Tolong Jangan Hukum Guruku


Beberapa minggu kemaren sempat denger kabar dari adik kelas di SMP klo salah seorang guru kami dulu tersangkut kasus kekerasan. Guru tersebut di tahan dengan dakwaan melakukan kekerasan terhadap siswanya yaitu menjewer telinga seorang murid sampe berdarah. Adik kelasku terlihat sangat senang dengan kejadian itu dan nyukur2i kelakuan pak guru yang memang sejak jaman kami SMP pun terkenal guru yang paling ringan tangan.

Aku masih ingat jaman SMP dulu beliau guru yang paling menyeramkan di sekolah karena yang paling ringan tangan, gampang ngeplak, gampang njewer anak2 yang ketauan tidak tertib, dulu aku sendiri sempet ngerasain dikejar2 beliau gara2 nggak ikut upacara, meskipun waktu itu dari 30 anak cuman aku yang berhasil lolos. Ada yang ketahuan ngerokok di warung trus rokoknya diinjek, besoknya ternyata rokok yang diinjek itu masih disimpen pak guru trus mereka disuruh ngerokok lagi rokok2 itu. Aku inget beberapa temenku yang sembunyi di atas atap kelas 1 sambil ngerokok, dan gelinya karena atapnya rapuh mereka akhirnya jatuh semua ke dalam kelas, mereka akhirnya di strap disuruh berdiri di lapangan dengan satu kaki seharian. Aku sendiri juga beberapa kali sempat merasakan kekerasan dari beliau.

Tapi meskipun guruku ringan tangan beliau ga pernah sekali2 melakukan tindak kekerasan selama proses belajar mengajar, ga pernah ngeplak atau njewer anak di dalam kelas, semua yang dilakukannya pasti di luar kelas dan korbannya pasti kami2 yang doyan mbolos, sengaja ngeluarin baju, sengaja ga pake kaos kaki/kaos kakinya di pendek2in sampe bener2 masuk semua ke sepatu. Dan praktis semua terjadi karena kesalahan kami sendiri.

Sebenernya aku sangat menyayangkan jika beliau pada akhirnya harus ditahan dengan dakwaan melakukan tindak kekerasan terhadap anak didiknya. Memang aku akui beliau cukup ringan tangan, pun demikian sikap tersebut hanya berlaku jika kami bandel/melanggar aturan. Selebihnya beliau adalah seorang guru yang periang dan kreatif. Aku yakin insiden berdarah tersebut bukan semata faktor kesengajaan hanya sebagai bentuk perhatian beliau terhadap murid2 yang bandel.

Bapak dan almarhum ibuku juga seorang guru, aku pun kelak ingin menjadi guru, aku merasa prihatin dengan kondisi pendidikan yang demikian itu. Prihatin karena bentuk kekerasan tersebut kemudian dijadikan alasan untuk melakukan tindakan hukum. Tentu tindakan kekerasan tersebut tidak dapat selamanya dibenarkan, bahkan bisa menimbulkan sikap dendam seperti yang dirasakan adik kelasku meski kejadian itu sudah bertahun2 yang lalu. Pun harus kita sikapi bersama dengan arif bahwa tugas seorang guru tidaklah mudah menghadapi anak2 bandel seperti kami, himbauan dan nasihat tak akan pernah cukup efektif untuk membuat adik2 kita jera melakukan kenakalan2 di sekolah. 

Aku sendiri sempat merasakan kebandelan anak2 STM waktu praktek mengajar, meskipun tidak semuanya tetap saja ada beberapa yang menyebalkan bahkan tanpa malu2 mereka melakukan tindakan yang tidak etis misalnya minta dicarikan film porno, nantang mabok dll. Sebagai sesama anak muda aku bisa memahami pikiran2 mereka yang cenderung masih labil dan cenderung merasa “ingin diakui” ingin cepat mendapat tempat di dalam lingkungannya. Meskipun aku waktu itu merasa tidak perlu marah menanggapi kekonyolan mereka tetap saja ada harga diri sebagai seorang pendidik yang terlecehkan oleh sikap mereka. 

Aku yakin orang tua murid pun belum tentu mampu mendidik anak dengan tanggung jawab seorang guru di sekolah, dimana para guru tidak hanya berhadapan dengan satu dua anak saja, tapi puluhan bahkan ratusan siswa yang tidak hanya butuh belajar tapi juga butuh di didik supaya kelak bisa menjadi anak yang berguna. Seorang guru dituntut untuk menjadi orang yang sempurna dan tanpa cela baik dilingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakatnya. Karena seorang guru adalah seorang panutan, seorang yang digugu dan ditiru dalam masyarakatnya, mereka dituntut memiliki kompetensi yang mumpuni dalam berbagai bidang, sedangkan mereka sendiri memiliki permasalahan yang sama kompleksnya sebagai seorang manusia dalam lingkungan masyarakat dengan para wali murid.

Sedikit insiden fisik tersebut hendaknya bisa dimusyawarahkan, toh sekarang tiap sekolah memiliki komite sekolah, punya pengawas sekolah, apa tidak lebih baik permasalahan ini tetap diselesaikan dalam ranah pendidikan saja? daripada melakukan tindakan kriminalisasi yang justru merugikan siswa2 dan guru2 lain karena ada guru yang terpaksa tidak dapat menjalankan tugasnya karena meringkuk di sel tahanan

Apa ini yang kita mau sebagai konsumen dunia pendidikan? memenjarakan sebanyak mungkin guru yang melakukan tindakan fisik terhadap siswanya?? dalam beberapa kasus dimana guru melecehkan murid2nya tentu ini adalah tindakan kriminal dan aku sangat setuju guru2 brengsek semacam itu harus masuk bui, tapi jika kasusnya hanya karena siswa dijewer terlalu keras sehingga melukai siswa lalu berlanjut ke masalah hukum sepertinya kurang adil. Sedangkan aku yakin insiden sampe berdarah ini bukan faktor kesengajaan.

Lalu bagaimana dengan kasus kekerasan yang dilakukan siswa SD pada adik2 kelasnya yang sekarang ini sedang ditelusuri pihak kepolisian, akankah pelaku dihukum dengan hukuman penjara seperti halnya yang pernah terjadi di Medan? atau memang kita akan melihatnya sebagai sebuah kasus yang seharusnya diselesaikan secara internal oleh dinas pendidikan dan pihak2 terkait daripada mengoutputkannya pada permasalahan hukum?

Bukankah lebih manusiawi jika guru tersebut dikenakan sanksi profesi seperti yang diterapkan di lingkungan profesi2 yang lain? boleh jadi sanksi tersebut adalah melalukan kegiatan sosial yang sedang dicanangkan dinas pendidikan setempat, memberikan les privat gratis kepada siswa2nya selama waktu tertentu. 

Semoga apa yang hari ini terjadi pada pak guruku di sel tahanan menjadi bahan renungan kita bersama, mari kita perbaiki pendidikan kita dengan cara2 yang baik pula, karena guru pun adalah seorang manusia yang memiliki kekurangan dan masih butuh banyak belajar untuk bisa menjadi bagian dari lingkungan pendidikan. Bagiku guruku tetaplah seorang pahlawan tanpa tanda jasa kapanpun dan dimanapun beliau berada.


DMCA.com Protection Status

Post Author: anotherorion

Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda