Mitos dalam Idiom Budaya Jawa

Budaya Jawa sering diidentikan dengan berbagai mitos, baik itu tentang keberadaan Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan, maupun mitos2 tentang makhluk penunggu tiap benda keramat, pusaka dan lain sebagainya.

Tradisi dan kebiasaan dilakukan secara turun temurun terkadang hanya merupakan sebuah keharusan, sudah dilakukan sejak lama dan generasi saat ini merasa takut jika budaya itu terputus kelak menjadi pertanggunganjawabnya pada generasi sebelumnya.

Jamak kita dengar kisah tentang Babad, Babad Mataram, Babad Tanah Jawa dan lain sebagainya, Babad bukanlah sebuah sejarah, tetapi Babad menggambarkan suasana sejarah yang disyairkan, disastrakan sehingga harus kita telaah kembali agar terlepas dari unsur majas2 di dalamnya.

Selain babad, tradisi lisan kita juga banyak menjadikan multitafsir dan sebuah citra “kekononan” dalam benak generasi2 sesudahnya. Orang jawa sering menyebut wis surup okeh wewe gombel nggolek bocah (sudah senja, banyak setan gombel mencari anak kecil), madhang utawa lungguh nang ngarep lawang ki ngalangi rejeki, (makan atau duduk di depan pintu itu menghalangi rejeki)

Anak2 pasti takut dengar wewe gombel yang demen menculik anak kecil, mereka juga akan mikir sekali lagi klo mau makan tepat di depan pintu karena enggak pengen rejekinya terhalang oleh kelakuannya. Sebenernya tidak semua yang diungkapkan itu benar, sebagian hanya untuk menakut2i, karena waktunya magrib adalah waktu untuk beribadah bukan bermain.

Sedangkan kasus untuk makan di depan pintu lha ya cetha secara feng shui aja dipastikan salah kok. Karena pintu adalah penghubung, menghubungkan ruang tamu dengan dapur, kamar mandi, dan dunia luar untuk mencari rejeki, itulah kenapa duduk di depan pintu menghalangi lalu lintas orang lain dalam mencari rejeki.

Bukan salah pendahulu kita hanya menggunakan idiom2 maupun ungkapan2 yang terlihat aneh, mistis dan tidak masuk akal, tetapi berusahalah peka terhadap makna yang ingin disampaikannya, perlu lebih dalam menggali apa yang kita indera di sekitar kita, agar tidak hanya menjadi seorang penggembira yang ikut tertawa tapi tidak tahu apa yang ia tertawakan, ikut berteriak kegirangan hanya karena orang2 disekitarnya berteriak penuh semangat.

gambar dari sini

idiom jawa, idiom budaya jawa

14 Komentar

  1. Ratnawati Utami Balas

    ma kasih udah komen. aku yo wong Jowo… pernah gabung ke multiply tapi cuman bentar disuruh nutup isinya marah marah,,, hahaha

  2. Evi Balas

    Mitos yg disampaikan nenek moyang yang sifatnya menakuti kita, mungkin hanya karena mereka tak terbiasa menjelaskan segala sesuatu secara logika Mas..Karena lingkungan mereka juga masih kental suasana mistiknya, pesan alamiahpun disampaikan dalam bungkus mistik..:)

    • anotherorion Balas

      saya mikirnya orang dulu sengaja make kiasan biar anaknya bisa lebih peka menangkap maksud di dalamnya tapi setelah lintas generasi yang tersisa cuma mitosnya saja mbak 🙂

Berikan tanggapan anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.