Pamrih

Manusia memiliki keinginan, sesuatu yang ia harapkan dapat tercapai. Keinginan manusia itu kemudian dibagi menjadi dua kelompok, yang pertama adalah cita – cita, dan yang kedua adalah pamrih.

Cita – cita adalah keinginan manusia yang ia harapkan dapat ia capai dari dirinya sendiri. Sementara pamrih adalah keinginan manusia yang ia capai dari orang lain. Jadi manusia itu adalah makhluk berpamrih.

Pamrih? salahkah? kayaknya terlalu naif kalau aku bilang pamrih adalah sesuatu yang forbidden untuk dibahas dalam dunia manusia. Ya kita belajar karena pamrih, kita berusaha karena mengharapkan pamrih juga. Baik itu dari segi perasaan, ucapan, tindakan, baik bersifat moral maupun materi kita semua melakukannya.

Pamrih 1

Bohong kalau kita bersikap baik pada orang lain karena kita tidak berharap hal yang sama. Ya kita bersikap baik karena kita berharap iapun bersikap yang sama dengan kita. Syukur seandainya ia membalasnya dengan lebih baik lagi.

Dalam hidup bersosialisasi di masyarakat, kita dihadapkan pada kenyataan akankah menjadi orang berguna atau tidak, apakah kita memberikan mereka manfaat atau sebaliknya. Disini harga martabat kita ditawarkan, jika kita berharap dihargai dalam lingkungan kita, maka kita harus berusaha melakukan hal yang membuat kita dihargai, entah dalam bentuk materi, leadership, kreativitas dan masih banyak lagi.

BACA JUGA:   Fantasy: The Power of Mind

Pamrih 2Dan aku menyadari, berharap pada manusia kebanyakan akan membuat kita kecewa, maka Tuhan memang mengajarkan kita agar hanya berpamrih kepadaNya. Ya, aku hanya seorang manusia, dan aku merasakan kekecewaan itu karena aku berpamrih padanya.  Yah terkadang ikhlas itu hanya kurasakan di lidah bukan di hati, ah haruskah aku belajar tentang ilmu ikhlas? haruskah aku hanya berpamrih kepadaNya saja?

Entahlah, mungkin waktu akan membawakan jawabannya untukku.

gambar property dia dan dia

10 Comments

Berikan tanggapan anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.