Sandal Jepit


Alas kaki yang paling kita kenal dan familiar di seluruh jagat nusantara mungkin adalah sandal jepit, bagaimana tidak? saat kita kecil dulu, belum banyak merk alas kaki, sepatu yang booming hanya merk ATT, sendal merk swallow dan sky way. Merk merk lain barulah bermunculan pada akhir era 90 an.

Saat ini, meskipun para fashionita memiliki aneka pasang sendal dan sepatu dengan berbagai jenis, toh sandal jepit tetaplah memiliki pangsa pasarnya sendiri, dengan dipermak disana sini, menambahkan ketebalan, guratan-guratan anti terpeleset yang lebih canggih maupun variasi warna dan bentuknya.

Pada saat kita membeli sandal, pada umumnya kita mencari yang pas dan nyaman dipakai, baru kemudian menilik bentuk dan modelnya. Apakah cukup kekinian? mewakili kepribadian kita yang mungkin enerjik, cantik, casual dan lain sebagainya, selanjutnya baru bicara harga, apakah sendal tersebut cukup pantas kita bayar dengan harga yang sesuai atau termasuk kemahalan untuk ukuran kantong kita.

Kalau aku sendiri soal sandal enggak terlalu macem-macem, asal nyaman, kuat dan awet saja sih. Aku juga memilih bahan yang kira-kira kedap air, jadi jika basah kaki ini tidak harus berlama-lama merasakan butiran air yang masih tertinggal di sela-sela sendal.

BACA JUGA:   Permainan monopoli

sandal jepit swallow

Pada awal pemakaian, kaki kita mulai beradaptasi dengan bentuk sendal tersebut, entah jepitan di antara jempol dan jari telunjuk kaki, atau soal gelombang pressure sendal maupun bentuk dan bobot sendal secara keseluruhan. Sama halnya seperti sepatu, beli high heels yang satu tentu beda rasa pertama dengan high heels sebelumnya. Ini soal pembiasaan saja.

Lalu setelah pemakaian sedemikian lama, kaki kita mulai menerima apa adanya, mulai menyamankan diri dengannya dan melangkah lebih lincah seperti biasanya.

Kenapa tiba-tiba aku ngomongin sendal coba?

Oh ya, pada dasarnya ini hanya sebuah perumpamaan terhadap psikologis kita ketika memulai sesuatu yang baru, entah memulai bekerja di perusahaan yang baru, atau memulai hubungan dengan seseorang yang baru.

Pada awalnya, mungkin kita akan merasa sangat kaku, masih kesulitan untuk mengikuti ritme dan irama yang ada, budaya kerja perusahaan baru jelas sekali berbeda dengan perusahaan terakhir yang kita tinggalkan. Pacar/ kekasih baru tentu punya perbedaan dengan para termantan kita di masa lalu. Semua butuh adaptasi pada mulanya.

BACA JUGA:   Golden Compas

Akan tetapi karena setiap hari kita berada disana, menggunakan sandal yang sama, bekerja dengan budaya kerja yang sama, dengan pasangan yang itu itu juga, pada akhirnya sadar atau tidak sadar kita mulai mengadaptasi diri kita, mensuggesti diri kita sendiri tentang kenyamanan yang baru kita pelajari di awal perkenalan.

Pada akhirnya, semua itu berakhir pada kegunaan, fungsi dan manfaatnya. Sebuah sandal adalah alas kaki, semahal apapun ia, kita tidak akan pernah memakainya di telinga kita, betapapun repotnya kita mencari cari yang paling cocok dengan kita, setelah kita punya toh kita tetap harus beradaptasi dengan karakteristik sendalnya dan mulai menghilangkan rasa ketidaknyamanan dengan sendal itu dengan sendirinya.

Semua orang akan merasakan hal yang baru, jadi jika memang harus mencoba hal baru, tidak perlu kuatir soal ketidaknyamanan, pada akhirnya kita pun akan nyaman sendiri karena terbiasa.

Jika sandal kita masih berfungsi sebagai mana mestinya, tidak perlu memaksakan diri berburu sendal yang baru.


DMCA.com Protection Status

macem sendal (1), sandal jepit (1)

Post You May Also Like

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

2 tanggapan pada “Sandal Jepit

  • Katerina

    (September 7, 2015 - 8:14 am)

    Analogi sendalnya dalem

    • anotherorion

      (September 9, 2015 - 10:27 am)

      jadi inget iklan tivi yang sendal itu lho 😀

Berikan tanggapan anda