Kebebasan itu ada batasnya


Setiap manusia terlahir dalam keadaan bebas, meskipun pada masa2 yang lampau, banyak manusia yang terlahir dalam kondisi penjajahan maupun perbudakan. Kita hari ini jauh lebih beruntung daripada mereka.

Hidup menjadi seorang budak tentu sangatlah menderita, tidak memiliki kendali atas tubuhnya sendiri, hidup harus menurut apa kata sang majikan dan tidak diberi upah atas kerja kerasnya. 

Manusia-manusia hebat telah membuat sejarah dengan melakukan hal terbaik semasa hidupnya untuk mendapatkan kebebasan, Harriet Tubman seorang budak Amerika yang melarikan diri dari majikannya, terlibat dalam 13 misi penyelamatan saudara2 sepenanggungannya dan menyelamatkan 70 orang budak semasa awal pendirian negara adidaya tersebut.

Hampir satu millenium sebelum itu, masa transisi antiperbudakan telah lahir di tengah gurun pasir, di pimpin oleh Muhammad SAW, umat muslim banyak membebaskan para budak untuk mendapatkan kemerdekaan dan kebebasannya. Namun apakah hanya sampai disitu? tidak, menjadi seorang yang bebas berarti menjadi seorang yang dapat mewujudkan keinginannya dengan tetap disertai rasa tanggung jawab.

BACA JUGA:   Mengawal Digital Native dalam Era Keterbukaan Informasi

Bertanggung jawab pada dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat sekitar. Disinilah muncul norma dimana kebebasan tidak dapat dipaksakan jika merenggut kebebasan orang lain. Manusia dengan jutaan pemikirannya tentu akan saling berseberangan dan bertabrakan, terkadang menimbulkan kondisi chaos dan kerusuhan. Semua terjadi karena ada norma yang telah dilanggar.

Freedom of speak, freedom of choice adalah salah satu bentuk kebebasan yang juga memiliki dampak dan tanggung jawab, dan menjadi responsibility setiap orang untuk bertanggung jawab atas apa yang ia katakan dan ia keluarkan.

Jika yang kita keluarkan adalah makian maka ia akan kembali mengarah kepada kita, jika yang kita keluarkan adalah celaan maka ia juga tetap akan kembali pada kita. Ajining diri ono ing lathi, begitu para sesepuh bilang, harga diri seseorang berada pada mulutnya. Dalam dunia maya seperti sekarang ini, perwujudan lathi tidak lagi hanya terbatas pada ucapan melainkan juga tulisan.

Banyak kasus di jejaring sosial seorang anak muda dimaki habis2an setelah mengeluarkan sebuah tweets yang dianggap sangat tidak bermoral. Mungkin dia hanya membuat 1 buah kesalahan tetapi disana citranya akan hancur karena nila yang setitik.

BACA JUGA:   Munafiknya Profesionalisme Pendidikan

Kebebasan kita tentu ada batasannya, hormat menghormati perbedaan adalah hal yang terbaik yang bisa kita lakukan dalam rangka menjamin kebebasan yang tetap berada pada koridornya, saya menuliskan ini, ketika saya merasa apa yang saya yakini sedang dilanggar oleh orang2 yang menyebut dirinya orang yang memiliki kebebasan meyakini kepercayaan masing2. Sedangkan setahu saya, apa yang mereka tuliskan hanyalah bentuk kebebasan untuk menghina kepercayaan orang lain.

pic was edited from here


DMCA.com Protection Status

kebebasan apakah ada batasnya (2), Apakah semua kebebasan ada batasannya (1)

Post You May Also Like

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda