Mengakhiri Tahun Ajaran


Minggu ini adalah minggu terakhir tahun ajaran 2014-2015, yang berarti hari Sabtu besok wali murid kelas X, XI mendapatkan laporan hasil belajar dari putra putri mereka. Tahun ajaran 2014-2015 merupakan tahun yang lumayan pelik problematikanya dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Hal tersebut karena implementasi kurikulum 2013 yang dipaksakan di semester pertama, kemudian dianulir pada semester berikutnya. Jadi tahun ini siswa kami mendapat 2 jenis laporan yang berbeda, yaitu penilaian deskriptif ala kurikulum 2013 dan penilaian konvensional ala  KTSP.

Sejak awal tahun ajaran aku sudah wegah buat melakukan matrikulasi untuk anak2 kelas XI karena mereka tentunya belum pernah diajari materi kurtilas kelas X, aku keukeuh aja apa adanya untuk membelajarkan mereka di semester pertama dengan job yang ada, tentunya dengan aku mapping dengan materi KTSP yang sesuai dengan kompetensi yang harus dikuasai di kelas XI. Aku memang wegah ribet dengan alasan administratif macem-macem, yang penting mah anaknya paham, udah.

menulis raport manual tanpa aplikasi

Ternyata prediksiku benar, kurtilas hanya dipakai satu semester dan semester genapnya harus balik ke KTSP kecuali sekolah unggulan yang dipercaya sebagai pilot project K13. Sisanya kami harus balik lagi dengan materi-materi KTSP, toh aku nggak ngerasa repot, karena memang sudah aku kondisikan agar kurikulum mana saja yang jalan tetep kompetensinya udah aku tentukan.

BACA JUGA:   Daftar Buku Penelitian Karya Suharsimi Arikunto

Akhir tahun ini kami cukup disibukkan dengan aneka persiapan administrasi untuk akreditasi sekolah. Merepotkan sekali, karena banyak sekali hal yang harus dipersiapkan, meski sudah menghabiskan beberapa rim kertas print akan tetapi masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan. Sejak officialy menjadi guru di tahun 2010, baru tahun ini dapat kesempatan mengikuti kerumitan proses akreditasi.

Dari rumitnya proses akreditasi sekolah, aku baru menyadari klo sekolahku dan mungkin sebagian sekolah lain perlu untuk kembali mereorganisir diri, mendokumentasikan segala bentuk kegiatan dalam bentuk yang mudah diakses pihak berkepentingan dan terutama aman.

Dunia pendidikan masih sangat perlu berbagai perangkat lunak informasi yang dapat membantu menyiapkan, mendokumentasi dan mengarsipkan segala kegiatan sekolah, mulai dari yang mungkin terlihat paling sepele, pembuatan nomor urut surat sekolah secara otomatis, laporan presensi, pembuatan RPP, penyimpanan berkas digital, aplikasi raport dan lain sebagainya.

Betul bahwa sebagian besar sekolah telah menggunakan teknologi informasi dalam pendidikan tetapi masihlah terbatas dalam bentuk penggunaan digital learning, lewat laptop, proyektor, atau e-learning online, tetapi secara manajemen pengelolaan masih banyak yang mengandalkan cara manual, tidak terorganisir, tidak terintegrasi dan tidak terdokumentasi dengan baik untuk keperluan arsip maupun audit. Peluang besar untuk para mahasiswa informatika/ programmer untuk mengisi celah ini dengan karya-karya mereka.

BACA JUGA:   Posisi Menentukan Prestasi

Tahun ajaran mendatang, harapanku semoga ada perbaikan signifikan terutama dalam proses manajerialnya.



DMCA.com Protection Status

Post You May Also Like

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda