Kecerdasane Esmosi


Manusia adalah makhluk yang paling kompleks mungkin karena itulah Tuhan menyebut kita sebagai ciptaannya yang paling sempurna, lebih baik, lebih ngganteng dari Malaikat dan Setan sekalipun.

Diciptakan dengan memiliki 3 kemampuan dasar yaitu Cipta, Rasa dan Karsa menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling gokil diantara tumbuh2an dan hewan2 yang berkeliaran di sekitar kita, gimana enggak, manusia bisa ketawa2 sendiri, nangis2 sendiri, ngamuk2 sendiri, giliran diajak makan minta dibayarin. Tentu saja dengan komplektisitas yang dimilikinya manusia memiliki bekal untuk menjadi diri sendiri, maupun berubah menjadi bencong berjalan.



Emosi adalah bagian dari kecerdasan Rasa dan kompletisitas manusia tersebut, seorang manusia mampu mengeluarkan emosi dari yang minus kuadrat sama pilus kuadrat, yah yah yah, mungkin karena itulah cuma makhluk yang bernama manusia sajalah yang punya ketegaan membunuh dirinya sendiri apalagi di depan umum cuma buat nyari sensasi karena patah hati.

Dengan adanya emosi manusia mampu memaknai arti kebahagiaan, cinta, kasih sayang, persahabatan, kebencian, dendam dan kehilangan. Namun banyak manusia yang terjebak dalam emosi yang berlebihan, sehingga berimbas pada lebayisme dan alayisme seperti A-be-geh a-be-geh jaman sekarang. Tidak ada salahnya bagi kita untuk meluapkan emosi, simpati dan empati selama tidak merugikan kepentingan umum dan tentu saja kepentingan diri sendiri. Karena sebenarnya kita selalu memiliki alternatif untuk mengungkapkan atau tidak mengungkapkan sebuah emosi dalam bentuk – bentuk yang bisa ditangkap orang2 disekitar kita. Seorang yang papa tidak akan direndahkan orang lain jika dia tidak merendahkan dirinya sendiri, dan seorang yang kaya raya tidak akan disirikin para tetangga jika dia mau berbaur dengan mereka.

Dari penelitian tentang kecerdasan manusia, kecerdasan emosi memiliki peran yang lebih besar dibanding kecerdasan intelektual, seorang yang berkecerdasan intelektual tinggi belum tentu mampu menterjemahkan ide2 kecerdasannya pada orang lain, sedangkan orang yang memiliki kecerdasan emosi lebih mudah menangkap dan mengarahkan lawan bicaranya pada sesuatu yang ia harapkan.

Sebagai makhluk yang membutuhkan interaksi sosial, seseorang yang sukses bukanlah seseorang yang pandai dan ber-IQ tinggi melainkan seorang yang mudah mendapat persetujuan dari orang lain, dengan persetujuan orang lain, seseorang akan mendapatkan lebih banyak bantuan dan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dan mendapatkan akses pada sarana2 yang belum tentu dapat dia usahakan seorang diri. Seorang yang terpilih menjadi presiden bukanlah seorang yang memiliki otak paling encer di negaranya melainkan seseorang yang mampu meraih persetujuan mayoritas masyarakatnya. Kekuatan mental, kemampuan berdiplomasi dalam menyampaikan sebuah ide, muka tembok dan kepercayaan diri adalah pencitraan kecerdasan emosional seseorang dalam menghadapi permasalahan hidup. Sayang kayaknya cuma sales2 marketing yang sering mendapat ceramah dari bos2nya mengenai pentingnya kecerdasan ini. Sisanya dari bangku Es De sampe Es El Be paling mentok cuma dapet saweran 3 jam perminggu di pelajaran agama/pendidikan moral.

Yah, kita semua masih dalam proses untuk mencapai kecerdasan tersebut, tidak ada ukuran resmi bagaimana seseorang telah mencapai kecerdasan emosional, tetapi bisa kita rasakan dari respon seseorang terhadap permasalahan emosional yang dihadapinya, mungkin sebagian dari kita sudah menguasai kemampuan2 pengendalian emosi dengan baik, mungkin sebagian yang lain kayak aku masih di seputar kelas amatiran, toh tidak ada waktu terlambat untuk belajar dan memperbaiki diri, syukur2 bisa memperbaiki nasib dan keturunan, nggeh to??


DMCA.com Protection Status

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda