Sebuah halaman putih

Aku berjalan menyusuri lorong dalam sebuah bangunan yang serba putih, ya putih, dinding2 batu pualam disisi kiri dan kananku, bahkan sebuah bunga plum berwarna putih dalam vas diatas meja yang senada,  hanya kulit coklat dan rambut hitamku saja yang membuatku merasa menjadi makhluk paling janggal di lorong ini. Kudengarkan sayup2 lagu instrumental mengalun pelan seolah membimbingku ke arahnya.

Aku menemukan sebuah pintu di depan lorong dengan papan namaku terukir di dinding pintu itu. Sejenak aku ragu untuk membukanya, jangan2 hanya kesamaan nama saja, karena aku tak tahu pasti apa yang ada di dalamnya. Aku terdiam dan memperhatikan sekitarku, tidak ada siapapun disini, aku berdiri mematung seorang diri di sebuah lorong yang sama sekali tak aku kenal

Lalu kuberanikan diri membuka pintu di depanku… dan aku masuk ke dalamnya.

Tampak di depanku sebuah ruang yang mirip dengan perpustakaan, di samping kiri ruangan nampak sebuah jendela besar bertirai yang indah, beberapa garis cahaya nampak masuk memenuhi ruangan melewatinya. Sebuah rak besar tertanam di tembok bagian belakang menjadi tema utama ruangan ini, puluhan buku2 tebal berjejer memenuhi setiap kolom didalamnya. Di depannya terdapat meja baca besar dan kursi bergaya oriental, di samping kanan ruangan ini kulihat sebuah sofa baca yang nampak empuk dan nyaman, sementara disampingnya terdapat sebuah gramophone klasik yang memainkan O Mio Babbino Caro, tentu saja gramophone itu memainkan piringan yang berwarna putih.

9de79898ca451cb637d8_590_310_1 (1)

Aku mulai mendekati meja baca di tengah ruangan, mengamati beberapa benda kuno yang ada di atasnya, sebuah kaca pembesar, tempat lilin yang membentuk trisula melingkar, dan secangkir white coffe yang belum habis sepenuhnya, ahhhh aku masih merasakan hawa hangat diseputar cangkir itu, jika demikian pastilah ada orang lain yang berada di ruangan ini. Ya, aku yakin itu, dan dengan begitu aku bisa bertanya padanya tempat apa ini dan kenapa aku bisa terdampar disini.

Aku memutarkan tubuh untuk mencari tahu lebih jauh dan akupun terkejut melihat sesosok pria tua tersenyum dengan sebuah buku tebal memandangiku dari sudut ruangan. Ini mengejutkan dan menakutkan, tapi sosok tua itu hanya diam disana, sepertinya ia memahami keterkejutanku dan tak ingin membuatku merasa lebih takut. Setelah aku mulai bisa menerima kehadirannya ia mulai menampakkan gerakan yang lembut, yah ia mungkin sedang berusaha membuat keteganganku berkurang, ia melangkah sebentar kemudian tangannya mempersilahkanku untuk duduk di sofa. Aku memandangnya dengan waspada, tapi sejauh ini aku merasa ia tidak membahayakanku, dan akupun berjalan ke arah sofa itu.

Ia membiarkanku duduk terlebih dahulu, baru melangkah ke kursi kuno di meja itu, mungkin ia memberikanku kesempatan agar bisa mengawasinya, ia sesosok pria tua yang lebih mirip dengan Gandalf the Grey dan sekarang aku memang merasakan sendiku sudah tidak lagi setegang tadi. Ia mengulurkan senyum padaku dan mulai mengajakku bicara

“Aku yakin kamu memiliki banyak pertanyaan untukku anak muda, tapi mungkin aku tidak memiliki jawaban atas semua pertanyaanmu, dan  aku harap kamu bisa memakluminya”

Aku mengangguk padanya,

Ia menganggukan kepalanya seolah mempersilahkanku memulai pertanyaan

“Jadi dimanakah saya dan kenapa saya berada ditempat ini”

Ia tersenyum dan bertanya balik

“Apakah menurutmu tempat ini indah???”

