Love Letters


Cuaca yang panas memaksaku mempercepat langkah menuju kos-kosan kecil di ujung gang. dua set lembaran fotokopian tak terlalu berguna menghalau teriknya mentari, mungkin sebentar lagi hujan turun.



“mas Yan, tunggu”

Sesosok gadis mungil muncul di belakangku, senyumnya tulus mengembang, ah entah kenapa kurasakan dia selalu berbeda terhadapku.

“ada apa ran?”
“ada titipan buat mas Yan, tapi tadi di kos ga ada orang jadi dititipin ke rumah rani, bentar yah”

Kutatap sosok gadis dengan senyum pipit itu menghilang dibalik pintu rumahnya, hmm titipan apa yah….

“Ini mas”

Sepucuk surat, tapi agak berbeda dari biasanya. Ah, mungkin hanya perasaanku saja

“makasih yah ran, aku pulang dulu”
“silahkan mas Yan, ntar mampir kesini ya? bantu ibu benerin lampu”
“Iya, ntar sore mas mampir lagi” senyumku ramah

Kubuka surat itu di dalam kamar, tidak ada kata2 indah yang menyambutku membuka lipatannya….

Telah meninggal dengan tenang….
…… …… ……
…… …… ……

Tertegun aku menatap surat itu, sesak dan begitu berat, dia yang setia menantiku di ujung sana kini telah tiada. Kuharap aku bisa menemani perjalanan terakhirnya tapi jarak jakarta – halmahera cukup jauh, kutatap kalender akademik di dinding kamar. I have no time to flee


DMCA.com Protection Status

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda