Kebo nusu Gudel

Kebo nusu gudel kui tegese opo? Jadi kebo nusu gudel adalah pepatah bahasa jawa yang secara gamblang berarti seekor kerbau yang menyusu pada anaknya, secara harfiah diartikan orang tua yang mencari perlindungan, kenyamanan atau pengetahuan pada mereka yang usianya jauh berada di bawahnya.

Kebo nusu gudel diibaratkan ketidakmampuan orang tua sehingga membutuhkan kehadiran anaknya untuk menopang hidupnya. Ini menandakan wolak-waliking jaman, dimana nilai-nilai dalam sebuah budaya terkadang sudah tidak lagi bisa bertahan pada tempatnya, berganti dengan nilai lain yang justru berseberangan. Kelihatannya sungguh sarkastik, meskipun tidak selalu kita generalisir memiliki arti demikian.

Kebo Nusu Gudel Dalam Dunia Digital

artine parikan jawa kebo nusu gudel

Kebo nusu Gudel 1

Sebagai contoh dewasa ini dengan kemajuan teknologi yang sangat cepat, orang2 tua cenderung sulit beradaptasi dengan produk2 teknologi baru, berbeda dengan anak2 muda yang meski sama2 baru memegang produk yang sama tetapi kecepatan menguasai dan menggunakan produk tersebut akan lebih didominasi anak2 muda.

Bisa jadi karena faktor orang tua sudah merasa capek, kebanyakan pikiran atau anak mudanya yang cenderung ketika menemui hal baru akan melakukan eksplorasi semaksimal mungkin untuk mencoba memahami apa yang ditawarkan dalam produk baru tersebut.

BACA JUGA:   Mitos Sakit Hati

Anak-anak muda yang terlahir sebagai milenial maupun gen alpha biasanya lebih mudah mengikuti trend perkembangan teknologi terkini dibandingkan dengan generasi X, generasi Y apalagi baby boomer. Maka wajar saja jika kemudian dalam adaptasi perkembangan teknologi digital, orang tua justru banyak belajar dari kalangan yang lebih muda.

Sehingga sering kali mereka yang terhitung lebih senior justru belajar tentang hal2 baru pada para juniornya, entah itu cara memakai gadget terbaru, membuat aplikasi berbasis bahasa2 terbaru, atau malah diperuntukan untuk console android+blackberry yang jaman gw aja klo mo baca sms harus scroll kesamping sak kemenge, lha wong LCDnya cuma bisa nampilin satu baris horizontal doang n_n” opo meneh nek neng fesbuk ketemune bahasa ekspresine blackberry, sengit tenan, ameh niru juga itu bukan berasal dari karakter ASCII!!!! ……sialllll!!!!!!!!!!

Kalo dilihat dari kemampuan orang2 tua yang emang lebih lambat dalam beradaptasi dengan teknologi tidak ada salahnya belajar dari anak atau adik2nya agar lebih mudah memahami cara kerja teknologi tersebut. Toh hitung2 itu sebagai wujud simbiosis mutualisme, dimana kita juga bisa melatih kemampuan afektif anak agar terbiasa menyampaikan pandangannya, pengetahuannya, dengan begitu ia akan lebih mudah mendapatkan pengetahuan baru dari apa yang ia simpulkan dan jelaskan.

BACA JUGA:   Menuai yang Ditanam

Jadi parikan Kebo nusu gudel, tidak selalu diartikan sebagai sesuatu yang jelek, jika di masa lalu, pepatah jawa ini dianggap sebagai hal yang aneh, maka tidak demikian dengan masa kini. Karena toh pada akhirnya, yang namanya belajar itu tetaplah sepanjang hayat, sejauh mungkin sampai ke negeri China atau belajar pada generasi-generasi setelah kita

Seorang almarhumah teman blogger bahkan pernah berkata, bahwa ia belajar banyak hal dari kehadiran putra-putranya, karena dengan hadirnya mereka, ia kembali harus belajar bagaimana cara mengajari mereka, menyayangi mereka, dan memanusiakan mereka. Ia menempatkan putra-putranya sebagai guru baginya, dimana ia belajar tentang cinta kasih dan harapan, yah… meski pada akhirnya ia dipanggil Yang Maha Kuasa setelah melahirkan putra ketiganya.

So, moral storynya adalah, tak masalah belajar dimana saja, kapan saja pada siapa saja.

Kebo nusu Gudel 2

Jadi gak masalah klo toh memang harus belajar sama yang lebih muda, apalagi klo gurunya kek neng SongHua ini, mbok belajar sehari 24 jam keknya tetep pada betah langka sing pada ngantuk, iya ora lur??

 

8 Comments

Berikan tanggapan anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.