“Ya, hanya saja saya merasa aneh karena semuanya berwarna putih”

Ia mengangguk2 setuju dengan jawabanku.

“Tempat ini bukanlah tempat yang bisa dimasuki oleh manusia dengan jasadnya, ini adalah sebuah tempat yang paling nyaman bagi setiap manusia…..”

Aku mulai berusaha mencerna jawabannya, jadi aku adalah manusia tanpa jasad?? apakah aku telah mati? apakah ini surga? lalu siapakah dia? Aku ingin segera menanyakan kejelasan maksudnya tapi ia lebih dulu membuka suara.

“Bukan, bukan, ini bukanlah surga, tempat ini terlalu biasa untuk disebut surga, percayalah, aku bahkan belum pernah mengenal seperti apa surga, apakah kamu bisa menebak dimana tempat ini berada?”

Aku terdiam memikirkannya, bukan surga, mungkin ini adalah sebuah tempat perantara antara dunia manusia dengan dunia penghakiman, aku tak tahu menyebutnya apa, mungkin sebuah dunia dimana setiap ruh manusia dibawa untuk menunggu pengadilanNya.

“Apakah ini dunia perantara??? sebuah dunia yang bukan dunia manusia dan dunia Ilahiah?” jawabku ragu.

“Ah, mungkin sedikit benar, tapi baiklah aku yakin kamu tidak nyaman dengan pertanyaan2 yang tidak kamu mengerti jawabannya, tempat ini bukanlah dunia perantara antara duniamu dengan dunia ruh, tetapi tempat ini bukanlah tempat yang bisa dimasuki oleh raga manusia, tempat ini adalah hatimu”

Wah, pernyataan macam apa ini, aku semakin merasa kesal dengan jawabannya, hai, hati manusia berwarna merah penuh darah mengapa disini semuanya berwarna putih, ia beranjak dari kursinya dan mengajakku untuk mendekat, aku merasa malas untuk mengikuti petunjuknya namun tetap bangkit mengikuti kemauannya.

“Duduklah” Ia mempersilahkanku duduk di kursinya.

Aku duduk dan menunggu instruksinya selanjutnya. Dia menyodorkan buku tebal yang ia bawa sedari tadi, dan menaruhnya tepat dihadapanku. Dan ia berdiri didepanku, aku mengerlingkan mata meminta persetujuannya untuk membuka buku itu, ia mengangguk tapi telunjuknya memberiku sinyal untuk tidak terburu2 membukanya.

“Setelah kamu membukanya, aku harap kamu bisa belajar dari apa yang tertulis dan tidak tertulis di dalamnya. Nah sekarang, aku akan meninggalkanmu sejenak dengan bukumu, aku akan kembali segera setelah kamu selesai membacanya”

Aku mengangguk, ia kemudian berjalan ke arah gramaphone dan memutarkan sebuah lagu klasik yang entah aku tak tahu namanya.

“Semoga kamu tidak merasa kesepian dengan lagu ini”

Aku mengangguk dan mengucapkan terimakasih, lalu ia segera keluar ke balik pintu, meninggalkan aku, sebuah lagu dan buku. Kupandangi sampul buku tersebut dan kutemukan ukiran namaku, ukiran yang sama dengan yang ada di balik pintu. Dan akupun membukanya……

Satu demi satu kisah dalam buku itu aku baca, terkadang membuatku tertawa terbahak2, tapi seringkali juga membuatku merasa tertegun dan menangis olehnya. Beberapa halaman berisi tinta hitam yang tipis, beberapa bertuliskan tinta hitam yang berat dan bernoda disana sini, Aku berdiri dan berjalan mondar mandir beberapa kali, sesekali berteriak, menjerit tetapi lebih sering aku meratap dan terjatuh menangis karenanya.

Aku duduk terdiam dibawah kaki meja dengan lesu, pikiranku jauh menerawang, belum ada seperempat dari buku itu yang aku baca, tetapi buku itu telah banyak menguras airmataku, aku tak yakin apakah aku masih bisa melanjutkan untuk membacanya…..

Lama aku membisu, gramaphone itu tidak lagi memutarkan lagunya. Aku berjalan ke sisi jendela dan melihat keluar..

Putih….. kulihat segerombolan awan tipis berarak di bawah jendelaku, mereka nampak menutupi celah yang ada disebaliknya satu sama lain dan membuatku tak mampu menatap apapun selainnya. Aku tercenung mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini dan di ruang ini. Aku menatap kembali buku yang tergeletak di atas meja itu. Ia masih menanti untuk dibaca.

Kemudian aku bergerak mendekatinya, kembali duduk dan membetulkan posisi kursiku, tinta pada halaman ini jauh lebih hitam dan bernoda dibanding halaman2 sebelumnya

——————————

31 Desember 2012

Aku benar2 merasakan kemarahan pada ayahku karena bersikeras melarangku berhubungan dengan Nindya, seorang wanita malam yang telah mencuri hatiku, berapa kali sudah kukatakan bahwa aku ingin segera menceraikan Fina, anak teman kuliahnya.

Aku naik pitam dan bergegas menuju dapur, mengambil sebilah pisau untuk mengancam ayahku. Kudengar suara langkah ayah bergegas mendatangiku, dan dengan penuh kemarahan kutancapkan pisau itu di rusuknya. Ayah berdarah… ia berteriak, aku merasa kaku melihatnya terjatuh, aku ingin menangis, sejurus kemudian ibuku datang dan berteriak kencang melihatnya. Akupun segera lari ke ruang tamu, menyambar kunci mobil dan segera meninggalkan rumah.

———————– Aku berhenti membacanya, mataku sembab  dan pikiranku terus tertuju pada ayah, apakah beliau bisa selamat? apakah ia meninggal karenaku? bagaimana dengan ibuku?? apa yang ia rasakan padaku sekarang? Lalu Fina…. Fina……….. semua ini terjadi karena kesalahanku padanya, tidak ada yang kurang darinya sebagai seorang istri selama ini padaku, ia wanita yang lembut, murah senyum dan selalu mengalah terhadap semua keinginanku, tapi aku——————

Aku tancap gas menembus dinginnya malam ke arah Sukabumi, sebisa mungkin aku meninggalkan kota ini, pergi, aku ingin pergi jauh ke tempat tidak ada seorangpun yang mengenalku, sialnya di depanku penuh dengan antrian kendaraan meninggalkan ibukota ke arah puncak untuk merayakan tahun baru. Aku benar2 kesal dibuatnya, tanpa pikir panjang kuambil jalur kanan dan menerobos kendaraan. Suara klakson berbunyi kencang dari arah berlawanan melihat laju kendaraanku dan aku membanting setir ke kanan. Kurasakan mobilku terjatuh, terguling ke dalam jurang, entah berapa kali kepalaku terantuk setir dan kaca samping…….

——————–tulisan itu habis, aku membuka halaman sebaliknya, putih, kosong tak ada tulisan. Aku menerawang yah itu terakhir kali yang aku ingat sebelum terdampar di tempat ini. Pikiranku masih saja terpaku pada keluargaku disana……

Lelaki tua itu memasuki ruangan dengan perlahan, lalu mendekatiku dan bertanya

“Bagaimana anak muda, apa yang bisa kamu ceritakan tentang buku itu?”

Aku menatap buku itu dengan ragu….

“Ini….. adalah buku tentang kisah hidupku, buku ini seperti memori yang dituliskan dari otakku…”

Ia tersenyum membenarkan, “Dan apa kesimpulanmu dari buku ini….”

“Entahlah, aku tak bisa berpikir pak tua, aku telah mencelakai ayahku disana, dan aku bahkan tak tahu bagaimana kondisinya sekarang…. aku benar2 telah melakukan kesalahan yang besar, tidak hanya pada ayah, tapi pada keluargaku dan istriku”

“Lalu bagaimana halaman selanjutnya?”

“Kosong, karena tidak ada kisah setelahnya, terakhir yang aku ingat sebelum aku berada disini sudah tertuliskan di baris terakhirnya..”

“Lalu apa yang ingin kamu lakukan dengan halaman kosong itu???”

“Seandainya aku bisa menuliskan sesuatu disini pak tua, aku ingin menuliskan keinginanku untuk kembali pada keluargaku, meminta maaf pada mereka atas kekhilafanku selama ini, tapi aku bahkan tak tahu bagaimana caraku kembali kesana, tidak dari atas sini”

“Tahukah kamu anak muda…..
Manusia seperti Sebuah BUKU….
Cover depan adalah tanggal lahir.
Cover belakang adalah tanggal kematian.
Tiap lembarnya, adalah tiap hari dalam hidup mereka dan apa yang mereka lakukan.
Sekali tertulis, tidak akan pernah bisa diubah lagi.
Seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yang putih bersih, baru dan tiada cacat. “

“Baiklah sekarang berikan buku itu padaku, selama ini akulah yang telah menuliskan ceritamu dibuku itu, ya aku adalah nalurimu, tempat dan ruangan ini adalah hati kecilmu, hati setiap manusia pada dasarnya putih dan suci seperti ruangan dan buku ini, tapi kebencian dan hawa nafsu manusia akan menjadikannya bernoda. Nah sekarang pulanglah, ketika kamu keluar dari pintu itu, maka aku dan ruangan ini akan menghilang dari hadapanmu, tapi ingatlah ketika manusia merasakan kepedihan ia akan selalu menemukan ruang yang nyaman dihatinya. Suatu saat, mungkin kamu ingin menjengukku sesekali disini dan akan kutawarkan secangkir kopi kesukaanmu”

Aku tersenyum mendengarnya, aku kemudian beranjak dan mengucapkan terimakasihku padanya, mengucapkan terimakasih pada naluri dan hatiku yang telah membukakan mataku tentang keegoisanku dan kekhilafanku selama ini, dan aku membuka pintu itu untuk memulai sebuah awal yang baru.

———————————————————————-

Sebait sajak dari notes mbak yu Rien yang telah menginspirasi fiksi panjang ini

Manusia seperti Sebuah BUKU….
Cover depan adalah tanggal lahir.
Cover belakang adalah tanggal kematian.
Tiap lembarnya, adalah tiap hari dalam hidup kita dan apa yg kita lakukan.
Ada buku yg tebal,
ada buku yg tipis.
Ada buku yg menarik dibaca,
ada yg sama sekali tidak menarik.

Sekali tertulis, tidak akan pernah bisa di’edit’ lagi.

Tapi hebatnya,
Seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yg putih bersih, baru dan tiada cacat.

Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin,
Allah swt selalu menyediakan hari yang baru untuk kita.

9 pemikiran pada “Sebuah halaman putih”

  1. Manusia seperti Sebuah BUKU….
    Cover depan adalah tanggal lahir.
    Cover belakang adalah tanggal kematian.
    Tiap lembarnya, adalah tiap hari dalam hidup kita dan apa yg kita lakukan.
    Sekali tertulis, tidak akan pernah bisa di’edit’ lagi.

    Tapi hebatnya,
    seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yg putih bersih, baru dan tiada cacat. (Katherine Setiawan)

    Balas

Tinggalkan komentar

(Note, links and most HTML attributes are not allowed in comments)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Ingin produk/website Anda kami ulas? Silahkan klik tombol dibawah ini