Blogger Aja Napa?

Agak gimana sih ya waktu baca postingan tentang blogger fomo lah, yang langitan lah, remahan rengginang lah, kucluk lah, goodiebaglah, apalah apalah. Jujur aku engga ada interest interestnya buat mengelompokkan seorang blogger bakalan masuk dalam jajaran blogger apalah apalah dan blogger lain aku masukkan dalam sekte blogger tertentu.

Sejauh ini aku cuma ngerti klo orang yang suka nulis di blog itu namanya blogger, mau nulis curhatan kek, maki-maki kek, nyindir, mau bikin yang berguna n informatif macam tips, tutorial dan lain sebagainya buatku mah sama aja sebutannya blogger doang titik. 

Memang semakin kesini, mulailah blogger memiliki interestnya masing-masing, ada yang suka nulis tentang perjalanan wisata, parenting, teknologi, tips n trick, tutorial bahkan bagi-bagi rejeki dan info terkini. Dari situ muncullah istilah niche, dan blogger banyak yang sudah mengambil niche tertentu terus konsisten menulis konten dengan niche nya tersebut, dan ada juga yang masih temanya general dan suka suka. Ketika kemudian mereka membentuk komunitas yang se-interest menurut aku itu sah-sah aja sih dan aku malah seneng-seneng aja. Ada travel blogger, food blogger, personal blogger, fashion blogger dan seterusnya, lalu muncul juga komunitas untuk mewadahi blogger bukan dari segi interest, tapi sesuai wilayah, jenis kelamin atau platform, seperti Komunitas Blogger Jogja, KEB, dBlogger dan lain-lain. Jujur aku malah menikmati keragaman blogger yang ada tersebut, karena toh komunitas tersebut tidak membatasi mereka untuk bergaul dengan blogger dari komunitas lain, sebaliknya malah saling melengkapi, berbagi dan silaturahmi.

BACA JUGA:   Ke Jakarta (Lagi)

true key login tanpa password

Tapi jadi sedikit mengganggu ketika ada blogger yang melabeli blogger lain dengan sebutan yang seolah memecah belah keragaman itu dan menimbulkan gap antara blogger satu dengan yang lain, dulu seingetku yang awal-awal muncul ketika nongol istilah blogger pesanan/blogger bayaran. Blogger yang mendapat cap tersebut adalah blogger-blogger pertama yang berhasil mendapatkan tawaran kerjasama dari brand untuk melakukan endorse lewat tulisan-tulisan mereka di blog. Dan meski waktu itu aku hanya belum bekerjasama dengan vendor manapun kecuali dengan beberapa afiliate yang aku ikutin toh aku merasa risih aja klo mendengar sebutan itu.

Semakin kesini, muncul definisi baru semacam seleb blog, blogger langitan, remahan rengginang, fomo bahkan blogger kucluk dan blogger mualaf, duh, apa-apaan ini? First of all, aku yakin kesemua label tersebut tidak menandakan interest seorang blogger terhadap bidang kepenulisan yang diminatinya. Kedua, nyuwun ngapunten, apapun dalih dibalik pembuatan istilah itu, toh pada akhirnya malah lebih banyak dipake untuk memisahkan satu blogger dengan blogger lainnya, bukan sebaliknya untuk merangkul semua blogger biar bisa tetep bersatu dan saling berbagi. Ah dia kan seleb blog, ah dia kan blogger langitan, duh aku mah apa cuma blogger remahan rengginang, eh dia tuh fomo banget sih dikit-dikit update pake hashtag #berkahngeblog.

Klo soal mau beda pendapat, itu sih menurut aku sah aja, mau nunjuk batang hidung blogger lain brengsek, ya langsung aja ke orangnya, gak usah dengan menggunakan istilah yang sebenernya belum dikenal, justru malah membuat awareness dengan hal-hal yang sebenernya gak penting-penting amat menjadi sejelas warna hitam dan putih dan bisa ditujukan ke blogger lain yang gak dituju.

BACA JUGA:   SEO ala Jonru

Gak enak banget kan misalnya klo abis update instagram tentang acara sebuah vendor smartphone yang kita ikuti tiba-tiba ada temen nyeletuk, ah fomo lu! Duh gaes please deh, tujuannya apa coba ngomong begituan? nyindir? apa iri? Klo ga buat nyindir, terus ngapain juga diomongin?

Aku inget kalimat temen-temen sewaktu masih ngeblog di Multiply dulu, thus anything cannot be told, must kept be silent. Klo emang gak bawa manfaat ya udah ga usah dibikin rame.

News Reporter
Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.