Jogja Semrawut versi Dek Khusnul

Kemarin salah seorang kawan menshare caption beberapa status seorang gadis bernick name Khusnul Tuban Jatim yang memperolok Kota Jogja setelah dia merasa kecewa dengan pengalaman berliburnya di Kota Jogja. Sebenarnya bicara masalah kecewa dengan pengalaman berlibur, bagian sebagian besar traveler pasti punya. Jadi kenapa hanya status dek khusnul saja yang bermasalah?

Yang Diserang Jogja Bro!

Aku pribadi, tidak bisa dibilang pribumi Jogja, Aku lahir dan dibesarkan di Cilacap, baru menempati Jogja di awal millenium, meski ayahku orang Gunung Kidul Asli, sementara dari trah ibuku, konon katanya turunan kraton yang diekskomunikasikan, ning ha mbok wis ben luweh, menurutku toh bukan hal yang penting di jaman sekarang.

Meski begitu aku merasa selalu nyaman di kota provinsi ini, dan tidak menginginkan adanya kekerasan terjadi di Jogja, baik verbal maupun fisik, dengan dalih bal-balan, agama, apalagi cuma masalah kampanye parpol.

Mbangane wong liwat sik cuma sak nyuk sak umur2 gek pisan ngelek-elek Jogja via socmed, bukannya banyak wong Jogja sik pethakilane juga ngelek-elek Jogjane dewe? Gembar-gembor motor nek kampanye po nonton bal,  nuthuk rego panganan, nyorat nyoret temboke tanggane. Jadi ya sudahlah, rasah terlalu diperpanjang opo neh sampe di meja hijaukan, sik do sareh mas, mbak.

Wis cukup mbak Florence Sihombing sik dadi korban, meski aku bersimpati lho karo dekne, karena meski hanya mengungkapkan kekesalan pribadinya, dia harus rela dianggap sebagai Jogja’s first public enemy, dan dia dengan kerendahan hati akhirnya mengaku bersalah, meminta maaf kepada kita semua, dan mau menerima konsekuensi hukum segala. Seandainya itu menimpa kita, po yo bisa kita sekuat mbak Flo?

BACA JUGA:   Rumah Makan Shiva, Lojajar Sleman

Ndresula

Tiap liburan semi-panjang dan panjang, kami warga Jogja selalu merasakan kemacetan luar biasa, bukan tidak lain karena berkah kedatangan sedulur-sedulur kami warga daerah lain yang ingin berkunjung dan bersilaturahmi ke Jogja, sebagai orang Jawa, kami selalu ingin memberikan yang terbaik pada tamu-tamu kami. Oleh sebab itu, mungkin banyak yang tidak tahu bahwa warga Jogja lebih memilih berdiam diri di rumah selama musim liburan, agar bisa memberikan kesempatan pada saudara-saudaranya yang ingin berlibur disini.

Klo mau dibandingin ndresula’an mana dek Khusnul sama aku, kayake haruse ndresula-an aku, lha dek Khusnul g tiap liburan mampir ke sini, ga tiap musim ngalami macetnya, lha aku ben libur dowo sithik joss… macete. Tapi ya gak masalah sih, semacet-macetnya Jogja, toh tetep lebih macet Jakarta, jadi ya tak syukuri wae.

Jogja Semrawut, Koyo Entut

Leres jika dibilang Jogja semakin kesini semakin semrawut, bukankah hal semacam itupun juga dialami hampir semua kota besar di Indonesia? apalagi di musim liburan seperti sekarang ini. Meski pihak dishub dan kepolisian sudah berusaha memberikan alternatif untuk mengurai kemacetan, toh tidak sebanding dengan ekspektasi sedulur untuk berkunjung ke kota ini.

Jika dek Khusnul punya ide bagaimana menata Jogja agar tidak lagi semrawut untuk musim2 liburan berikutnya, saya rasa Kanjeng Sultan dan Walikota Jogja akan dengan senang hati menerima masukan dari dek Khusnul dan rekan-rekan yang lain, agar Jogja bisa melayani sedulur-sedulur lebih baik lagi di masa yang akan datang.

BACA JUGA:   Berhati-hati itu lebih baik

Lain kali mau ke Jogja, coba cari waktu luang selain masa liburan panjang nggeh dek Khusnul, biar gak kejebak macet n bisa menikmati Jogja sekali lagi dengan suasana yang lebih aman dan nyaman.

Nah klo soal semrawutnya entut dek Khusnul, aku ora arep melu-melu wong ora tau ngambu

<span data-sociabuzz-verification=”8c4157a2″ style=”display: none;”></span>

khusnul tuban jatim, dek kraton jogja, kata kata ndresula jawa, tulisan poto ndresula
News Reporter
Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.