Mengawal Digital Native dalam Era Keterbukaan Informasi


Digital native adalah sebutan untuk mereka yang sedari kecil telah berkenalan dengan dunia digital, baik pada saat mulai belajar calistung atau bahkan sebelum mereka mengenal abjad. Anak-anak kita merupakan generasi digital native, sejak mereka lahir sudah bersentuhan secara langsung dengan teknologi digital, mulai dari handphone, komputer, laptop, tablet, kamera dan aneka perangkat digital lainnya. Sementara itu, masyarakat yang berusia 25 tahun ke atas umumnya disebut digital migrant, masyarakat yang mengalami masa peralihan dari masa pra digital menjadi masyarakat melek digital.

Perbedaan ini membuat orang-orang tua pada umumnya agak kesulitan untuk mengikuti perkembangan trend teknologi informasi, berbeda dengan generasi digital native yang memang sudah terbiasa beradaptasi dengan teknologi dan update-update terbaru. Akan tetapi, meskipun demikian bukan berarti digital native secara otomatis mampu menggunakan teknologi yang ada secara bijak, aman, efektif dan bermanfaat.

Di ranah social media misalnya, kita mengenal sosok Awkarin, yang dengan kegamangan usianya tidak memperhitungkan aspek sosial yang menjadi telah menjadi common knowledge para digital migrant, hal-hal yang dianggap tabu oleh digital migrant malah dipublish dengan bebas oleh Awkarin.

Sejatinya, kemunculan Awkarin dalam fenomena dunia maya ini membuka mata kita, bahwa anak-anak kita pada dasarnya masih tetap membutuhkan bimbingan dalam menggunakan teknologi informasi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kemampuan mereka dalam menguasai penggunaan tools dalam dunia IT tidak dibarengi dengan kesadaran mengenai adanya digital ethics awareness.


Sayangnya, budaya masyarakat kita cenderung reaktif saat menanggapi sebuah fenomena di dunia maya, keinginan untuk terlihat update dengan kondisi kekinian membuat masyarakat kita pun abai jangankan untuk melakukan crosscheck kebenaran suatu berita, untuk menimbang apakah informasi tersebut bermanfaat atau tidak untuk disharing ulang pun jarang dipertimbangkan, yang penting terlihat kekinian.

BACA JUGA:   Sebuah halaman putih

Tidak jarang aku melihat, para digital migrant, yang secara emosional seharusnya lebih matang menghadapi fenomena tersebut, bukannya berusaha untuk mengedukasi para digital native yang terlanjur mengambil pilihan fatal malah justru secara beramai-ramai melakukan bullying terhadap subyek fenomena tersebut. Menurut mas Donny dari ICT Watch dalam salah satu seminar tentang penggunaan internet menyatakan, hal ini terjadi karena adanya percepatan informasi yang sedemikian cepat bertemu dengan karakter orang Indonesia yang cenderung suka ikut-ikutan, main sharing, memperparah isu yang seharusnya kecil meledak dan menjadi fenomenal.

Stop Bully, Mulailah Mengedukasi

Padahal, anak-anak tersebut mungkin menyadari kesalahannya dan menyesal, ingin meminta maaf tapi malu dan tidak tahu harus bagaimana menyatakannya agar bisa diterima netizen yang sebelumnya tidak pernah dikenalnya, tetapi karena dibully secara terus menerus, secara psikologis mereka merasa tertekan dengan respon balik para stranger person yang tiba-tiba langsung menjadi haters mereka.

Pada beberapa isu mengenai penggunaan teknologi informasi yang tidak semestinya membuat para subyeknya harus berurusan dengan hukum, antara lain kasus pengunggahan gambar Presiden Jokowi, Sonya Depari dan Florence Sihombing. Ketidakhati-hatian dalam berekspresi di dunia digital membuat mereka terjerat hukum positif yang berlaku di negeri ini. Di satu sisi, jeratan hukum untuk para subyek tersebut memberikan awareness kepada masyarakat mengenai apa yang boleh dan tidak boleh di unggah ke dunia maya. Di sisi lain, hal tersebut menandakan bahwa memang ada ketidakpahaman netizen, terutama dari kalangan digital native yang menganggap pengunggahan konten maupun update status mereka tidak akan memberikan dampak apapun terhadap lingkungan dan diri mereka sendiri.

Lalu bagaimana tindakan kita sebagai bagian dari masyarakat digital mengenai fenomena semacam ini?

BACA JUGA:   Noda Membandel

buku panduan internet sehat internet baik cakap bermedia sosial

Untuk meminimalisir agar para pengguna internet tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan norma kesopanan, kesusilaan, budaya serta melawan hukum ini, butuh sinergitas dari seluruh stakeholder yang ada, tidak hanya pemerintah, swasta dan LSM, melainkan juga kita selaku netizen yang besosialisasi di dunia maya. Pemerintah lewat Kominfo, selain lewat berbagai sosialisasi dan edukasi terhadap netizen juga menerbitkan komik berjudul Cakap Bermedia Sosial, para programmer dari berbagai perusahaan membuat aplikasi parental control yang memungkinkan orang tua melakukan filter konten negatif di ponsel putra-putrinya, sementara pihak swasta dan LSM memberikan edukasi terhadap para pelajar, dengan menggandeng blogger, orang tua dan pendidik untuk bahu membahu membangun komunitas digital yang ramah, aman dan nyaman untuk anak.

Kedua, pada saat kita melihat ada digital native yang mengunggah disturbing content, jika memungkinkan, alangkah baiknya segera memberikan nasehat secara pribadi, bukan malah melakukan sharing provokatif, atau ikut melakukan bullying. Jika tidak, diam dan tidak menekan tombol share adalah pilihan yang bijak.

Ketiga, sebagai orang tua, kita perlu melakukan edukasi, pengawasan dan pendampingan terhadap anak kita dalam berinteraksi dengan orang lain lewat dunia digital. Ajak anak berdiskusi dan sharing mengenai aplikasi yang mereka gunakan, game terbaru, atau info yang beredar di social media anak. Arahkan anak agar bisa memperoleh manfaat dari penggunaan teknologi informasi, bukan sebaliknya menjadi pecandu dan korban penggunaan teknologi informasi.

Priyo Harjiyono

Penulis adalah seorang Guru SMK yang gemar menulis di anotherorion.com




DMCA.com Protection Status

Post You May Also Like

Tentang anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.
Tulisan ini dipublikasikan di refleksi diri dan tag , . Tandai permalink.

3 Respon untuk Mengawal Digital Native dalam Era Keterbukaan Informasi

  1. Diah berkata:

    Setuju sekali sama tulisan ini.
    Orang tua skrg hrus lebih mengerti ttg digital native untuk bisa membawa anak-anak dalam ranah aman.

    Kerja agak berat orang tua jaman sekarang

  2. Anisa AE berkata:

    Boleh banget tipsnya. Aku perlu banyak belajar agar lebih bijak.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *