Masjidil Halal


Cara untuk menyukai pelajaran adalah menyukai gurunya dulu, klo gurunya penak, maka ilmunya lebih mudah dimengerti, klo gurunya ga jelas, gimana kabar murid2nya? begitulah setidaknya cara aku melihat orang belajar baik dalam urusan sekolah formal, masyarakat maupun bidang lain seperti agama. Mo dibilang fisika semudah apapun klo gurunya ga bisa menarik perhatian anak tetep aja bagi anak fisika itu sulit. Seorang anak dibilangin sampe berbusa klo judi itu ga baik tetep pengen berjudi klo bapaknya sendiri pendemen judi. Gimana klo gurunya mudah menimpakan kesalahan pada si anak? menggoblok2kan anak bukan cara yang baik untuk membuat mereka mau belajar, meskipun dalam beberapa kasus memang anak tersebut bisa terpacu karena merasa dendam dikatain begitu, tapi bisa lain soal klo ternyata si anak justru merasa ga berguna dan memilih mengakhiri hidup–>>permisalan saja, semoga tidak pernah kejadian. Terkadang seseorang memiliki tujuan yang mulia namun caranya tidak mulia.

Dahulu kala ada seorang berandal yang gemar merampok harta orang kaya untuk dibagi2kan kepada fakir miskin, Robin Hood versi Jawa, niat yang baik, namun cara yang salah, sampai dia disadarkan Sunan Bonang dan menjadi tokoh yang sangat berpengaruh dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. Cara beliau mengenalkan Islam penuh keramahan terhadap masyarakat ketika itu, dengan media kesenian beliau mulai mengenalkan apa itu Islam, sedikit demi sedikit, tidak nggebyah uyah, akhirnya banyak masyarakat yang tertarik dan memeluk Islam.

Sayangnya dewasa ini banyak yang melupakan bahkan tidak menganggap metode tersebut. Masing2 berkutat pada text book ada dan tiada pada sumber rujukan dari Arab. Tentu metode kanjeng Sunan hanya satu dari ribuan metode yang ada dan memang setahuku tidak pernah ditemukan ayat/hadits yang membolehkan mengajarkan Islam lewat wayang kulit dan gending jawa namun kanjeng Sunan menyadari benar kondisi sosiokultur obyek dakwahnya sehingga beliau mampu memformulasi sebuah metode yang mudah diterima tanpa merasa perlu memusingkan diri harus berkutat pada stempel ini itu yang justru memicu resistensi.

Aku ga masalah ketika seseorang berdakwah, mengajarkan kebaikan dan mengamalkan ajaran agamanya dimanapun, baik di dunia nyata maupun dunia gaib (maya). Masing2 berangkat dari pengetahuan awal yang berbeda dan metode yang berbeda, ada yang membangun pondasi, ada yang membuat adukan, ada yang mempersiapkan rangka, ada yang memasang genteng, atau hanya memunguti paku2 yang tidak terpakai agar tidak melukai orang lain. Ada yang konsen ke masalah akidah, ada yang lewat pendidikan, pemberdayaan ekonomi, sesuai bidang dan kemampuan masing2, semua berkaitan ga ada yang lebih dibanding yang lainnya. Sayang klo akhirnya masing2 justru berkutat untuk menyalahkan satu sama lain, malah ga ada yang rampung.

BACA JUGA:   Mengeja Tuhan dalam ujian

Misalnya ketika seseorang memberikan argumen berbeda tentang sebuah permasalahan lalu begitu mudah melabeli bid’ah, syirik, kafir, fasik, begitu mudahnya menantang orang lain bermubahallah untuk hal2 yang menurut aku sendiri tidak prinsipil. Ada yang milih mendiamkan saja karena merasa ngga ada untungnya, padahal justru disitulah ada jalan untuk berbagi pemahamannya, mengajak orang lain melihat dari sudut pandangnya dan belajar saling memahami. Ada juga yang akhirnya terjebak dalam emosi sehingga merasa harus mengajarkan kebaikan dengan cara2 arogan, main stempel, main pentung. Gimana mau bilang Rahmatan lil ‘Alamin klo orang lain melihat caranya sama sekali ga ra(h)mah?

