Mendefinisikan Sukses


Salah satu mata pelajaran muatan lokal yang ada di sekolahku adalah desain grafis, selama mengampu mapel ini aku selalu berusaha membuat anak menciptakan sesuatu yang nyata bisa dilihat, diraba dan ditrawang. Misalnya minta mereka membuat desain kemudian dijadikan produk jadi dalam bentuk pin, sticker, mug atau kaos, harapanku mereka nantinya bisa memonetize ilmu itu dengan menjual hasil karya mereka ke temen2 mereka seperti jaman teman-temanku dulu di SMA.

Eh, tapi kebanyakan anak masih menganggap hal semacam itu hanyalah tugas yang harus diselesaikan untuk memunculkan nilai mata pelajaran di akhir semester, udah. Belum banyak yang tergerak untuk mengamalkan ilmunya di lingkungan luar atau minimal sekolah. Hanya ada dua anak yang mau mengamalkannya di dunia nyata.

Yang pertama memutuskan putus sekolah dan menekuni pekerjaannya, agak disayangkan memang tapi aku sendiri mendukung keputusannya mengingat saat ngobrol bareng, dia sudah bisa menggambarkan apa tujuan hidupnya bagaimana cara meraihnya, dan tahapan-tahapan yang harus dilaluinya.

Aku lumayan terkesima dengan pemaparannya, dan sejak itu aku sendiri berusaha untuk tidak menghalangi keinginannya berhenti sekolah, karena aku yakin dia sudah memiliki apa yang ia butuhkan untuk mencapai kesuksesan, dan sekolah bukanlah tempat yang tepat untuk mengembangkan kemampuannya, dia butuh mempelajarinya secara nyata dari para praktisi di bidangnya.

Yang kedua masih tetap bersekolah, pernah beberapa hari enggak masuk dan kepergok dijalan olehku, setelah kutanyai ternyata dia sibuk menggarap beberapa order desain baju dari salah satu pabrik garment di daerah Sleman, ya dia sudah nemu pijakan untuk membuat portofolio profesionalnya sendiri, meski jelas, dengan efek samping mbolos sekolah, hal semacam itu bakal ditentang oleh pejabat dinas pendidikan manapun.

Nah, saat pertama masuk kelas X kemaren, aku memberikan gambaran sedikit tentang mata pelajaran ini. Apa yang bisa dihasilkan, tools apa yang perlu digunakan dan skill apa yang harus kita miliki untuk mencapainya. Dan anak-anak meski agak bingung sepertinya cukup antusias untuk mempelajarinya.

Berarti saatnya membuat mereka bingung! Hehe

Selepas memperkenalkan diri dan memperkenalkan mata pelajaran, aku menyuruh mereka mempersiapkan alat tulis dan kertas HVS putih atau kertas biasa juga boleh, aku meminta mereka membuat sebuah gambar yang mendefinisikan sebuah kata, tetapi tidak boleh menggambar grafiti/doodle kata-kata tersebut, karena jam pelajaran terpotong untuk istirahat kedua dan sholat dhuhur aku meminta mereka memikirkan dahulu apa yang ingin mereka gambar selama jam istirahat tersebut.

BACA JUGA:   sayonara multiply

Apa sih yang aku minta mereka gambarkan di kertas mereka?

.

.

Jeng – jeng

.

.

gambar pemandangan

Gambar pemandangan

Ah itu hanya lelucon bullshit sejak jaman kompeni yang hanya akan menghasilkan coretan berisi dua buah gunung dengan matahari bersinar menyembul di antara keduanya, sebuah jalan melintang di bawahnya dengan hamparan sawah di kanan kiri, sebatang pohon dan sebuah rumah dalam petak sawah tersebut. Diatasnya ada awan kintoun yang bentuknya lebih jelek dari motif megamendungnya klan Akatsuki, dan kawanan burung konyol dari segitiga yang jatuh tertelungkup. Karena itulah aku meminta sebuah gambar yang lain dari yang sama!

Ya! aku meminta mereka menggambarkan kata Sukses. Selepas jam istirahat dan sholat masih banyak anak yang belum memulai apapun di kertas mereka, mereka masih bingung dengan apa yang harus digambarkan dengan kata tersebut.

Menjelang jam pelajaran berakhir barulah mereka menggambar definisi sukses menurut mereka, atau lebih tepatnya menurut saran mbah Google, bisa kalian tebak gambarnya gak bakalan jauh dari opsi clipart manusia mengepalkan tinju ke atas mengenakan toga,  tangga ke atas, pintu emas, piala, kunci dan kotak bersimbol dollar. Damn you Google!

Beberapa anak menggambar kesuksesan identik dengan keluarga, rumah dan mobil. Ada yang menggambar sebuah kota dengan beberapa gedung pencakar langit, satu rumah, mobil, motor, jalan dan dirinya sendiri. Well, memiliki kota dan jalan pribadi sepertinya adalah kesuksesan yang dia impikan.

Tetapi satu yang paling aku suka, gambaran siswa perempuan yang membagi kertas gambarnya tersebut menjadi tiga bagian. Bagian sebelah kiri ada seorang anak yang mengenakan toga wisuda, bagian tengah adalah seorang engineer perminyakan dengan perangkat kerjanya, lengkap dengan topi lapangan, dan dibagian sebelah kanan, dirinya bersama kedua orang tuanya bergambar didepan Kabbah!

BACA JUGA:   Enggak Bisa

Anak tersebut sepertinya memahami apa yang ingin aku sampaikan tentang definisi sukses. Kesuksesan bukanlah sebuah dataran pada anak tangga tertinggi seperti hasil searching image di Google. Kesuksesan adalah setiap anak tangga itu sendiri, akan tetapi yang bisa dideskripsikan dengan jelas, seperti apa, kapan dan bagaimana untuk mencapainya.

Ia seolah ingin mengatakan, kesuksesan itu tergantung ada dimana kalian sekarang, jika kalian pelajar/mahasiswa, maka kesuksesan kalian adalah pada saat kalian dinyatakan lulus. Akan tetapi apakah cukup berhenti disitu saja, maka kita disebut sukses? tidak!

Sebaliknya, mengenakan toga hanyalah satu path kesuksesan yang harus ia raih dalam kehidupannya, selepas merayakan hari kemenangannya tersebut, ia bukanlah siapa-siapa di anak tangga berikutnya, sampai ia mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidang dan penghargaan sesuai kompetensi yang telah ia miliki selama menempuh jenjang pendidikan, maka kesuksesan berikutnya adalah menjadi sosok yang ada di potongan kedua dalam gambarnya. Seorang engineer, setelah itu? masih ada lagi kesuksesan lain yang menanti untuk diselesaikan pada tahapan berikutnya, dan anak tangga yang lebih tinggi akan selalu muncul sampai akhir hayatnya.

Oke, terkesan subyektif jika dilihat dalam scope yang lebih luas, tapi menurutku yang terpenting sebagai seorang guru adalah mengajarkan pada mereka, bahwa untuk mencapai kesuksesan, kita harus terlebih dahulu mengetahui kesuksesan seperti apa yang kita mau? cara seperti apa yang perlu kita tempuh, strategi yang bagaimana yang bisa membantu kita mewujudkan dan mempercepat tercapainya cita-cita tersebut.

Karena buatku, kesuksesan bukanlah sebuah kalimat abstrak menjadi anak yang berguna bagi keluarga, agama, bangsa dan negara! Kesuksesan itu adalah sesuatu yang nyata, dapat disentuh, dapat diraih, dapat di indera dan bisa kita deskripsikan wujudnya, tugas kita untuk menjabarkan menjadi indikator-indikator pencapaian, strategi dan metode agar kesuksesan itu tidak menjadi sesuatu yang utopis.


DMCA.com Protection Status

Post You May Also Like

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

4 tanggapan pada “Mendefinisikan Sukses

  • @bangsaid

    (Agustus 10, 2015 - 10:13 pm)

    Hohoho… Susah ya mas. Seumuran mereka sudah kadung ketergantungan sama si Mbah.
    Di sekolah saya kertas HVS putih itu wajib. Kita ngga pakai buku tulis seperti sekolah pada umumnya. Jadi setiap anak setiap hari bebas dengan idenya

    • anotherorion

      (Agustus 14, 2015 - 2:43 pm)

      Kenapa pake kertas hvs mas? Apa bisa meningkatkan kreatifitas ya?

  • Choirul Huda

    (Agustus 8, 2015 - 4:59 am)

    jadi ingat waktu sekolah dulu, mas…
    satu pertanyaan hingga kini, kenapa kalo anak2 bikin gambar itu selalu pemandangan gunung dengan di tengah2 matahari?
    aslinya, saya baru nemu pemandangan asli itu beberapa hari lalu 🙂

Berikan tanggapan anda