Menimbang rasa kemanusiaan


Manusia menggunakan logika untuk bisa berpikir, diberi akal dan hati untuk bisa membandingkan mana yang baik dan mana yang buruk, memberikan penilaian pada suatu hal / tindakan, untuk kemudian memutuskan mana jalan yang akan ia ambil.

Akan tetapi sering kali manusia terkotak-kotakkan sendiri oleh persepsi yang mereka bangun sendiri, sehingga terkadang ada banyak hal yang tidak pas justru sengaja dibiarkan. Misalnya kemanusiaan.

Ada dua tragedi kemanusiaan yang terjadi akhir-akhir ini, pertama mengenai kisah manusia Rohingya yang terusir dari tanah airnya, dan kematian Angeline karena faktor drama ala sinetron, rebutan harta warisan. Kedua-duanya sama-sama mengiris rasa kemanusiaan kita, bahwa masih ada di luar sana orang-orang yang tidak seberuntung kita hidupnya, tidak dihargai kehormatan bahkan nyawanya oleh orang-orang yang berada disekitarnya.

rohingya need helps

Saat para nelayan Aceh, bahkan pemerintah berusaha menolong orang-orang Rohingya dengan memberikan makanan, pakaian, obat-obatan, membawa mereka ke tanah rencong untuk dilindungi, justru banyak manusia dari negeri kita sendiri yang mulutnya ember, mencemooh hal tersebut, bangsa sendiri tidak diurusin, malah ngurusin bangsa lain.

Sudahlah, hidup kita sekarang tentunya masih jauh lebih baik dari mereka, meskipun saat ini etnis Rohingya yang berada di pantai Aceh sudah bisa sedikit bersyukur, mereka mendapat bantuan dari pemerintah Indonesia, warga setempat dan lembaga internasional sehingga mereka bisa merasakan nikmatnya bersujud di atas sajadah dan menjalankan ibadah puasa dengan hati yang lebih tenang. Bukankah membantu mereka pun tidak membuat kita miskin?

BACA JUGA:   Jogja Semrawut versi Dek Khusnul

Kesan yang sama seringkali dilontarkan saat sentimen anti Israel menguat, umat muslim Indonesia senantiasa memberikan dukungan moril dan materiil bagi anak-anak dan warga Palestina yang menjadi korban kebiadaban zionis, eh masih aja ada yang sempat ngomong orang jauh diurusin, saudara sendiri kelaparan di NTT gak ada yang ngurusin.

Padahal aku sendiri haqul yaqin, orang yang mengeluarkan komentar itupun boro-boro melakukan tindakan berarti untuk mengurusi saudaranya sendiri yang kelaparan, hanya sekedar komentator yang akan berbunyi meski hanya ada seekor semut yang lewat di depan hidungnya.

Karena siapapun yang berangkat sebagai relawan ke daerah-daerah bencana di seluruh Indonesia pasti tidak akan berpikiran semacam itu, mereka datang hanya untuk memenuhi panggilan kemanusiaan, lepas dari atribut SARA_B, Suku, Agama, Ras dan Bangsa.

Sekarang, netizen kembali dihebohkan dengan perayaan pembantaian anjing dan kucing yang diselenggarakan di provinsi Yulan, China, hal ini memicu protes keras dari seluruh dunia, termasuk dari negeri kita sendiri. Yang aku heran adalah, orang yang dulu mencemooh pertolongan pada etnis Rohingya dan Palestina sekarang malah getol menyuarakan pertolongan pada anjing dan kucing tersebut.

BACA JUGA:   Diam bukan berarti emas

———agak blank kayaknya——–

Kasus Rohingya, Palestina, Angeline dan Anjing Yulan semuanya menunjukkan hal yang sama, rendahnya kualitas kemanusiaan sebagai manusia. Tidak ada satupun yang manusiawi. Maka aneh jika kita malah lebih mengedepankan peri kehewanan dibanding dengan peri kemanusiaan. Anjingnya ditolong, manusianya dibiarkan mati.


DMCA.com Protection Status

Post You May Also Like

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

2 tanggapan pada “Menimbang rasa kemanusiaan

Berikan tanggapan anda