Solusi dari Alam Dimaksimalkan Perusahaan Sukanto Tanoto untuk Merawat Perkebunan Kelapa Sawit

Pengusaha Sukanto Tanoto selalu menganjurkan segenap pihak di Royal Golden Eagle (RGE) untuk mampu menjaga lingkungan. Tidak heran, sejumlah langkah yang diambil selalu bersahabat dengan alam. Salah satunya yang dilakukan oleh Asian Agri dalam merawat perkebunan kelapa sawitnya.

Asian Agri saat ini termasuk salah satu produsen minyak kelapa sawit terkemuka di Asia. Mengelola lahan perkebunan seluas 160 hektare, unit bisnis dari RGE ini mampu menggapai kapasitas produksi satu juta ton crude palm oil dalam satu tahun.

Kunci keberhasilan dalam menggapai tingkat produksi tinggi tersebut tidak lepas dari kemampuan mengelola perkebunan yang baik. Asian Agri mampu mengoptimalkan perkebunannya sehingga tidak perlu menambah lahan untuk mendukung suplai bahan baku produksi.

Perusahaan Sukanto Tanoto ini tahu pembukaan lahan akan mengurangi area alami. Ini jelas merugikan bagi kelestarian lingkungan yang diharapkan. Oleh sebab itu, tidak ada pilihan lain selain dengan mengoptimalkan kebun yang ada untuk kepentingan produksi.

Langkah yang mengutamakan kepentingan alam juga dilakukan dalam pengelolaan perkebunan. Sama seperti perkebunan lain, tanaman memerlukan perawatan ekstra supaya hasilnya maksimal. Salah satu tantangan utama yang dihadapi ialah dalam menghadapi hama.

Dalam perkebunan kelapa sawit, ada hama utama yang dialami, yakni ulat dan tikus. Jenis ulat yang biasa mengganggu adalah ulat api. Spesies ini biasa merusak kelapa sawit yang tengah berada dalam pembibitan.

Dampaknya cukup fatal. Bibit yang diganggu tidak akan mampu memberi hasil maksimal. Padahal, investasi kelapa sawit termasuk jangka panjang. Sekali menanam, pohon biasanya akan terus berbuah sampai 20 atau 25 tahun. Baru setelah itu, tanaman perlu diganti dengan pohon baru.

Kalau terganggu oleh ulat api, bibit tidak bisa berkembang dengan sehat. Akibatnya ketika ditanam, hasil buahnya tidak optimal. Kerugian jangka panjang jelas diderita.

Bukan hanya itu, ulat api juga mengganggu pohon kelapa sawit dewasa. Ulat api menggerogoti daun-daunan. Ini berakibat pertumbuhan tanaman tidak optimal sehingga buah yang dihasilkan minim.

Untuk mengatasinya, Asian Agri mengambil solusi jitu. Perusahaan Sukanto Tanoto ini memanfaatkan alam untuk menjinakkan ulat api. Itu demi misi menjaga kelestarian lingkungan terus terjaga.

Padahal, sejatinya lebih mudah memakai pestisida untuk mengatasi hama ulat api. Namun, bisa dibayangkan berapa banyak kandungan kimia yang mesti dikeluarkan karena Asian Agri mencapai 160 ribu hektare? Jelas alam akan dirugikan.

BACA JUGA:   Kepedulian Sukanto Tanoto Terhadap Petani Indonesia

Oleh sebab itu, Asian Agri lebih memilih mengatasi hama ulat api dengan memanfaatkan predator alaminya, serangga bernama Sycanus. Serangga ini yang kemudian memangsa ulat api dan mengendalikan populasinya secara alami.

Untuk melakukannya, Asian Agri mengembangbiakkan Sycanus. Mereka bahkan sampai memiliki penangkarannya. Bahkan, setiap bulan, perusahaan Sukanto Tanoto itu melepas dua ribu Scyanus ke 27 perkebunannya.

Namun, untuk membuat habitat bagi Syacnus, Asian Agri melakukan terobosan lain. Mereka menanam tanaman yang disebut Turnera subulata atau lebih dikenal sebagai Bunga Pukul Delapan.

Nama itu muncul karena tanaman itu selalu berbunga tepat pada pukul delapan pagi. Bunganya indah dan menjadi area kesukaan Sycanus. Mereka menetap dan bersarang di sana. Bahkan, Sycanus juga bisa mendapatkan sumber makanan dari Bunga Pukul Delapan.

Oleh karena itu, Asian Agri memutuskan menanam Turnera subulata di area perkebunannya. Untuk setiap 1,4 hektare lahan perkebunan ditanami 18 meter persegi Turnera subulata.

Saat ini, kalau ditotal, lahan yang ditanami Bunga Pukul Delapan oleh perusahaan Sukanto Tanoto itu telah mencapai 1.285 meter persegi. Tanaman itu tersebar di lahan milik perusahaan, petani plasma dan petani swadaya di Sumatra Utara, Riau dan Jambi.

DEMI PERLINDUNGAN ALAM

pemangsa hama tikus asian agri sukanto tanoto
Image Source: Asianagri.com
http://www.asianagri.com/id/mediaid/media/artikel/menjamu-kunjungan-harvard-business-school-di-perkebunan-asian-agri

Pemanfaatan Sycanus untuk mengontrol populasi hama ulat api terbukti berhasil. Langkah ini mengundang Asian Agri untuk melakukan langkah serupa dalam mengatasi hama lain yang tak mengganggu, yakni tikus.

Keberadaan tikus di perkebunan kelapa sawit menjadi momok bagi para petani. Tikus mengganggu pertumbuhan pohon kelapa sawit secara masif. Mereka dapat memotong dan merusak titik tumbuh kelapa sawit. Selain itu, tikus juga merusak buah, baik buah muda maupun buah matang. Ini berakibat terhadap penurunan hasil panen.

Bukan hanya itu, tikus ternyata mempengaruhi populasi kumbang Elaeidobius kamerunicus. Tikus memakan telur, larva dan pupa kumbang penyerbuk yang berada pada spikelet bunga jantan. Karena hal itu, perkembangan buah kelapa sawit terhambat.

Dikarenakan kerugian yang sedemikian besar akibat hama tikus, Asian Agri serius memikirkan cara penanggulangannya. Mereka akhirnya menemukan solusi jitu. Sama seperti pemanfaatan Sycanus untuk mengatasi hama ulat api, perusahaan Sukanto Tanoto itu menggunakan predator alami tikus.

BACA JUGA:   Kepedulian Sukanto Tanoto Terhadap Petani Indonesia

Asian Agri akhirnya memakai burung hantu untuk mengontrol populasi tikus. Mereka menempatkan burung hantu di area perkebunan. Perusahaan Sukanto Tanoto ini sengaja membangunkan sarang di sana. Alhasil, mereka mampu menempatkan satu burung hantu untuk setiap 25 hektare lahan.

Berkat keberadaan sarang buatan, populasi burung hantu di perkebunan Asian Agri meningkat. Burung hantu berkembang biak di sana. Petugas dari perusahaan Sukanto Tanoto itu pun melakukan perawatan dan penjagaan kandang burung hantu supaya aman.

“Kami mengecek kesehatan mereka secara teratur, dan terkadang kami menemukan anak burung hantu di kandang. Setelah mereka berusia 6 bulan, mereka akan pergi dari kandang dan mencari sarang sendiri. Kami membiarkan mereka lepas ke alam dan tidak memelihara mereka,” kata seorang penjaga burung hantu bernama Zulkarnaen.

Langkah ini berhasil menekan populasi tikus. Maklum saja, banyak tikus yang dimangsa oleh burung hantu yang merupakan predator alaminya. Per hari, seekor burung hantu bisa menyantap tiga hingga empat ekor tikus.

Berkat ini, kerusakan kebun kelapa sawit akibat tikus diminimalkan. Selain itu, hal yang lebih penting adalah kelestarian alam. Sebab, dengan pemanfaatan predator alami untuk menjaga alam, perkebunan kelapa sawit Asian Agri bebas dari penggunaan pestisida. Contohnya di area kebun Buatan yang ada di kawasan Riau.

 “Dengan metode ini kami mampu mengontrol hama tanpa membahayakan mahkluk hidup lainnya di sekitar kebun,” kata Jenni G., Asisten Kepala Kebun Buatan.

Pemanfaatan predator hama alami seperti burung hantu akhirnya disosialisasikan oleh Asian Agri ke para petani plasmanya. Mereka mendorong petani agar melakukan langkah serupa dalam pengendalian hama.

Ini dilakukan oleh para petani plasma perusahaan Sukanto Tanoto tersebut di perkebunan. Contohnya adalah para petani di KUD Subur Makmur, yang terletak di Desa Tidar Kuranji, Maro Sebo Ilir, Batang Hari, Jambi.

Mereka membuat dua kandang burung hantu untuk setiap 20 hektare lahan perkebunan. “Penggunaan burung hantu di perkebunan ini sudah tiga tahun penggunaan burung hantu di perkebunan ini. Kami sudah tidak pakai klerat (sejenis pestisida) sejak lama,” ujar Ketua KUD Subur Makmur, Rosul, di Kompas.com.
Pemanfaatan predator alami merupakan bukti nyata bahwa Asian Agri melindungi alam, persis seperti yang diarahkan pendirinya, Sukanto Tanoto.

News Reporter
Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.

Berikan tanggapan anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.