Miss Slaves Universe


Ada pepatah lama jaman iki jaman edan, nek ra edan ra keduman. Pepatah kuno namun tidak pernah lekang dimakan waktu, perkembangan zaman makin kesini memang menunjukkan sikap semakin edan dan tidak beraturan. Pertumbuhan tingkat kesejahteraan manusia dan peningkatan fasilitas hidup ternyata tidak dibarengi dengan peningkatan nilai moral dan nilai sosial kita. Kemunculan terobosan dari bidang pendidikan dan teknologi rupanya tidak menjamin pengguna keduanya untuk menjadi lebih terdidik dan lebih berbudaya dibanding simbah-simbah mereka.

Definisi moral dan etika semakin hari semakin luntur dengan derasnya pola kapitalis dan konsumerisme, remaja kita semakin gaptek dalam mengenal kultur dan kebudayaan bangsa sendiri. Kita lebih sering melihat pendoktrinan massal terhadap budaya-budaya urban pop yang diimport dari segala penjuru dunia. Pola serba permisif dan toleransi digembar-gemborkan sebagai bagian perbudakan kapitalis sebagai gaya hidup modern yang hedonis.

Lebih sialnya, kebudayaan kita yang memang pada dasarnya permisif dan toleran terhadap orang lain merupakan sebuah idiom yang terbuka lebar untuk kepentingan kaum kapitalis ini. Lihat saja semakin banyak anak-anak muda kita mengadopsi kultur-kultur yang kurang sesuai dengan kepribadian bangsa. Dari sekedar budaya mabuk-mabukan dicampur dengan budaya shooping, hang out, ndugem, clubbing, ngedrugs, free sex semakin menggejala yang ternyata malah didominasi mereka-mereka yang berlabel lebih terdidik dibanding sebagian yang lain. Semakin banyak kegilaan yang mereka lakukan maka semakin tinggi pula prestise yang mereka dapat.

Konsep yang sangat brilian dalam metode perbudakan manusia, perbudakan hari ini tidak terbatas pada pembelengguan aspek fisik melainkan sudah bergerak ke aspek psikis. Seorang yang sudah memiliki pola pikir diperbudak tidak akan mengeluh kepada perbudakan yang terjadi padanya, tidak ada bukti fisik perbudakan dan tidak pula ada pemaksaan nyata, segalanya terjadi dialam bawah sadar dengan doktrin kontinyu dan terus menerus.

Salah satu contoh nyata yang baru saja terjadi adalah perbudakan berkedok pemilihan miss universe, mengapa saya sebut perbudakan? karena tidak lain kontes tersebut sama halnya dengan sayembara gladiator yang mempertarungkan budak dengan budak lain/binatang buas untuk dicari siapa pemenangnya. Perbedaannya adalah para gladiator sudah menyadari mereka adalah budak dan tidak memiliki pilihan untuk menghindarinya, sedangkan para kontestan miss universe merasa didaulat untuk menjadi budak tercantik di seluruh dunia dan memilih untuk menjadi juaranya.

Untuk dinobatkan sebagai miss universe syaratnya memang tidak main2, minimal wanita+cantik, langsing, pintar, high-educated, kepribadian menarik, komunikatif, sehat walafiat, dan bla bla bla lainnya yang mengindikasikan mereka pantas menjadi seorang ratu. Tapi cuma ada “dua syarat” tersembunyi dibalik kontes ini;

1. Harus tidak punya malu+harga diri
2. Mau ditelanjangi didepan umum

Syarat ini memang tidak ada dalam pengumuman/formulir yang bisa dibaca para kontestan tapi sepertinya semua calon kontestan sudah paham aturan mainnya, harus telanjang dan t ersenyum senang ditelanjangi.Untuk menelanjangi seorang tuna susila, laki2 hidung belang tidak perlu menghabiskan uang gaji bulanannya, tapi untuk menelanjangi wanita2 cantik dan pintar rupanya butuh dana bermiliar miliar. Dan bisnis ini jelas bukan bisnis main2, karena juga menghasilkan keuntungan yang berlipat2.

Yang saya heran dari kontes tersebut adalah mengapa para kontestan tersebut adalah wanita2 cantik yang cerdas? Apakah mereka tidak pernah dididik cara berpakaian yang sopan dan santun? apakah mereka tidak mengenal mata pelajaran agama dan pendidikan kesusilaan?Apa sih bedanya mereka dengan penari striptease yang bergoyang di atas meja diskotek?

Apa iya miss Indonesia yang berlaga di ajang miss universe patut kita sambut kembali kedatangannya dengan rangkaian bunga dan mendapat penghargaan seperti wanita2 cerdas lainnya di negeri ini? saya kok malah menyarankan mereka yang pernah ikut miss universe dan kontes buka2an aurat ini buat menawarkan diri jadi seorang stripteaser di club club malam, karena dengan adanya sertifikat sebagai kandidat miss universe saya yakin tidak ada satupun club2 malam tersebut yang akan meyianyiakan kesempatan tersebut dan menggaji mereka dengan harga biasa2 saja.





DMCA.com Protection Status

Tentang anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.
Tulisan ini dipublikasikan di me my self and I. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *