Menjadi Pendidik: Pendidikan dalam Sebuah Kacamata


Menjadi pendidik? kok mau sih?

Ya, memang terkadang pilihan menjadi seorang pendidik dipandang sebelah mata oleh teman dan orang disekitarnya, menjadi pendidik bukanlah sebuah perkara mudah, mengorganisir dan mentransfer pengetahuan kepada anak didiknya dan selanjutnya melakukan evaluasi membutuhkan ketelatenan untuk bisa menjadi seorang pendidik yang baik dan berkualitas.

Jika kita lihat tren menjadi pendidik saat ini sudah agak lumayan dibanding beberapa generasi silam, ketika menjadi pendidik itu bukanlah sebuah keinginan melainkan keadaan. Penghasilan seorang pendidik tidaklah seberapa, sehingga jarang orang mau mengabdikan dirinya untuk menjadi seorang pendidik, ya anak2 yang pintar lebih memilih bercita2 menjadi seorang insinyur, anak yang kuat bercita2 menjadi seorang pilot pesawat tempur, dan anak yang berada lebih memilih menjadi seorang dokter.

Lalu siapa yang menjadi pendidik?

Yang menjadi pendidik adalah orang2 yang secara kepandaian tidak sepandai teman2 insinyurnya, tidak sekuat teman2 pilotnya dan tidak semampu teman2 dokternya. Mungkin karena itulah, kualitas pendidikan di negeri kita sering disalip negeri2 tetangga yang notabene lebih muda usianya dari negara kita. Mau bagaimana lagi? menjadi pendidik bukanlah cita2 yang diharapkan rata2 anak di Indonesia.

Syukurlah, pasca era reformasi pendidikan menjadi isu yang sering didengungkan untuk dilakukan perbaikan, alokasi dana anggaran 20% dari APBN yang tertulis dalam produk hukum pemerintah sedikit banyak membuat para pendidik dapat bernafas lebih lega, berbagai kebijakan pro pendidikan mulai diterapkan, baik itu untuk infrastruktur sekolah, siswa maupun para pendidik dan tenaga kerja kependidikan.

Memang jika kita bicara soal idealnya, maka tentu kita belum mencapai kondisi ideal dalam dunia kependidikan kita, masih banyak sekolah bocor dimana2, masih banyak guru yang terpaksa nyambi agar asap dapur dirumahnya tetap mengepul, dan masih banyak anak usia sekolah yang belum menikmati bangku sekolah.

BACA JUGA:   Bocoran Soal UN 2015

Sebatas itu? tidak, beberapa sekolah swasta merasakan betapa sulitnya mendapatkan peserta didik, bahkan terancam gulung tikar karena ketiadaan siswa. Faktor keterbatasan fasilitas sekolah, minat jurusan seringkali menjadi alasan mengapa sekolah tersebut kurang laku dalam beberapa tahun terakhir, akibatnya jelas, proses pendanaan di sekolah menjadi terhambat.

Ya, bagi sekolah2 swasta yang penting mendapatkan murid dulu agar eksistensi mereka tidak digoyang pihak dinas pendidikan, terlepas apakah murid itu nantinya mampu membayar biaya pendidikannya atau tidak. Memprihatinkan memang ketika melihat teman2 guru di sekolah2 tersebut sering telat gajian, bahkan harus nombok untuk biaya operasional sekolah karena ketiadaan sumber dana.

Lalu bisakah kita berharap pada individu, organisasi, LSM, industri maupun pihak2 swasta yang concern dalam urusan pendidikan, ya, tapi tentu kita pun memahami keterbatasan2 yang ada baik dari segi pendanaan maupun tenaga lapangan dibanding dengan kompleksnya permasalahan pendidikan kita.

Di saat guru2 bersertifikasi dan sekolah negeri mendapat kemudahan akses pendanaan dari pemerintah, masih banyak tenaga pendidik honorer dan sekolah2 swasta yang kesulitan untuk bisa melaksanakan pembelajaran disekolahnya.

Menjadi seorang pendidik, adalah tugas yang berat nan mulia. Meneruskan estafet pengetahuan kepada generasi penerus, namun disisi lain mereka masih harus berputar otak untuk menyambung hidup keluarganya. Ya, bukan sebuah rahasia lagi jika gaji seorang pendidik honorer seringkali tidak sebanding dengan teman2 profesi lain, bahkan buruh sekalipun yang mendapat gaji UMR perbulan.

BACA JUGA:   menuju CPNS 2012

Dalam kamus para pendidik honorer, gaji mereka hanya dihitung minggu pertama, disitulah mereka bisa disebut pekerja pendidikan, tiga minggu sisanya mereka adalah relawan pendidikan yang melaksanakan tugasnya tanpa dibayar. Ya, jauh lebih baik nasib para pendidik di lembaga bimbingan belajar dan pendidik di kampus, yang gajinya dihitung setiap masuk kelas. Dan jujur, dari pengalaman saya di ketiga ranah pendidikan tersebut, saya menyadari bahwa menjadi pendidik di sekolah lah yang paling berat.

Lalu mengapa mereka masih tetap mau menjadi pendidik? bukankah mereka bisa saja mendapatkan penghasilan lebih dengan menjadi seorang buruh, pegawai kantoran atau meniti karir untuk kesejahteraan yang lebih baik. Yah saya tidak bisa menggeneralisir alasan2 apa yang mereka miliki mengapa tetap menjadi seorang pendidik.

Menjadi pendidik berarti menjadi seorang seniman, dimana ia harus mampu bukan hanya menjabarkan ilmunya di depan kelas, melainkan mengaransemen pengetahuan yang dimilikinya dalam sebuah bentuk yang mudah dicerna, memancing rasa ingin tahu, agar bisa menginspirasi dan memotivasi anak2 didiknya agar selalu haus pengetahuan.

Bagi saya pribadi, menjadi pendidik memang bukan tentang karir, ini tentang bagaimana saya mengamalkan ilmu2 saya agar tidak hilang ditelan waktu. Ya, cara termudah untuk mempertahankan pengetahuan yang kita miliki adalah dengan membaginya dengan orang lain, cara belajar yang paling efektif adalah mengajar. Tidak akan habis ilmu jika dibagi, justru ia akan terus bertambah dan menjadi amal kita kelak di akhirat.

gambar diambil dari sini dan sini, tulisan diikut sertakan pada kompetisi blog yang diselenggarakan Sampoerna School of Education



DMCA.com Protection Status

Post You May Also Like

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda