Saving Gold


Uang mungkin adalah alat pembayaran yang sah dan diakui di satu negara, pun di negara yang lain, uang diakui nilainya dan dapat digunakan untuk membeli sebuah produk maupun layanan jasa. Meskipun begitu, aku ngerasa uang pada prinsipnya tidak memiliki nilai tawar yang pasti.

Jaman dahulu ketika konversi mata uang logam ke kertas, dengan tujuan efisiensi pembawaan dan keamanan, untuk menjamin nilai dalam mata uang kertas, digunakanlah emas sebagai cadangan nilainya. Maksudnya, ketika sebuah bank sentral dalam suatu negara mencetak satu lembar uang, maka negara tersebut harus menambah cadangan emas seharga nilai yang tertera pada uang tersebut.


Misal jika, saat ini harga emas per gram di kisaran 500ribu rupiah, maka untuk mencetak uang 100ribuan sebanyak lima lembar saja, negara harus menambah cadangan emas sebesar satu gram. Hal ini ditujukan agar nilai mata uang tersebut terjamin dan tidak dipermainkan.

Negara2 dunia seperti Jerman, Yunani, Hungaria, China, dan Zimbabwe pernah mengeluarkan pecahan uang dengan nominal gila2an, yaitu dalam milyar dan trilyun, negara terakhir, menerbitkan uang pecahan 100 trilyun dollar Zimbabwe, kelihatannya besar ya, klo 100 trilyun itu dalam rupiah, tapi tahukah harga sebutir telur ayam disana cuma 6 milyar??? bayangin aja pegang duit 6 milyar tapi ternyata cuma bisa kepake buat beli telur sebutir. Artinya nilai besar dalam mata uang tersebut tidak sebanding dengan kemampuan beli yang diharapkan.

fine gold emas LM batanganKenapa hal ini terjadi? Karena saat ini, mata uang yang beredar tidak lagi dijamin oleh cadangan emas, kenaikan atau penurunan nilai tukar dan daya beli mata uang, praktis hanya mengikuti berbagai kebijakan moneter, kelangkaan minyak, perang, daya beli, kegagalan pembayaran utang dan lain sebagainya. Waktu kecil, duit jajan itu cukup bawa dua ratus perak, sekarang klo didompet cuma ada duit 20ribu aja mikir mau ngeluarin motor, takut ntar motornya mogok/ kenapa2 n gak punya duit.

Karena nilai mata uang yang labil n cenderung tergerus dari tahun ke tahun, merencanakan keuangan buat jangka panjang dengan mengandalkan uang jelas bukan solusi yang bagus menurutku. Klo sekarang aku nyimpen duit 6 juta buat pendidikan anak kelak, bisa aku pake beli laptop 14 inch yang lumayan, pada waktunya paling besok cuma kepake buat beli netbook yang second.


Pada dasarnya harga selalu naik, dan nilai uang cenderung turun. Karena itu kita butuh alat lain untuk merencanakan keuangan. Misalnya emas atau tanah. Harga emas dan tanah cenderung naik, emas sendiri kenaikannya setiap tahun selalu ada dan sedikit lebih besar daripada kenaikan harga bahan pokok. Dengan menggunakan asumsi itu, kelak selisih positif nilai emas dan harga kebutuhan dengan sendirinya akan membesar. Sementara selisif antara nilai uang dan harga kebutuhan selalu selisih negatif. Dan akhirnya dengan menggunakan nilai emas, harga kebutuhan pokok cenderung akan turun, bukan naik.

Sebagai contoh, aku nemu brosur tentang Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji / BPIH tahun 2005 sebesar 24 juta, atau setara 124 gram emas, pada tahun 2013 BPIH menjadi 34 juta, naik 10juta dalam 8 tahun menggunakan satuan rupiah, tetapi dengan nilai emas tahun 2013 hanya setara 69 gram emas, artinya BPIH turun hampir 50% dari sudut pandang nominal emas.

Dari situ aku ngerasa yakin klo nilai emas, bagaimanapun juga kemungkinan terdegradasi seperti nominal uang kertas hampir dikatakan tidak ada. Menyimpan tabungan dalam bentuk emas layak dipertimbangkan untuk kebutuhan jangka menengah dan panjang. Lebih bagus lagi klo menabung emasnya dalam bentuk dinar atau logam mulia batangan, bukan perhiasan untuk menghindari potongan biaya pembuatan yang sebenernya menurutku cuma permainan toko dan pembuat perhiasan.


DMCA.com Protection Status

Post You May Also Like

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda