berikut artikel dg Tag: ramadhan

Marhaban ya Bullying

Sebelum internet menjadi makanan kita sehari2, bulan ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, setidaknya itu dapat kita saksikan dalam acara televisi sepanjang ramadhan. Masih ingat sinetron lawas yang dibintangi Dedi Mizwar seperti hikayat pengembara yang kental dengan unsur dakwah nan membumi. Sementara televisi lain menghadirkan tausiah2 dan khazanah wawasan baru tentang keislaman baik di Indonesia maupun seantero bumi. Tapi itu dulu, jaman sudah berubah. Benar hari ini masih ada sajian tausyiah yang mengenyangkan rohani, tapi banyak juga pepesan kosong yang merusak keindahan ramadhan....

Sekeping rindu pada ramadhan di masa itu…

Kalau dikasih judul postingan ini sekeping rindu pada ramadhan entar pada protes isinya kok childish kagak berasa nuansa religiusnya blabarpisan hahaha. Oke this is story emang bukan mau ngebahas ramadhan dari sisi spiritual agamis yang aku yakin di bulan kek gini bakalan menjamur di mana2, mirip kek fenomena artis beramai2 pake kerudung trus abis syawalan bukak lapak aurat lagi....

Zakat Pengais Beras

Aku masih sibuk membuang kotoran2 kecil yang masih tersisa di tampah, Hanya sedikit beras sisa yang bisa kukumpulkan hari ini,  mungkin hanya cukup untuk masak esok pagi, besok sudah lebaran, banyak orang2 sepertiku yang berebut mencari sesuap nasi dari sisa sisa beras yang tercecer di atas truk pengangkut Kulihat Ardi berlari lari dari mushola “Emak emak kata pak ustad klo besok lebaran malam ini kita berzakat kan Emak?” Aku terdiam membisu, kubelai2 rambut ikalnya “InsyaAllah tahun ini kita berzakat yah?” “Bener yah Emak? Ardi pengen banget bisa kayak temen2 bayar zakat!!!” “Ya udah sana ke dalam dulu ntar emak siapin zakatnya” ************** “Ardi bangun, katanya mau zakat? ayo ini emak bawain berasnya” “Mmh emak bener kita mau zakat mak?” ardi......

Di Bawah Telapak Surga

Memandang kelam lembar hitam kisah anak manusia Di antara hiruk pikuk nuansa dunia Di negeri telapak surga Di negeri yang tersohor kekayaan alamnya Aku berdiri seorang diri Menatap mata nanar yang membusuk di tepi jalanan Mengais hidupnya ditumpukan sampah ibukota Ah sekiranya kami adalah mereka Pada siapakah kami masih harus meminta??? Ya Tuhanku Mengapa kau bedakan kami atas mereka? Mengapa kau relakan sebagian kami hidup terlunta lunta dan sebatang kara? Ya Tuhanku Jikalah jalanku tak semudah yang kami kira Jika peluh ini mengalir terlalu deras hingga abai terhadap kalimatMu Ingatkanlah kami padaMu Pada kisah kisah kitabMu Dan pada bait bait keteguhan kekasihMu Dinding rumah kami hanyalah butiran sampah yang kami pupuk untuk bernaung Maka ubahlah ia menjadi pahala bagi mereka......