Koalisi atau Koalibi? melirik sidang paripurna di jaman edan


Pancen amenangi jaman edan, sing ora edan ora kaduman.
Sing waras padha nggragas, sing tani padha ditaleni.
Wong dora padha ura-ura. Begjane sing eling lan waspada.
Ratu ora netepi janji, musna prabawane lan kuwandane.
Akeh omah ing ndhuwur kuda. Wong mangan wong,
kayu gilingan wesi padha doyan rinasa enak kaya roti bolu.
Yen bakal nemoni jaman: akeh janji ora ditetepi, wong nrajang sumpahe dhewe.
Manungsa padha seneng tumindak ngalah tan nindakake ukum Allah.
Bareng jahat diangkat-angkat, bareng suci dibenci.
Akeh manungsa ngutamakake reyal, lali sanak lali kadang.
Akeh bapa lali anak, anak nladhung biyunge.
Sedulur padha cidra, kulawarga padha curiga, kanca dadi mungsuh, manungsa lali asale.
Rukun ratu ora adil, akeh pangkat sing jahat jahil.
Makarya sing apik manungsa padha isin. Luwih utama ngapusi.
Kelakuan padha ganjil-ganjil. Wegah makarya kapengin urip,
Itulah secukil kisah Jaman Edan karangan Ronggowarsito, yang hari ini menjadi tontonan kita sehari – hari. Dari politik, hukum, ekonomi dan sosial, ke-edan-an manusia semakin hari semakin membudaya dan mengakar erat di negeri ini. Anggota dewan tidak lagi menjadi wakil konstituennya melainkan politisi partai yang lupa pada amanah yang diembannya, penegak hukum yang sering menyalahgunakan hukum untuk kepentingan sendiri, pelaku2 ekonomi yang berusaha memperkaya diri sendiri tanpa mempedulikan hukum dan norma yang berlaku.



Tatanan masyarakat yang porak poranda tidak lagi dianggap sebuah masalah yang butuh solusi justru dijadikan standar gaya hidup yang baru, norma sosial dan sopan santun dianggap sisa – sisa peradaban feodalisme yang terus digerus budaya hedonis dan egosentris, betapa heran melihat artis yang lantang berbicara tentang bahaya narkoba justru malamnya tertangkap tangan sedang nyabu, yang jelas2 melakukan free sex diangkat menjadi Yang Mulia Duta Anti Aborsi,  yang nyolong duit rakyat hidup bebas berpesta pora, yang menegakkan hukum justru sibuk menghitung royalti kasus kriminal, yang dipenjara, eee aaalah masih sempet2nya facial di dalem sel.

Yang paling menyebalkan tentu saja kiprah anggota dewan yang terhormat di gedung DPR, dari yang sekedar menjadikan gedung DPR ajang ngorok dan ngiler, Tarzan – tarzanan ala Roy Suryo, Mencaci maki ala si Poltak, pelecehan seksual gaya Max Muin, ring adu jotos sampai tempat calo2 pasar melakukan transaksi ilegal.

Sebagai orang yang mewakili ribuan konstituennya seharusnya mereka lebih punya wibawa, minimal bisa menjaga diri sebagai tanggung jawab moral pada rakyat yang memilihnya, tapi justru sebaliknya mereka sibuk dengan egoisme masing2. Mbok ya o sebagai seorang yang mengemban amanah ki sadar diri dengan tanggung jawabnya, dengan janji2 kampanyenya

Dan yang lebih konyol tentu sikap anggota dewan dan petinggi partai Demokrat yang sok ganteng, dan sok berkuasa terhadap teman2 koalisinya dalam kasus sidang paripurna DPR. Koalisi dalam kamus politik maknanya adalah ”penyatuan sementara sejumlah partai yang memiliki kepentingan serupa untuk memperkuat pemerintahan” Pengertian memperkuat pemerintah oleh Demokrat diartikan tidak mengkritisi apalagi sampai mencolak colek kebijakan pemerintah yang ada. Sedangkan bagi temen2 koalisinya yang membangkang memperkuat pemerintah maksudnya menghilangkan borok2 yang menempel di pemerintahan.

Aku heran dengan sikap arogan partai demokrat yang berencana mereshuffle menteri2 yang berasal dari partai2 pembelot. Pertama menteri2 tersebut tidak ikut ambil suara dalam rapat paripurna, kedua sikap berbeda dari anggota dewan merupakan hak konstitusional masing2 anggota yang merupakan representasi sikap konstituennya bukan hak prerogatif ketua partai atau partai lain (demokrat)

Bullshit saja klo mendengar orang2 Demokrat sibuk dengan istilah pembangkangan dan pengkhianatan, mereka jelas salah kamar menggunakan istilah tersebut, anggota dewan dipilih secara langsung oleh rakyat dan itu artinya mereka bertanggung jawab penuh terhadap rakyat bukan pada partai ataupun koalisi. buatku selaku konstituen, justru sikap tegas anggota dewan terhadap kasus Century adalah sikap yang benar, mereka menyatakan hal yang sesuai dengan bukti yang mereka dapatkan, koalisi bukan berarti koalibi; menyamakan alibi yang salah ditampakkan sebagai yang benar, sikap Lily Wahid contohnya adalah bentuk sikap kesatria untuk menyatakan keyakinannya dan tanggung jawabnya terhadap para konstituennya. Bukan karena sendika dawuh pada keputusan elit partai, toh di masa kampanye partai tidak berperan besar dalam terpilihnya mereka menjadi anggota dewan masing2 anggota dewan berjuang sendiri2 untuk mendapatkan amanah ini.


DMCA.com Protection Status

ancen menungso mbencekno 🙂 (1)

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda