Cara Interpretasi Data Skala Likert

Skala Likert adalah salah satu alat yang paling umum digunakan dalam penelitian sosial dan survei untuk mengukur sikap, pendapat, atau persepsi responden terhadap suatu pernyataan atau pertanyaan. Artikel ini akan membahas secara lengkap dan detail cara interpretasi data skala Likert, mulai dari pengenalan skala Likert, pengumpulan data, hingga analisis dan interpretasi hasil.

Pengenalan Skala Likert

Skala Likert adalah skala penilaian yang terdiri dari serangkaian pernyataan atau pertanyaan, di mana responden diminta untuk menunjukkan tingkat persetujuan atau ketidaksetujuan mereka terhadap setiap pernyataan. Pilihan jawaban biasanya mencakup rentang yang bervariasi, seperti:

  1. Sangat Tidak Setuju
  2. Tidak Setuju
  3. Netral
  4. Setuju
  5. Sangat Setuju

Skala Likert dapat bervariasi dalam jumlah poin, tetapi empat, lima dan tujuh poin adalah yang paling umum digunakan.

Baca juga Cara Membuat Survey Skala Likert Google Form

Pengumpulan Data dengan Skala Likert

Saat menggunakan skala Likert dalam survei atau kuesioner, langkah-langkah berikut harus diperhatikan:

  • Merumuskan Pernyataan: Pastikan pernyataan yang digunakan jelas dan spesifik. Pernyataan harus relevan dengan tujuan penelitian.
  • Pemilihan Rentang Skala: Tentukan jumlah poin skala yang akan digunakan (misalnya, 5 atau 7 poin).
  • Distribusi Kuesioner: Sebarkan kuesioner kepada sampel responden yang representatif.
  • Pengumpulan Respon: Kumpulkan jawaban responden secara sistematis.

Pengkodean Data

Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah mengkodekan jawaban responden. Setiap pilihan pada skala Likert diberi nilai numerik, misalnya:

  • Sangat Tidak Setuju = 1
  • Tidak Setuju = 2
  • Netral = 3
  • Setuju = 4
  • Sangat Setuju = 5

Jika menggunakan skala tujuh poin, nilai dapat berkisar dari 1 hingga 7.

Analisis Data Skala Likert

Ada beberapa metode untuk menganalisis data skala Likert:

a. Analisis Deskriptif

  • Mean (Rata-rata): Hitung nilai rata-rata dari setiap pernyataan untuk mendapatkan gambaran umum tentang pendapat responden.
  • Median dan Modus: Dapat digunakan untuk mengetahui nilai tengah dan nilai yang paling sering muncul.
  • Distribusi Frekuensi: Menampilkan frekuensi setiap jawaban untuk melihat distribusi respon.

b. Analisis Inferensial

  • Uji-t dan ANOVA: Digunakan untuk membandingkan rata-rata antara dua atau lebih kelompok.
  • Korelasi: Menentukan hubungan antara dua variabel.
  • Regresi Linier: Menganalisis pengaruh satu atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen.

Analisis Statistik Skala Likert

Untuk mengoptimalkan penggunaan data skala Likert, penting untuk memahami bagaimana melakukan analisis statistik seperti uji T, ANOVA, korelasi, dan regresi linier. Berikut ini adalah penjelasan rinci mengenai masing-masing metode tersebut:

1. Uji T

Uji T digunakan untuk membandingkan rata-rata antara dua kelompok. Ada dua jenis uji T yang sering digunakan:

  • Independent T-Test: Digunakan untuk membandingkan rata-rata dua kelompok independen.
  • Paired T-Test: Digunakan untuk membandingkan rata-rata dari dua set data berpasangan.

Langkah-langkah melakukan Uji T:

  1. Formulasi Hipotesis:
    • H0: Tidak ada perbedaan rata-rata antara dua kelompok.
    • H1: Ada perbedaan rata-rata antara dua kelompok.
  2. Menghitung Mean dan Standard Deviation dari kedua kelompok.
  3. Menentukan Tingkat Signifikansi (α): Biasanya 0,05.
  4. Menghitung Nilai T: Gunakan rumus statistik atau perangkat lunak statistik seperti SPSS atau R.
  5. Membandingkan Nilai T dengan nilai kritis dari tabel T atau melihat p-value.
  6. Interpretasi Hasil: Jika p-value < α, tolak H0, yang berarti ada perbedaan signifikan antara kelompok.

2. ANOVA (Analysis of Variance)

ANOVA digunakan untuk membandingkan rata-rata lebih dari dua kelompok. Terdapat beberapa jenis ANOVA, tetapi yang paling umum adalah One-Way ANOVA.

Langkah-langkah melakukan One-Way ANOVA:

  1. Formulasi Hipotesis:
    • H0: Semua kelompok memiliki rata-rata yang sama.
    • H1: Setidaknya satu kelompok memiliki rata-rata yang berbeda.
  2. Menghitung Mean dan Variance dari setiap kelompok.
  3. Menghitung Mean Square Between (MSB) dan Mean Square Within (MSW): MSB mengukur variabilitas antara kelompok, sementara MSW mengukur variabilitas dalam kelompok.
  4. Menghitung Nilai F: MSB/MSW.
  5. Menentukan Tingkat Signifikansi (α): Biasanya 0,05.
  6. Membandingkan Nilai F dengan nilai kritis dari tabel F atau melihat p-value.
  7. Interpretasi Hasil: Jika p-value < α, tolak H0, yang berarti ada perbedaan signifikan antara setidaknya satu kelompok.

3. Korelasi

Korelasi digunakan untuk menentukan hubungan antara dua variabel. Korelasi Pearson adalah yang paling umum digunakan untuk data interval atau rasio.

Langkah-langkah melakukan Korelasi Pearson:

  1. Mengumpulkan Data: Pastikan kedua variabel yang ingin dianalisis tersedia.
  2. Menghitung Mean dan Standard Deviation dari kedua variabel.
  3. Menghitung Covariance dari kedua variabel.
  4. Menghitung Korelasi Pearson (r): Covariance / (Standard Deviation X * Standard Deviation Y).
  5. Menentukan Tingkat Signifikansi (α): Biasanya 0,05.
  6. Interpretasi Hasil:
    • r = 1: Korelasi positif sempurna.
    • r = -1: Korelasi negatif sempurna.
    • r = 0: Tidak ada korelasi.
  7. Menghitung p-value untuk menentukan signifikansi korelasi.

4. Regresi Linier

Regresi linier digunakan untuk memprediksi nilai variabel dependen berdasarkan nilai variabel independen.

Langkah-langkah melakukan Regresi Linier:

  1. Mengumpulkan Data: Pastikan data untuk variabel independen dan dependen tersedia.
  2. Plot Data: Membuat plot scatter untuk melihat hubungan awal antara variabel independen dan dependen.
  3. Menentukan Model Regresi:
    • Y = a + bX
    • Di mana Y adalah variabel dependen, X adalah variabel independen, a adalah intercept, dan b adalah slope.
  4. Menghitung Parameter Regresi (a dan b):
    • a = Mean(Y) – b * Mean(X)
    • b = Cov(X, Y) / Var(X)
  5. Menghitung Prediksi Y menggunakan model regresi.
  6. Menentukan Tingkat Signifikansi (α): Biasanya 0,05.
  7. Uji Hipotesis:
    • H0: b = 0 (tidak ada pengaruh X terhadap Y).
    • H1: b ≠ 0 (ada pengaruh X terhadap Y).
  8. Menghitung Nilai t untuk Slope: b / Standard Error(b).
  9. Membandingkan Nilai t dengan nilai kritis atau melihat p-value.
  10. Interpretasi Hasil:
    • Jika p-value < α, tolak H0, berarti variabel independen memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
    • Coefficient of Determination (R²): Menunjukkan proporsi variabilitas dalam Y yang dapat dijelaskan oleh X.

Alat dan Perangkat Lunak

Untuk melakukan analisis di atas, berbagai perangkat lunak statistik dapat digunakan, seperti:

  • SPSS: Populer untuk analisis statistik yang mudah digunakan.
  • R: Perangkat lunak open-source yang kuat dengan berbagai paket statistik.
  • Excel: Bisa digunakan untuk analisis dasar dengan add-in statistik.

Analisis data skala Likert memerlukan pemahaman yang baik tentang teknik statistik yang sesuai. Uji T, ANOVA, korelasi, dan regresi linier adalah metode yang efektif untuk mengevaluasi hubungan dan perbedaan dalam data. Dengan mengikuti langkah-langkah yang telah dijelaskan, peneliti dapat melakukan analisis yang tepat dan menginterpretasikan hasil dengan akurat, membantu dalam pengambilan keputusan berbasis data.

Interpretasi Hasil

Langkah terakhir adalah menginterpretasikan hasil analisis. Berikut adalah beberapa pendekatan untuk interpretasi:

a. Menginterpretasikan Mean

  • Mean Tinggi (mendekati 5 atau 7): Mengindikasikan tingkat persetujuan atau kepuasan yang tinggi.
  • Mean Rendah (mendekati 1 atau 2): Mengindikasikan tingkat ketidaksetujuan atau ketidakpuasan yang tinggi.
  • Mean Sedang (mendekati 3 atau 4): Menunjukkan sikap netral atau campuran.

b. Menggunakan Distribusi Frekuensi

  • Proporsi Tertinggi: Analisis frekuensi untuk melihat pilihan jawaban yang paling sering dipilih.
  • Distribusi Simetris atau Asimetris: Melihat apakah distribusi jawaban cenderung simetris (normal) atau miring ke satu arah.

c. Analisis Perbandingan Kelompok

  • Uji-t atau ANOVA: Jika terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok, interpretasikan perbedaan ini dalam konteks penelitian.
  • Korelasi dan Regresi: Menilai kekuatan dan arah hubungan antara variabel. Misalnya, korelasi positif berarti ketika satu variabel meningkat, variabel lain cenderung meningkat.

Contoh Kasus

Misalkan Anda melakukan survei terhadap karyawan mengenai kepuasan kerja menggunakan skala Likert 5 poin. Salah satu pernyataan adalah: “Saya puas dengan lingkungan kerja saya.”

  • Jika rata-rata respon untuk pernyataan ini adalah 4.2, ini menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan setuju bahwa mereka puas dengan lingkungan kerja mereka.
  • Jika frekuensi menunjukkan 60% responden memilih “Setuju” dan 30% “Sangat Setuju”, maka dapat disimpulkan bahwa mayoritas karyawan memiliki pandangan positif tentang lingkungan kerja mereka.

Menginterpretasi data skala Likert memerlukan pendekatan yang teliti dan sistematis. Dengan memahami setiap langkah dari pengumpulan data hingga analisis dan interpretasi, peneliti dapat memperoleh wawasan yang berharga dari survei mereka. Teknik analisis deskriptif dan inferensial harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian dan sifat data yang diperoleh. Hasil interpretasi yang akurat dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih baik dan efektif.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Ingin produk/website Anda kami ulas? Silahkan klik tombol dibawah ini