Barista Inklusif, Karena Kopi Kita Setara

Barista inklusif, mendengar kata barista maka kita akan segera mengingat mas-mas yang berdiri di belakang bar mempersiapkan kopi pesanan kita. Kata barista sendiri berasal dari bahasa Italia yang artinya pelayan pelanggan. Dan kata inklusif, apa yang menarik dari kata ini?

Sebagai seorang pendidik, kata inklusif tidak terlalu asing buatku, kebetulan juga sekolah tempatku mengajar juga memiliki program inklusi. Inklusif sendiri artinya kurang lebih adalah memberikan perlakuan yang sama, akses yang sama pada orang difabel. Rasa penasaran ini yang membuatku bergerak ke arah Besi, Jalan Kaliurang. Tepatnya di halaman Parkir Panti Rehabilitasi Yakkum. 

Bertempat di PR Yakkum ini telah diselenggarakan pelatihan barista inklusif untuk peserta yang berasal dari difabel, penghayat kepercayaan dan korban kekerasan di masa lalu. Pelatihan yang digawangi oleh Program Peduli ini bertujuan untuk memberikan kesempatan yang sama pada rekan-rekan minoritas agar dapat bekerja dan berwirausaha seperti masyarakat lainnya.

Hadir dalam kesempatan itu Benzbara novelis yang kemudian menjadi penyeduh kopi, Frischa Aswarini, salah satu penulis ide Filosofi Kopi 2, Ranie Hapsari Project Manager Program Peduli dan Eko Sugeng, salah satu peserta pelatihan Barista Inklusif.

Pada akhirnya kita semua akan difabel

barista inklusif

Ada yang menarik dari pernyataan Benzbara waktu itu, Pada akhirnya kita semua akan difabel. Baik karena usia atau penyakit, kita akan mengalami apa yang teman-teman difabel rasakan. Dan karena itulah kita perlu mengasah rasa empati kita kepada rekan-rekan penyandang difabel maupun minoritas lain agar yuk jangan diskriminasikan mereka. Mereka mungkin difable tetapi belum tentu tidak bisa melakukan hal-hal yang bisa kita lakukan.

BACA JUGA:   Sari Husada Berbagi Impian

Kenapa Barista Inklusif?

Ranie Hapsari sendiri menyatakan, kenapa memilih barista sebagai pilihan program untuk rekan-rekan peserta pelatihan. Karena memang saat ini penggemar kopi banyak sekali, mulai dari kopi rumahan hingga di kafe. Dan coffee shop sendiri saat ini sudah menjamur sedemikian pesat. Di Jogja sendiri saat ini ada 700 coffee shop yang menawarkan berbagai ragam menu kopi. Jadi pelatihan barista inklusif ini memiliki potensi yang baik di masa kini. Program Peduli sendiri adalah program yang ditujukan untuk orang-orang minoritas seperti difabel, anak-anak rawan putus sekolah, korban kekerasan dan pelanggaran ham, penghayat kepercayaan serta waria.

Acara yang dikemas santai ini juga menampilkan fun battle antar rekan-rekan barista dan penggemar kopi untuk menyajikan kopi dalam waktu sepuluh menit saja. Hari itu dengan kopi, kami merayakan kesetaraan, dan program-program Barista Inklusif yang digagas Program Peduli dan PRYakkum ini adalah jalan untuk menuju Indonesia bebas diskriminasi.

 

News Reporter
Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.