Buku: Kitab Yang Omong Kosong


Tolong sampaikan agar cerita ini tidak usah dibaca
karena membuang waktu, pikiran dan tenaga
Sungguh hanya suatu omong kosong belaka.
Mohon maaf sekali lagi untuk permintaan tolong ini
Maaf
Beribu-ribu kali mohon maaf

Kata kitab biasanya digunakan untuk merujuk sebuah buku yang sarat dengan makna dan ilmu. Tetapi bagi Seno Gumira Ajidarma a.k.a Togog, kitab yang ditulisnya hanyalah sebuah kumpulan omong kosong.

Dan ya, kitab ini memang berjudul Kitab Omong Kosong, dan pada bagian sampul belakang kitabnya terdapat peringatan yang ditulis Togog sendiri agar para calon pembaca mengurungkan niatnya, tadinya kupikir ini hanyalah sebuah trik yang merangsang minat para pembacanya untuk penasaran, ternyata meski kuakui peringatan psikologi terbalik ini mampu menggiring calon pembaca untuk mencari tahu lebih jauh tentang keomongkosongan Togog yang  ternyata menurutku memang bener2 omong kosong.

Lalu jika isinya berupa omong kosong mengapa harus kitabnya dicetak dalam hardcover yang terkesan perlente? Ya mungkin ini semacam sindiran yang diungkapkan SGA alias Togog kepada para pejabat negeri ini yang terkesan dalam tampilan luks tapi isinya kosong mblombong.

Ketertarikanku pada kitab ini karena aku mengenal Togog adalah Dewa terkutuk yang harus menjalani sisa hidupnya sebagai Punakawan para bajingan, sementara Semar, yang di irikan oleh Togog meski sesama dewa terkutuk memiliki beban yang lebih ringan karena selalu mendampingi ksatria ganteng pembela kebenaran. Tentunya aku berharap curhatan kejujuran dari seorang yang berada diluar pihak pemenang agar sejarah Ramayana bisa dilihat tidak hanya dari sudut pandang keAyodyaan.

Satya dan Maneka adalah dua tokoh utama yang menggugat sejarah keagungan Ramayana, bermula dari gugatan terhadap kejahatan Sri Rama pada bangsa2 anak benua, sampai menggugat sang pengarang cerita si Walmiki terhadap adanya kisah ini.

kitab omong kosongCurhatan omong kosong Togog yang berjumlah Empat ratus empat puluh empat halaman kitab ini berisi tentang kisah Ramayana yang dikisahkan secara flashback dan bolak balik. Bener2 curhatan yang niat banget untuk sebuah cerita omong kosong. Setting utama cerita adalah zaman setelah penaklukan Alengkadireja oleh bala tentara wanara.

Dikisahkan bahwa seorang Rama yang juga titisan Dewa tidak lebih dari seorang lelaki congkak, ambisius dan bangsat. Ya, setelah membaca kitab buatan Togog ini sungguh pandanganku terhadap Rama berubah dari yang tadinya sekedar mandan asu menjadi asu sekali. Mandan asunya Rama bagiku karena aku melihat perang kethek vs raksasa itu seharusnya tidak perlu ada, tidak harus mengorbankan jutaan tentara wanara dan rakyat Alengka, daripada ngutus Anoman ngasih cincin ke Alengka kan mending sekalian njemput buat dibawa pulang?

BACA JUGA:   Korea Magazine

Ya Togog juga mengisyaratkan bahwa penaklukan Alengka alih alih penyelamatan Dewi Sinta, tidak lebih sebagai gertakan kepada Ayodya bahwa pangeran buangannya mampu menaklukan negeri yang lebih superior yaitu Alengka.

Nah di kitab ini tuntas sudah kebencianku pada tokoh titisan Wisnu yang nyuwun ngapunten, sangat tidak layak menjadi tokoh panutan keluarga manapun.

Ya mungkin kebencianku ini akibat akal bulus Togog yang menyaru jadi Seno dan menebarkan gelembung2 Rahwana pada para pembacanya sehingga membenci Rama. Sungguh pembunuhan karakter yang ciamik.

Keomongkosongan berikutnya menceritakan tentang Walmiki, penulis Ramayana yang digugat para tokohnya sendiri, tokoh2 figuran dan rakyat jelata yang dikorbankan Walmiki menggugat keeksisannya yang hanya dijadikan sebagai ganjel pintu, pelengkap penderita dalam perjalanan panjang Ramayana, seperti salah satu senopati Kiskenda yang lupa dimatikan oleh Walmiki hanya karena terlalu fokus pada penokohan tokoh2 utamanya sehingga mengabaikan kelanjutan nasib tokoh2 Figurannya, atau Dewi Tara yang menggugatnya karena melemparkannya dari cengkraman Mahesasura – Lembusura, hingga memaksanya berganti2 ranjang dengan Subali – Sugriwa, tanpa memberikan kesempatan baginya untuk memilih lelaki yang dicintainya.

Togog hendak menyindir betapa banyak dalang2 di negeri ini yang tidak mempedulikan kebahagiaan per kepala manusia dan hanya menyebut kata “rakyat” tanpa bisa menghitung berapa jumlah kesengsaraan rakyat tersebut selama kepemimpinannya.

Dan yang luar biasa asu nya adalah kisah pencarian kitab omong kosong itu sendiri oleh Satya dan Maneka yang disimpan oleh Anoman di lima puncak kendalisada. Asunya disini karena aku bukan orang filsafat yang nggak ngerti ketika satu persatu kitab itu ditemukan dan isinya bener2 menguras otak. Untuk yang ini aku rasa Togog perlu lebih menurunkan tingkat kecerdasannya dalam bercerita daripada ngaku2 goblok tapi justru mengutip karya2 kesusastraan lintas negara. Wis goblog nggoblogi wong goblog kowe gog? ya mumet nyonge sing digoblogi lah.

Meski cerita dalam kitab ini lumayan lengkap tapi settingnya menurutku terlalu ambigu, kisah ini diceritakan di masa Rama masih hidup tapi Togog berani menyebut nama Bratasena yang notabene seharusnya masih belum ada di dunia. Ada tumpang tindih yang tidak terjelaskan oleh Togog mengenai batas dunia pewayangan, tokoh2 Ramayana dalam dunia pewayangan dan tokoh2 tersebut dalam setting dunia manusianya, hanya para tokoh utamanya yang bebas berganti dimensi dari dunia wayang dengan dunia manusia. Togog juga memaksakan negara2 dunia kedua dimasukan dalam cerita, dinasti Rama tidak mengenal Italia, Romawi pun tidak lebih tepat karena dinasti Rama termasuk yang tertua di dunia, seharusnya Togog mengambil referensi dinasti2 lembah Sungai Tigris yang lebih mudah diterima akal pembacanya, Yo meh piye meneh, jenenge wae mung kitab omong kosong, gitu aja kok repot kang! Hasu!

BACA JUGA:   Tempat Menginap Rombongan di Jogja

Ending cerita juga tidak jelas, sampai sekarang aku masih mereka Anoman moksa hanya disaksikan hewan2 justru di bab berikutnya disaksikan oleh Maneka, mbuh gak ada clue tentang itu.

Beberapa aib muncul dalam kitab ini. Pertama, setelah mampu menghancurkan Alengka, maka Rama secara semena-mena menghancurkan semua negara tetangganya dengan dalih dilewati kuda putih dalam acara Persembahan Kuda, Rama lebih memilih diagungkan rakyatnya daripada mencintai Dewi Sinta yang dipaksanya membuktikan kesucian sekali lagi dengan menceburkan diri ke api. Kedua, pasukan Ayodya diluluhlantakkan dua anak antah berantah yang ternyata anak Rama dari permaisuri yang terbuang. Ketiga Trijata secara terbuka memilih tetap berselingkuh setelah tertangkap basah oleh Anoman. Empat, Laksmana memotong kemaluannya sendiri atas kekhawatiran Sinta, sebagai gantinya Laksmana meminta Rama memilih diagungkan rakyat atau permaisurinya. Lima Setelah menemukan Sinta di pengasingan kecongkakan Rama tidak berubah, tetap menuntut kesucian, maka moksa lah Sinta ditelan bumi.

Nilai plus dari kitab ini yang paling mengena adalah, bahwa cerita berending dengan kata2 “Pada akhirnya mereka hidup bahagia selamanya” itu tidak ada, tidak ada manusia yang benar2 sempurna, bahkan para Pahlawan seperti Rama dan Laksmana, setiap manusia memiliki keburukan dan kekurangan masing2, hanya saja, barangsiapa menjadi pemenang, maka ialah yang berhak menuliskan sejarah dari sudut pandangnya. Asu tenan

Ingin memiliki buku ini?

Klik gambar disamping

Kitab Omong Kosong

DMCA.com Protection Status

dinasti rama (1), pdf seno gumira ajidarma (1), pdf kitab omong kosong (1), pdf kirab omong kosong (1), kitab togog (1), kitab omong kosong unduh (1), kitab omong kosong pdf free (1), Kitab Omong Kosong pdf download (1), kitab omong kosong Hardcover (1), kitab omong kosong cetakan 1 Hardcover (1)

Post You May Also Like

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

3 tanggapan pada “Buku: Kitab Yang Omong Kosong

  • Priyo Harjiyono

    (Juli 3, 2013 - 9:41 am)

    Kitab sering digunakan untuk menunjuk pada buku yang memiliki kedalaman makna dan ilmu, apa jadinya jika sebuah kitab berjumlah 444 halaman ternyata hanya berisi keomongkosongan?

    • Evia Nugrahani

      (Juli 3, 2013 - 10:39 am)

      Jumlah halamannya kok unik gitu? Sengaja po? Lha kok malah inget tulisanku dewe barusan.
      ============
      Yang menjadi tujuan dalam membaca sebuah buku adalah mengerti dan meresapi isinya, tak penting bagaimana caranya dan berapa lamanya. Membaca buku bukanlah kontes cepat cepatan, siapa cepat dapat hadiah balon.

      Percuma aja cepat cepatan tapi gak ngerti isinya. Eh tapi kalau kalau bacanya cepat masuk akal kalau bukunya model ciklit ciklit gitu, buku yang gak memerlukan otak untuk mencernanya.
      ======================

    • Priyo Harjiyono

      (Juli 3, 2013 - 12:46 pm)

      ha nek ciklit ki rata2 wis ketebak endinge mbak, nek sik berbobot ki ngobrak abrik logika sik baru dipertemukan sama endingnya, mbuh kuwi jumlah halamane konspirasi yatogog yak'e wkwkwkwkwk

Berikan tanggapan anda