X
    Categories: Indonesiaku

Semesta Gelar Budaya Sendangagung


Jogja terkenal sebagai daerah istimewa, istimewa bentuk pemerintahannya, istimewa budayanya dan juga istimewa orangnya. Pada Hari Kesaktian Pancasila, rekan-rekan blogger Jogja diundang oleh pemerintah Desa Sendangagung, Minggir, Sleman untuk mengikuti acara Gelar Budaya Sendangagung di Lapangan Sendangagung, Minggir. Desa yang terletak di sisi timur Kali Progo ini merupakan salah satu rintisan desa budaya. Pagelaran Budaya ini selain ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada para seniman dan pelaku industri kreatif juga untuk nguri-nguri kabudayan jawi.

Desa Sendangagung yang terdiri dari 15 pedukuhan, dengan populasi 7900 jiwa, merupakan gabungan dari tiga desa di Kecamatan Minggir, yakni Desa Minggir, Nanggulan dan Kliran. Ketiga desa tersebut memiliki potensi wisata masing-masing. Minggir, memiliki kerajinan batik, sanggar seni budaya serta kelompok tani organik, Kliran memiliki top rafting arung jeram Kali Progo, tatah wayang dan kerajinan bambu. Sedangkan desa Nanggulan memiliki petilasan Tunggul Wulung, produksi wingko babad dan sentra budidaya ikan air tawar. Ketiga potensi desa terdahulu tersebut disajikan dalam Tari Blengketan (Unification Dance) dalam Gelar Budaya Sendangagung. 

tari blengketan

Dalam Gelar Budaya Sendangagung, ditampilkan berbagai kesenian dan tradisi dari setiap pedukuhan, misalnya Tari Jebes Jues, Jathilan, Teater Anak, Dolanan, Macapat anak, Tari Tayub, Shalawatan, Upacara Wiwit, dan masih banyak lagi. Yang membuat aku cukup terpesona adalah kenyataan bahwa di Sendangagung, regenerasi seni tradisi ternyata masih sangat terjaga. Hal ini dibuktikan dengan para pemain dari sebagian besar kesenian yang di tampilkan oleh anak-anak usia SD-SMP, sepertinya kita bisa berharap kelak setelah ditasbihkan sebagai Desa Budaya, kesenian-kesenian Sendangagung tetap menjadi daya tarik utama desa wisata.

Disamping pagelaran kesenian di atas panggung, pemerintah desa juga mengakomodir para perajin kuliner dan cinderamata untuk ikut menyemarakkan gelar budaya dengan menampilkan kreasi-kreasi terbaiknya. Di sentra kuliner terdapat jajanan pasar, wingko, telor asin, kue mochi, sementara di sentra kerajinan terdapat tatah wayang, batik Shibori, kerajinan anyaman bambu dan kerajinan bonggol jagung.

Wait!!! Bonggol jagung?

Yep, di tangan bapak Stefanus Indri, bonggol jagung yang merupakan sampah disulap menjadi aneka kerajinan, terutama untuk lampu hias. Masterpiece dari kerajinan ini adalah miniatur Menara Eifel yang tersusun dari bonggolan-bonggolan jagung tidak terpakai. Menurut pak Indri, ide membuat bonggolan ini didapat setelah melihat kerajinan yang sama di daerah Bogor. Bonggol jagung yang berasal dari Kulon Progo lalu di bawa ke Sendangagung dan dijadikan aneka kerajinan lampu hias.

lampu hias itu dari bonggol jagung semua lho

Sementara itu mbah Kiyat, menampilkan batik hasil kreatifitasnya, batik yang diberi nama Shibori ini bukan batik tulis/batik cap, melainkan batik celup. Untuk membuat motif pada kain batiknya, mbah Kiyat terlebih dahulu melipat kain batiknya menjadi segitiga atau segi empat, lalu dicelupkan ke dalam larutan pewarna.


proses pembuatan batik celup Shibori

Setelah pagelaran budaya selesai, tim pemerintah, seniman, perajin dan blogger berkumpul bersama di Kantor Desa Sendangagung guna melakukan evaluasi acara seharian tersebut. Acara menghadirkan tim dari Dinas Kebudayaan DIY, antara lain Bapak Susilo, Ibu Tri dan Romo Yud, dari evaluasi ini banyak sekali masukan berharga dari tim Dinas Kebudayaan Provinsi untuk para pelaku budaya di Sendangagung.

Untuk kami sendiri para blogger juga jadi tahu lebih banyak mengenai ciri khas produk budaya, misalnya, filosofi baju takwa yang diciptakan Kanjeng Sunan Kalijaga:



  1. 2 kancing di dada merupakan dua syahadat
  2. 6 kancing di leher adalah jumlah rukun iman dalam islam
  3. 5 kancing di tangan merupakan jumlah rukun islam
  4. 3 kancing yang menutup badan merupakan tiga nafsu yang harus dikendalikan

Disamping itu, tim Dinas Provinsi memberikan contoh penggunaan pakaian adat yang sesuai dengan karakter Jogja, misal penggunaan beskap bermotif bunga, hanya dapat digunakan oleh keluarga Sultan, atau abdi dalem yang hendak sowan untuk menerima tugas kerajaan. Batik motif parang rusak hanya boleh digunakan oleh keluarga inti kerajaan, sedangkan selendang tayub untuk penari DIY hendaknya memiliki ujung polos, posisi menyandang keris, penggunaan ikat, blangkon dan selop juga dipaparkan dalam evaluasi tersebut.

Hari berikutnya, rekan blogger di ajak berkeliling desa Sendangagung, melihat lokasi cagar budaya dan menyaksikan demo pembuatan batik Shibori, tepat di Hari Batik tanggal 2 Oktober. Tidak lupa, panitia membawakan buah tangan berupa batik Shibori dan Wader Kali Progo yang ukurannya lebih besar dari ikan wader di daerah lain.

Maturnuwun buat Bapak Heru Prasetyo Wibowo selaku kades Sendangagung, tim panitia Gelar Budaya desa Sendangagung, Sanggar Seni Karawitan Donosumarjo, Batik Shibori dan masyarakat Sendangagung yang telah memberikan banyak inspirasi bagi para bloger yang hadir dalam acara tersebut. Maturnuwun


kerajinan bonggol jagung (1), KR-Istemewa 9 november 2016-shibori (1), kreatifitas menara miniatur dari bambu (1)

Post You May Also Like

anotherorion: Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

View Comments

  • Baru tahu Jogja bagian barat punya sesuatu yg begini ya. Itu dari janggel jagung apa nggak busuk ya? Tahan berapa tahun ya kerajinannya?

    • Dikeringkan ngasi beneran kering mbak. Njuk dicat pake melanin biar mengkilat. Klo ketahanan blm tahu soale produk ini baru mulai produksi 8 bulan yg lalu

  • Jathilan itu kayak jaranan ya... baru tau juga kalaubaju Takwa ala Kanjeng Sunan Kalijaga itu ada filosofi dibalik jumlah kancingnya