Cerita pemerintah berkeinginan menyatukan zona waktu di Indonesia menjadi satu waktu beberapa saat kemaren menurut aku berlebihan dan sama sekali enggak ada urgensinya blabarpisan, jika merujuk pada keinginan pemerintah maka zona waktu seluruh Indonesia akan merujuk pada +8GMT atau bahasa Indonesianya WITA.

Zona waktu yang ada saat ini dengan 3 zona merupakan hasil Kepres tahun 1987 yang berlaku efektif sejak 1 Januari 1988(sumber: MyQuran.org) Sementara dukungan terhadap penyatuan zona ini digalakan pemerintah, dunia perbankan, bisnis dan saham. Bener apa enggaknya mungkin ada benarnya, soalnya saya termasuk awam ngomongin estimasi keuntungan, prospek2 ekonomi karena basic saya bukan dari ekonomi.

Tapi bukan sesuatu yang semudah membalik telapak tangan tentunya, mengingat selama ini masyarakat terbiasa dengan 3 zona waktu, pun operator seluler/pihak bank sudah terbiasa menangani perbedaan timing ketiga zona dalam melakukan layanan pelanggan. Hal ini mengingatkan saya pada wacana me-redenominasi rupiah setahun terakhir, dan pola gonta ganti nama plakat instansi2 pendidikan maupun pemerintah yang hanya berganti nama bukan berganti teknologi, manajemen, terobosan maupun segi efektifitas yang lain. Hanya sekedar proyek mengganti papan nama dan stempel instansi.

Setelah saya kaji lebih mendalam dan mengikuti perkembangan zaman, jebul ada satu alasan mengapa pemerintah ingin melaksanakan hal ini, pemerintah ingin menetapkan standar waktu menjadi WIR atau Waktu Indonesia Raya, sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa kebanyakan orang Indonesia terbiasa molor, jadwal molor, jadwal kuliah molor, jadwal lulus barang molor, jadi dengan waktu baru ini semua orang bisa sama2 paham nek WIR adalah kependekan dari Waktu Indonesia moloR, halah blas ora nyambung yo ben

gambar dari sini

News Reporter
Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.