That’s A Pride?

Saya kenal orang2 besar di negeri ini maupun di seantero dunia, Obama? saya kenal baik dengannya, Bill Gates, saya tahu dia sejak masih kuliah di Harvard, SBY? itu juga saya tahu persis orangnya. Perkara mereka enggak kenal baik dengan saya, itu soal lain.

Ucapan pembuka semester baru oleh direktur magister kampusku membuat kami tertawa lepas. Ya, hampir semua dari kita disini tidak ada  yang tidak kenal Obama, Bill Gates dan SBY, setidaknya begitulah keadaan sebenarnya, sementara mungkin diantara tiga tokoh itu, tidak ada satupun yang benar2 mengenal kita. Boro2 kenal, tahu aja enggak!

Jokowi saat ini tengah menjadi perbincangan pra dan pasca kemenangannya dalam pilkada gubernur Jakarta, sikap sederhananya kemudian menjadi panutan, baju kotak2nya menjadi idola banyak orang.  Dan enggak salah klo kemudian muncul kembaran Jokowi bernama Jokodin yang bernama asli Syafarudin.

Soal jokodin numpang ketenaran jokowi ah itu biarin aja, toh kita udah gak kaget ketika dulu muncul seorang pemuda berdandan ala Aa Gym kemudian laris manis dipanggung hiburan. Trus apa yang mau dibahas kali ini?

Tentang sebuah fenomena kebanggaan, eh lu tau gak itu SBY dulu waktu dilahirin yang ngebantu tetangga simbah buyut gw, Hitler itu dulu adiknya simbah kambing gw, Lo tau orang yang punya rumah gede di seberang jalan sono? itu kenalan baik bokapnya pembokat gw. Ini kok lama2 sikap kek penyakit wae sih?

BACA JUGA:   Golput: Memilih untuk tidak memilih

Terus, ketika kita punya serempetan kecil dengan nama2 tokoh2 besar kita akan merasa bangga, gak peduli tokohnya siapa, yang penting bisa ikut numpang nampangin muka aja di depan teman2 sendiri udah cukup. So what? itu merubah hidup lo? kagak! itu bikin lo jadi hebat kek tokoh2 itu? kagak juga! Trus ngapain??? Bukannya mending berusaha biar kita juga bisa menghebatkan diri seperti tokoh2 tersebut?

Fine, ada sebuah pameo, Leader itu dilahirkan, sedangkan manager dibentuk. Masalahnya diantara kita apakah kita adalah seorang leader atau sekedar follower penggembira? Dengan pameo itu seolah2 mentok2nya kita nanti jabatannya hanya bakalan jadi manager bukan direktur apalagi direktur sebuah provinsi, atau negara.

Tapi tentu itu bukan sebuah patokan, siapa yang kenal jokowi dari anak2? jarang dari kita yang ngaku, siapa yang tahu masa kecil Dahlan Iskan sejak dulu? ya cuma temen2nya. Kita semua tahu setelah mereka sukses dan kisah hidupnya disebarluaskan baik dalam bentuk artikel maupun buku2 inspirasi. Sisanya? ya biasa aja sampe muncul fenomena yang mengangkat nama mereka dari nothing to something.

Nah, jika kita bangga bisa mengenal tokoh2 itu, bukankah kita akan lebih bangga ketika nama kita lah yang dikenal orang lain, dihormati dan dijadikan ikon sebuah kebaikan. Orang2 akan berlomba menjadi seperti kita, mengikuti cara berbicara, berpakaian dan bersikap.

BACA JUGA:   Usaha Konter Pulsa di Rumah, Lebih Praktis dan Bisa Dijadikan Penghasilan Tambahan Keluarga

Mungkin ujub, tapi nyatanya tentu kita lebih memilih kondisi demikian daripada dikenal seperti Gayus? yang terkenal karena kasus korupsinya, jadi Rian si Penjagal karena pembunuhan dan disorientasi seksual? Setiap orang akan mencaci maki setiap nama kita disebut, bahkan seandainya kita telah berubah menjadi orang baik, nama buruk itu akan terus melekat di diri kita.

Maka jadilah orang yang baik, jadilah orang yang sukses, jadilah orang yang menginspirasi, memberikan manfaat bagi banyak orang disekitar kita, agar kita memiliki kebanggaan sebagai pribadi yang diturunkan Tuhan ke bumi sebagai seorang khalifah, seorang pemimpin di dunia ini.

Jadi, kapan kita menjadi orang yang hebat bagi dunia?

News Reporter
Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.