Learning something


Hari ini membaca sebuah notes yang direview Larass di FB, sebuah notes yang cukup panjang dimana didalamnya terbagi menjadi paragraf2 yang berisi kisah2 terpisah, tulisan yang sangat inspiratif menurutku.

Salah satunya adalah kisah seorang petani yang memiliki sawah dan kebun yang sangat subur, meskipun lahannya subur, tidak membuat petani itu terlena dan berleha2 menanti hasil panen dari lahannya, sebaliknya ia tak pernah lupa merawat lahannya itu.

Suatu hari datanglah seorang musafir dari desa lain, melihat tanah yang subur dan petani yang rajin ia pun menghampirinya.

“Pak tani, mengapa engkau bekerja sedemikian keras? sedangkan kulihat lahanmu sangatlah subur? tanpa perlu engkau kerjakan dengan keraspun aku yakin hasil panenmu akan mencukupi kebutuhan hidupmu”

Petani itu tersenyum,

“Wahai kisanak, sebetulnya aku tidak sedang merawat lahanku, melainkan aku sedang membina anakku”

———————————————–

Kita adalah tauladan bagi anak2 kita, kita adalah teladan bagi manusia setelah kita, terkadang seorang menangkap informasi secara parsial, anggaplah kita adalah anak petani tersebut, jika petani itu tidaklah rajin, tentu anaknya hanya akan melihat, hasil kebunnya adalah warisan turun temurun dari leluhurnya, mungkin memang demikian adanya, tapi dengan persepsi semacam itu anak akan merasa abai bahwa untuk mendapatkan usaha ia harus bekerja keras, bukan menunggu warisan jatuh.

Sikap ini mengingatkanku pada ketaqwaan Nabi, meskipun Allah telah menjaminkan surga untuknya, meskipun Allah telah mengharamkan neraka menjilat secuilpun dari bajunya, tetap tidak pernah berkurang ibadahnya, tidak berkurang kesehariannya menjalankan perintah2 Allah, malah beliau senantiasa menjadi orang yang paling rajin di antara umatnya. Mengapa???

Apa jadinya umat Muhammad ketika beliau hanya berpangku tangan  dan melalaikan sholat sementara ia mengajak umatnya senantiasa memperbanyak beribadah? Ya memang beliau telah dijamin oleh surga, tapi bukan berarti beliau melalaikan tugasnya memberikan suri tauladan kepada umatnya.

Hari ini, banyak orang yang merasa dirinya lebih mulia dan lebih dekat pada surga, sehingga berani melalaikan perintahNya, sementara nabi sendiri tidak pernah melakukannya.

Kembali ke negeri kita Indonesia raya, tanah gemah ripah loh jinawi tidak akan ada hasilnya ketika kita memaknainya hanya sebagai warisan turun temurun untuk bangsa Indonesia, suatu saat tanah itu akan habis dan meranggas, berganti literan aspal dan semen semboyannya akan berganti gemah ripah loh kok gitu. Maka marilah kita memaknai kekayaan alam Indonesia ini bukan hanya sebagai warisan melainkan sesuatu yang harus juga kita jaga, rawat dan berdayakan untuk kepentingan bersama

trimakasih untuk orang yang sudah memberikan inspirasi ini siapapun anda semoga tercatat menjadi amalan anda dikemudian hari.

gambar hak cipta koes photo collection yang diambil dari sini



DMCA.com Protection Status

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda