X
    Categories: travel

Pelangi Nusantara Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta


Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta, adalah agenda Tahunan yang diselenggarakan pada 5 hari terakhir perayaan tahun baru China sebelum Cap Go Meh. Pekan Budaya ini merupakan yang ke XII kalinya diadakan di Jogja. Acara ini bermula saat Ibu Muyati Gardjito, dosen Pertanian UGM hendak membuat buku resep masakan Tionghoa. Gayung pun bersambut, dan mendapat dukungan positif dari masyarakat Tionghoa di Jogja. Bahkan Sri Sultan menginginkan tidak hanya dibuat untuk kuliner, tapi juga untuk memperkenalkan budaya masyarakat keturunan Tionghoa di Jogja, sebagai bagian dari pencanangan Jogja sebagai City of Tolerance pada tahun 2002/2003.

Ketandan dan Sejarahnya

Kampung Ketandan adalah nama sebuah kampung yang terletak di sisi timur Jalan Malioboro, di kampung ini terkenal dengan toko-toko emas yang dimiliki oleh masyarakat peranakan Tionghoa. Di Kampung Ketandan inilah perhelatan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta diselenggarakan.

Ketandan, berasal dari kata Tondo, yang berarti petugas pajak. Lokasi kampung Ketandan mengacu pada salah seorang Kapiten muslim Tionghoa yang bernama Tan Jin Sing. Tan Jin Sing merupakan sendiri merupakan putra dari salah seorang Putri Sunan Amangkurat, raja Mataram dengan Demang Kalibeber, ayahnya meninggal saat ia lahir dan diadopsi oleh saudagar Tionghoa Oie The Long. Beristri dua, seorang dari etnis Tionghoa dan seorang istri dari kerabat Kraton Jogja. Tan Jin Sing sendiri menjabat sebagai Bupati di Era HB III dengan Gelar Kanjeng Raden Tumenggung Secodiningrat. Tan Jin Sing dibesarkan di keluarga Tionghoa, dan merupakan kerabat Kraton Jogja, sehingga tidak heran jika menguasai 5 bahasa, Jawa, Mandarin, Hokkian, Inggris. Salah satu jasa Tan Jin Sing adalah membantu Jendral Raffles memugar Candi Borobudur, Tan juga berjasa menjadi perantara HB III dengan Raffles agar tidak menyerbu kraton.

Atas jasanya, Sri Sultan memberikan Kampung Ketandan pada Tan Jin Sing dan etnis Tionghoa. Kampung Ketandan itulah yang dahulunya merupakan rumah Tan Jin Sing seluas 6600 meter persegi.

Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta XII

Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta XII akan diselenggarakan selama 7 hari terakhir perayaan Imlek. Menurut panitia PBTY XII Bapak Jimmy Sutanto, Pak Tjundaka Prabawa dan Pak Bekti, tahun ini acaranya spesial karena diselenggarakan lebih lama dari biasanya yang hanya 5 hari. Pada PBTY XII kali ini, acara yang diselenggarakan tidak sekedar menonjolkan kekayaan budaya yang dimiliki etnis Tionghoa di Jogja tapi lebih pada akulturasi budaya di Indonesia. Panitia juga mengundang komunitas etnis lain yang tinggal di Jogja untuk ikut ambil bagian dalam acara yang bertajuk Pelangi Nusantara ini. Panitia juga mengundang penari dari Jepang dan India untuk menyemarakkan acara yang akan digelar di Ketandan mulai 5-11 Februari mendatang.

Akulturasi budaya Tionghoa di nusantara ternyata cukup banyak lho, jajanan semacam lemper, wajik, jenang, bakpia merupakan contoh akulturasi masyarakat yang telah lama ada di negeri ini. Ini juga kenapa di Indonesia banyak cici yang make kebaya, karena mereka juga merupakan keturunan Jawa. Tradisi mudik sendiri, di dunia hanya ada dua, yang pertama Lebaran di Indonesia, dan Imlek di Tiongkok. Tuh kan, ternyata kita lebih banyak miripnya dibanding perbedaannya.

Kita ini satu ras sebenarnya, jika tidak percaya coba lihat bayi yang baru lahir selalu memiliki tanda biru di sekitar pantatnya. Itu karena kita sama-sama berasal dari ras Mongoloid. (Tjundaka)

Di PBTY XII nantinya akan ada pemilihan Koko Cici Jogja, tidak terbatas hanya untuk etnis Tionghoa saja lho, siapa saja boleh ikut, salah satu syaratnya menguasai bahasa Mandarin. Nantinya Koko Cici yang terpilih bisa membantu jika ada tamu resmi dari Tiongkok berkunjung di Jogja. Lalu ada pagelaran Wayang Potehi, Karnaval Budaya, Pameran Rumah Budaya Ketandan, Festival Kuliner Nusantara, Barongsai dan Dance Competition.

Untuk yang ingin mencari info lebih lanjut tentang PBTY XII ini bisa follow akun resmi panitia di

https://www.instagram.com/pekanbudayationghoayogyakarta/


harga sewa wisma pentingsari

Post You May Also Like

anotherorion: Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

View Comments

    • kampung Ketandan om, belakangnya Pasar Beringharjo, pusat penjualan perhiasan emas itu. Mampir pas acara PBTY om, ben gayeng rame