Misalnya ketika seorang kontak mempostingkan sesuatu yang menurutku kurang relevan, yaitu tentang idiom budaya yang ditelaah dari sudut agama, kurang relevan bagiku baik dari kondisi sosial maupun cara penyampaiannya, justru akhirnya aku harus ngomel2 disana. Hal itu dipicu juga sama komentator reseh yang main seblak ngequote seenak jidat komentarku buat dilabeli syirik. Sedangkan aku ga lagi sedang ngajakin TS (Thread Starter) bersyirik2 ria, aku sedang memberikan pandanganku terhadap sebuah pepatah lokal yang menurutku ga bisa diterjemahkan mentah2 lalu di taklid. Klo emang mau diterjemahkan mentah ya emang taklid beneran, tapi bisa jadi menggiring opini orang yang belum pernah mengetahui makna dari isi posting tersebut yang ikut mengecap ini itu.

Pada akhirnya ungkapan2 itu menjadi ga bermakna karena terlalu mudah untuk diucapkan, dan terlalu rancu karena sedikit2 bid’ah, sedikit2 munafik, sedikit2 syirik, kafir, dsb. Misalnya saja ketika disebutkan hari ibu tidak diajarkan dalam islam, ada yang menimpali bid’ah, hanya karena memang tidak ada di zaman nabi, aku jadi inget ketika KH Ahmad Dahlan menggunakan setelan formal dan beberapa Kiai yang tetep bersarung mendatangi muktamar di sebuah kota dengan kereta api, KHA diprotes beberapa kiai karena penampilannya,  kira2 begini dialognya

BACA JUGA:   Secangkir Kopi Dari Playa; Diaspora Cinta di Ujung Senja

Kiai: Apa Kiai ga takut make produk kafir ntar dikira pro penjajah?
KHA: Lha klo baju saya dianggap produk kafir apa kiai mau ke muktamar jalan kaki saja ga naik produk penjajah (Kereta Api)

Lalu klo sedikit2 apa yang berkembang diluar arab, atau ditemukan non muslim distempeli bid’ah hanya karena tidak ada dalam text book maka bisa jadi berdakwah di dunia mayaberarti bid’ah, sama bid’ahnya dengan kenduri sekarang ini, naik pesawat buat pergi haji bid’ah, duh lha nek kaya gini terus kapan umat Islam mau maju??

Aku sendiri ga mau terlalu berpusing ria menstempeli ini itu ini itu, lagian klo dipikir2 selama ini kita semua sholat ke arah Masjidil Haram padahal klo dterjemahkan mentah2 masjid = tempat sujud(tempat sholat) haram ya intinya ga boleh secara agama, mentahnya kira2 masjid yang ga boleh dipake karena haram, kok MUI bisa2nya tidak memfatwakannya haram, apa sekedar menyarankan ganti kiblat ke masjid yang halal apa yang makruf gitu?? atau coba klo Masjidnya diganti nama jadi Masjidil Halal, malah bisa2 dicongkelin sedikit2 trus dibungkus kayak roti. Halal dimakan, halal diperjual belikan, halal dicongkel, halal dimaling, halal dipipisin?? aku yakin nama Masjidil Haram dinamain bukan karena Haram buat disentuh, haram dimakan (mung wong edan sik doyan mangan bangunan mesjid) tapi memang ada makna lain dibalik itu dan memang ga bisa diterjemahin mentah2.

Tulisan ini aku tujukan untuk mengkritisi, bukan untuk menyalahkan monggo klo memang punya pendapat berbeda bisa disampaikan secara elegan, belajar berbagi ilmu tanpa tendensi merasa paling benar karena kita semua masih dalam tahap belajar

gambar dari shutterstock



DMCA.com Protection Status

rangka masjid al haram (1)

Post You May Also Like

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

2 tanggapan pada “Masjidil Halal

  • K Zaki

    (Juni 4, 2012 - 11:44 am)

    Like this mas Pri.

    • anotherorion

      (Juni 4, 2012 - 3:05 pm)

      nuwun zak

Berikan tanggapan anda