Pendidikan tinggi mubazir?


Pendidikan formal apalagi pendidikan tinggi lazimnya memerlukan biaya yang cukup besar, pun tidak semua orang berpendidikan tinggi punya kerjaan yang layak. Lihat saja jumlah sarjana menganggur yang lebih banyak daripada jumlah lulusan SD yang menganggur.

Kalau begitu rugi dong kuliah tinggi tinggi tapi gak ada hasilnya? iya betul. Tapi bukan berarti otomatis pendidikan tinggi mubazir. Manusia punya dua keunggulan yaitu otak dan otot, kedua nya bisa dipakai bekerja sama atau dipakai sendiri-sendiri. Pendidikan tujuannya adalah memberi pengetahuan dan memberadabkan seseorang. Meskipun tidak semua lulusan perguruan tinggi pintar dan beradab.

Pendidikan hakikatnya mengangkat harkat, derajat dan martabat manusia, terlepas pendidikan formal maupun non formal, semua orang butuh pendidikan. Masalah bagaimana lulusannya mau mengangkat harkat, derajat dan martabatnya sendiri itu persoalan tiap individu untuk mengusahakannya.

Orang yang berpendidikan rendah juga bukan berarti bodoh dan pekerja kasar, meskipun hampir sebagian besar memang bekerja kasar dan lebih mementingkan kekuatan fisik daripada kecerdasan otak. Saya tidak bilang semua, toh banyak lulusan SD jadi bos perusahaan dan mempekerjakan banyak pegawai bertitel sarjana dan magister.

Mari kita lihat cuplikan artikel berikut

Sewaktu perampokan di Guangzhou, China, perampok bank berteriak kesemua orang di bank: “Jangan Bergerak. Uang ini Milik Negara, Hidupmu milikmu.” Semua orang di bank menunduk dengan tenang. Ini yang disebut “Konsep Merubah Pikiran” Merubah cara berpikir yang konvensional.

Ketika seorang wanita berbaring di meja secara profokatif, perampok berteriak padanya “Beradablah, Ini perampokan, bukan pemerkosaan!” Ini yang disebut “Professional” fokus hanya kepada apa yang kamu dilatih untuk..

Ketika Perampok kembali kerumah, perampok yang lebih muda (lulusan s2) berkata kepada perampok yang tua (lulusan sd): “Bang, ayo kita hitung berapa yang kita dapat.” Perampok yang lebih tua bilang “Bego banget lo. Duitnya banyak gitu lama pasti ngitungnya. Malem ini lihat aja di TV bakal bilang berapa yang kita rampok dari bank!” Ini yang disebut “Pengalaman.” Sekarang pengalaman lebih penting dari gelar..!

Setelah perampok pergi, manajer bank bilang pada supervisor bank untuk menelpon polisi secepatnya. Tetapi supervisor berkata: “Tunggu! Ayo kita ambil $10juta dollar dari bank untuk kita dan tambahkan ke $70juta dollar yang sudah diambil dari bank”.

Ini yang disebut “Sambil Berenang Minum Air.” Merubah keadaan tak baik menjadi keuntungan anda!

Supervisor berkata: ” Akan sangat bagus bila ada perampokan setiap bulan.”

Ini yang disebut “Membunuh Kebosanan” Kebahagiaan personal lebih penting dari pekerjaan anda.

Keesokan harinya, Berita TV melaporkan bahwa $100juta telah dicuri dari bank. Perampok menghitung dan menghitung, tetapi mereka hanya dapat $20juta dollar. Perampok sangat marah dan komplain “Kita meresikokan hidup kita dan hanya dapat $20juta dollar. Pekerja Bank mengambil $80juta dollar dengan santai. Sepertinya mendingan menjadi teredukasi daripada perampok!”

Ini yang disebut “Pengetahuan bernilai lebih banyak dari emas” Manajer bank tersenyum dan bahagia karena kekalahan di main saham dapat di bayarkan oleh perampokan yang terjadi. Ini yang disebut “Mengambil kesempatan.” Berani mengambil resiko!

Perampok di atas menyesali hasil rampokannya yang tidak seberapa dibanding hasil rampokan para pegawai bank akibat dia merasa kalah latar pendidikannya. Sehingga harus terlihat lebih jahat dibanding para pegawai bank dan orang lain yang memanfaatkan kejahatannya.

BACA JUGA:   GoJek dan Selo nya Kemenhub

Ada satu kisah lagi, dahulu kala di Zaman Kaisar Alexander Agung ada seorang perompak yang sering melakukan perampokan di tengah laut. Kaisar pun berang dan mengirimkan armadanya untuk menangkap si perompak. Singkat cerita perompak tertangkap dan dihadapkan pada Kaisar.

K : Mengapa engkau berani merompak para pelaut di wilayahku bukankah itu sebuah kejahatan?

P : Ampun yang mulia, hanya karena hamba ini berperahu kecil maka hamba disebut perompak

K : Apa maksudmu?

P : Jika kaisar ingin menangkap perompak yang lebih berat dosanya, mengapa kaisar tidak menangkap diri sendiri? hanya karena anda memiliki perahu dan armada yang besar anda disebut kaisar dan bebas merompak negeri lain, sedangkan hamba bermodal perahu kecil hanya mampu merompak perahu kecil lainnya

Mengapa orang2 berpendidikan tinggi yang menjadi pejabat dan melakukan aksi korupsi selalu lebih terhormat dan diperlakukan semanusiawi mungkin sedangkan pencuri dan begal selalu dihakimi, dipukuli bahkan dibakar hidup-hidup.

Pendidikan, mampu menyelamatkan para koruptor dari bogem mentah para aktifis anti korupsi, sedangkan para pencuri nyawanya selalu diujung tanduk saat tertangkap.

BACA JUGA:   Jum'atan di Warnet

DMCA.com Protection Status

indonesiaku yg serba mubazir (1), pendidikan mubazir diindonesia (1), saya bukan orang berpendidikan tinggi (1)

Post You May Also Like

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

5 tanggapan pada “Pendidikan tinggi mubazir?

  • RoEl

    (Maret 31, 2015 - 2:03 pm)

    Sering denger dua cerita itu, tapi belom kepikiran akan sama implementasinya ke koruptor. Hehee..,,

    Mak jleb ini analisanya.., 😀

    • anotherorion

      (April 1, 2015 - 10:10 pm)

      hehe iyo mas dadi koruptor ana untunge #eh

  • Emakmbolang

    (Maret 21, 2015 - 12:13 am)

    Menohok banget nih paragraf yang terakhir. padahal Koruptor ngambil lebih banyak ketimbang ayam tetangga. But this is reality in our own country 🙁

  • Emak Pelancong

    (Maret 16, 2015 - 1:11 pm)

    Paragraf terakhir ngena banget. Nice share, mas. ira

Berikan tanggapan anda