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.”

Yakni Aku akan memberikan pahala yang banyak tanpa menentukan kadarnya. Hal ini seperti firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Al Qurtuby menyatakan “Ketika amalan-amalan yang lain dapat terserang penyakit riya, maka puasa tidak ada yang dapat mengetahui amalan tersebut kecuali Allah, maka Allah sandarkan puasa kepada Diri-Nya” Eh tapi kenapa di Indonesia ini mendadak ada orang pukul2 orang lain dengan dalih agar lebih bisa mengkhusu’kan diri dalam berpuasa? Adakah yang salah dengan niat kita berpuasa?

Tola tole intolerance

Toleransi tentunya tidak bisa hanya sebelah pihak saja yang dipaksa mentolerir perbedaan kelompok lain, setiap kelompok yang berbeda harus mau menahan diri dari keinginan menyerang pihak lain, baik secara fisik maupun lewat caci maki. Bangke kan ya klo tetiba ada sekuel Civil War di Twitter yang jadi trending topic global cuma karena masalah buka warung siang bolong di bulan puasa. Bukankah momen puasa ini menjadi momen utama kita untuk menahan diri, karena puasa bukan hanya sekedar menahan rasa lapar, tapi juga menahan diri dari setiap hawa nafsu yang kita miliki?

Untuk yang berpuasa, tidak perlulah kita sweeping sana sini untuk menutup warung makan yang jualan siang hari. Justru mereka ini lah para Avenger, X-men, Justice League, Ultraman Brother, Saitama, the saviour, pahlawan penyelamat, untuk sahabat-sahabat kita yang non muslim, sudah sepuh, sakit-sakitan, wanita hamil, wanita yang berhalangan, anak-anak kecil agar bisa memperoleh asupan gizi yang sama seperti bulan-bulan lainnya. Gak lucu, klo selama bulan puasa kok seluruh orang di negeri ini gak boleh makan siang, dan akhirnya dipaksa diagendakan sebagai bulan diet nasional, kan kampret. Puasa itu bukan masalah mau dan tidak mau, tapi soal berkewajiban atau tidak? mampu atau tidak? gak berkewajiban kok disuruh ikut merasakan penderitaan kita.

BACA JUGA:   Hukuman

Untuk yang tidak berpuasa, aku yakin sudah bisa ngerti klo saudara2 muslimnya sedang menahan lapar, ini bukan soal mau mengetes ketahanan iman mereka dengan makan gitu aja di depan mata mereka saat mereka sedang berpuasa. Lha wong klo kita makan sendiri gak nawarin itu dianggep gak sopan, apa meneh tau ada orang yang berhalangan makan kita malah ongkang ongkang sambil huh hah huh hah kepedesen.

Selama ini solusinya menurut aku sudah cukup capable, yang gak puasa umumnya sudah sangat sadar dan mau berempati dengan tidak makan sembarangan di depan rekannya yang berpuasa. Restoran yang tetap buka juga memagari outlet makanan mereka agar tidak menggoda orang yang sedang berpuasa. Klo masalah masih ada orang dewasa yang ora umum masa bodoh makan di jalanan pada waktu puasa ya sudah kelihatan kok sapa yang gak toleran dan sapa yang gak bisa berempati sebenernya. Sama tololnya klo ada ormas/ petugas yang ngobrak abrik lapak makanan yang jualan di siang bolong. Ya selalu ada orang2 yang bertingkah bodoh di setiap golongan. Entah itu golongan agama atau sekedar kelompok arisan.

Eh jadi situ mau nerima perbedaan gw kan? gw LGBT nih, mau yuk kita tukeran pin BBM #kedip2Manja

Ndasmuuuuuuuu!!!!!!

Ingatlah, toleransi bukan berarti mau menerima apa saja perbedaan orang lain, toleransi adalah batas dimana sebuah perbedaan dapat kita terima. Bayangin saja, kita gak boleh protes sama tetangga sebelah yang nyetel speaker kenceng-kenceng tengah malem dengan dalih kebebasan berekspresi dan toleransi, sementara anak kita lagi sakit gigi, lha yo matamu sempal.

Jika kadar toleransi kita besar, bersyukurlah, kita dikaruniai kemampuan untuk menghindari gesekan sekecil mungkin, tapi jika orang lain tidak memiliki toleransi sebesar yang kita miliki, ya kudune ra sah nyacat juga, kita pun harus toleran dengan kemampuan mereka menoleransi perbedaan dengan kita. Berdiri sama tinggi, duduk minta dipangku. Misal, kan affu!


DMCA.com Protection Status

Post You May Also Like

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

2 tanggapan pada “Intolerance

  • Ardiba

    (Juni 12, 2016 - 10:53 am)

    Wah. Pembahasan Mas Priyo lebih mendalam plus lebih ekspresif. Hahahaha!

Berikan tanggapan anda