Mengurangi Bounce Rate dengan Tag Artikel


Cara mengurangi bounce rate itu seperti apa sih? Sudah bikin artikel bagus di blog, sudah masang plugin related content di bagian bawah postingan tetapi, bounce rate kita masih saja tinggi. Baca juga apa itu Bounce Rate. Berarti memasang related content itu gak berfungsi dong?

Ya gak gitu juga sih. Bagaimanapun juga plugin related content/matched content digunakan untuk memberi tahu pengunjung jika kita memiliki artikel sejenis dengan yang sedang dia baca. Asumsinya, jika dia mau membaca salah satu artikel kita, maka sangat mungkin dia tertarik pada artikel lain yang juga sejenis.

Masalahnya adalah, banyak dari kita tidak cukup jeli melihat hal ini, sehingga peluang tersebut jarang sekali bisa kita maksimalkan dengan baik. Padahal jika kita mampu mendrive pengunjung untuk terus membaca artikel-artikel di halaman kita, dengan sendirinya aktivitas user itu akan membantu mengurangi bounce rate di blog kita. Ada gak sih cara menurunkan bounce rate yang efektif? Sebelum kita mencari di google mengenai tips menurunkan bounce rate pada blog, ada baiknya silahkan baca dahulu tulisan dibawah ini.

Aku seorang penyuka berita sepakbola, meski saat ini tidak pernah mau menonton siaran bola (karena jadwalnya terlalu malam, sibuk juga) tapi masih mengikuti perkembangan berita seputar sepakbola, siapa yang sekarang melatih Manchester United, atau ada gosip miring apalagi seputar pemain sepakbola, atau sekedar mengenang para idola yang sudah gantung sepatu.

BACA JUGA:   Baper's talk, ngomongin hal baper?

Saat aku terdampar di salah satu situs berita bola yang dishare di Facebook. Aku selalu mendapatkan related content sesuai dengan yang aku mau. Memang satu dua kali aku mendapat isi related content yang sama sekali gak nyambung dengan berita yang aku baca. Thats mean, pemilik situs itu kurang paham bagaimana meng-engage pembaca. Errrr semacam gak beda jauh sih sama yang baca situs itu sebenernya.

cara mengurangi bounce rate


Oke, Fain. Ketika aku baca sebuah artikel tentang Zlatan Ibrahimovic mencetak gol di liga champion, maka related article terkait disana seharusnya berupa salah satu poin di bawah ini

  1. Zlatan Ibrahimovic – sepak terjang, gol, karir, masa lalu, kehidupan di luar lapangan
  2. Manchester United – klub yang dibela Zlatan, rekan-rekan setim, Jose Mourinho
  3. Liga Champion – skor pertandingan, review pertandingan, klub2 yang lolos penyisihan

Di sini, harusnya juga. Aku gak perlu melihat berita kedatangan Michael Essien di Persib yang muncul di related content. Karena, Essien sudah tidak berlaga di Liga Champion, tidak satu tim dengan Zlatan, tidak berlaga pula dalam liga domestik yang sama. Saat aku memutuskan membaca soal Zlatan, maka aku sudah punya pre-asumsi bahwa aku bukan hanya akan membaca satu artikel mengenai gol tersebut, tapi juga artikel2 lain seputar review pertandingan, komentar pelatih, kekecewaan tim lawan dan seterusnya.

BACA JUGA:   Pembayaran Adsense Februari 2015

Darimana pemilik situs berita itu bisa menampilkan related content sesuai dengan kebutuhan persepsi pembaca? sedangkan related content sifatnya dinamis dan berubah-ubah.

Thats why they use tag or label!

Di WordPress, ada istilah category dan tag (disebut label dalam dunia blogspot) Kategori merupakan tema besar mengenai artikel yang sedang dibahas, apakah olahraga, finance, politik dan seterusnya. Sementara tag menunjukkan tema paling spesifik dan paling unik dari artikel itu. Artikel bola di atas, seharusnya memiliki kategori Sepakbola/Liga Champion – dan memiliki tag Zlatan Ibrahimovic, Manchester United, MU vs nama_klub_yang_dilawan. Dari sinilah ketika kita memiliki artikel lain seputar Zlatan, atau MU pasti akan muncul di related content. Bukan tentang tim lain yang ada di Indonesia.

Oke sekarang gimana dengan blog kita?

Anggaplah kita lagi ngomongin tentang fitur Zenfone Max, ada baiknya kategorinya Smartphone, lalu tag nya adalah Asus, Zenfone, Zenfone Max, bisa juga ditambahi tag spek RAM, Kamera, dualsim, dst. Buka lagi, artikel lama kita, perbaiki tag tag yang sekiranya lebih spesifik dan sesuai. Memang sih proses ini memerlukan waktu lama, apalagi jika blog kita sudah memiliki ribuan artikel. Tapi insyaallah hasilnya worthy. Dengan tag yang spesifik itulah kita bisa mengurangi bounce rate di blog kita.

Post You May Also Like

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *