Benarkah Orang Jahat adalah Orang Baik Yang Tersakiti?

Saat hingar bingar film Joker diputar, sejujurnya aku tertarik untuk mencari tahu siapa orang dibalik sosok Joker. Di waralaba DC sendiri, Joker tidak memiliki identitas, Joker menjadi semacam simbol anonimitas untuk kemuakan terhadap aturan sosial, mungkin mirip seperti topeng Vendetta yang akhirnya menjadi simbol para hacker dibalik topeng anonymouse. Ada dua karakter Joker yang dikenal di dunia DC pertama Jack Napier yang diperkenalkan tahun 1989, dan yang kedua yang sekarang diingat dengan baik oleh para penggemarnya, Arthur Fleck.

Spoiler Film Joker

Aku penggemar spoiler, berbeda dengan kebanyakan orang yang menyukai elemen kejutan saat menonton film, aku adalah tipikal orang yang tidak menyukai elemen kejut. Aku terbiasa menyusun rencana, mempertimbangkan faktor resiko dan kemungkinan, jadi ketika aku menginginkan sesuatu, aku harus melakukannya by design, elemen kejutan bisa merusak rencana yang aku susun. Apakah aku tidak sefleksibel itu menghadapi kejutan? Bukan, aku hanya orang yang tidak suka moodnya dihancurkan dengan segala macam kejutan.

So, sebelum menonton Joker aku memutuskan membaca reviewnya, melihat bagaimana Joker mendapat standing ovation saat diputar di Venice Film Festival 2019, dilanjutkan di Toronto, kupikir film ini memang layak ditonton. Tapi kemudian dari perkembangan di sosial media, aku memutuskan menangguhkan diri dari menonton film yang masih bercokol di layar bioskop Indonesia.

Orang Jahat adalah Orang Baik Yang Tersakiti

orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti

Sejujurnya aku tidak tahu apakah kata itu diucapkan Joaquein Phoenix di dalam film, atau diucapkan oleh para fans yang mengambil kesimpulan setelah melihat film ini. Tapi buat aku, semboyan semacam itu adalah hal yang sangat sakit. Manusia punya kecenderungan mengamini apa yang ia lihat, ia dengar dan ia rasakan. Joker, adalah sebuah film yang ditujukan untuk memberikan rangsangan pada para penontonnya untuk melihat bagaimana transformasi Arthur Fleck dari seorang yang baik menjadi seorang yang jahat. Bagaimana dia menikmati nikmatnya membunuh, setelah gagal merasa baik-baik saja menghadapi permasalahan hidupnya.

BACA JUGA:   Think as Rubik Cube

Aku tidak ingin pikiran semacam itu merasuki aku. Aku tidak ingin perasaanku direkayasa oleh cerita penulis naskah, lantunan musik pengiring dari penata suara dan adegan yang disuguhkan sutradara yang memaklumkan tindakan Arthur membunuh untuk kesenangannya sendiri, sama sekali tidak. Setiap kita punya peluang untuk menjadi psikopat yang sama, seperti Rian, Jack the Ripper, Hannibal Lecter dan para psikopat manapun. Sama tidak pedulinya aku dengan film-film bertema horor yang mendapat penghargaan sekalipun.

Stigma yang dislogankan kemudian menjadi viral dan menjadi patron bagi banyak orang, beberapa orang kreatif membuat versi meme yang lebih pekok untuk bahan bercandaan, tapi entah berapa orang yang pada akhirnya terinfluence dan meyakini bahwa, tidak apa-apa menjadi orang jahat toh kita pernah disakiti. Come on, manusia sejenis apa di dunia ini yang hidupnya belum pernah merasa disakiti oleh orang lain. Bahkan Nia Ramadhani yang hidupnya selalu jadi idaman emak-emak penggemar ghibah di facebook aja dibully netizen cuma gegara gak bisa ngupas kulit salak.

Benarkah Orang Jahat adalah Orang Baik Yang Tersakiti? 1

Banyak juga orang yang selalu merasa dirinya adalah orang paling tersakiti di dunia. Mereka menangisi apa yang mereka alami didunia, mereka merawat lukanya dengan sepenuh hati. Alih-alih mereka merawat agar lukanya sembuh, orang-orang itu merawat agar lukanya abadi dan bisa menjadi pembenaran mereka untuk selalu berduka.

BACA JUGA:   Titip Doa berbayar

Di dunia content creator, entah berapa orang-orang baik yang kemudian menjelma jadi orang jahat. Tidak selalu, tapi umumnya mereka akan muncul dan mendefinisikan diri sebagai Joker setelah pengumuman sebuah kompetisi. Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti saat mengikuti sebuah kompetisi. Memang, bukan selalu juga kompetisinya sehat, dan tidak selalu juga para Joker tersebut benar. Pada akhirnya, lebih mungkin mereka hanya akan menghasilkan rasa sakit di hati orang lain demi ambisinya. Mungkin itu sebabnya aku tergolong dalam kelompok makhluk yang paling malas ikutan kompetisi di dunia maya.

Menjadi orang baik adalah pilihan, menjadi orang jahat juga sebuah pilihan. Menjadi orang jahat bukanlah akibat dari ketidakadilan, menjadi jahat adalah sebuah choice, sebuah tindakan aktif, alih-alih tindakan pasif. Sama halnya seperti kelakuan Duryudana dan para Kurawa, mereka seharusnya sadar, bahwa dengan Astina kembali ke tangan mereka, tidak selayaknya mereka tamak dan mengakuisisi Indraprasta.

Pada akhirnya, kita sendirilah yang menjadi tuan atas pilihan-pilihan kita. Alih-alih menyalahkan keadaan atas sikap yang kita ambil. Dan kamu masih saja percaya orang jahat adalah orang baik yang tersakiti?

joker jahat yang tersakiti

Your Choice

Berikan tanggapan anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.