Ada istilah “the enemy of my enemy is my friend” buat aku ga juga sih, wong aku juga ga peduli klo aku punya musuh dan musuhku punya musuh. Sebodo amat hidup harus mikirin musuh, wong mikirin awakku dewe wae urung mesthi iso bener kok, sih ndadak ngurusi urusane wong liyo, sik ra disenengi meneh, lha kok ora menghappykan bangget.
Lain lagi yang kemakan omongan solider, musuh temenku berarti musuhku juga, lho opo meneh urusane?? Mau nggak kamu musuhin dia, dia musuhku lho, halah prekkk!!!! ngajak kok golek musuh :3 masak sih kita ga punya urusan sama orang lain karena faktor dia musuhan sama temen kita terus kita wajib musuhan sama dia. Bisa aja kan temen kita yang salah, bisa karena cuma salah paham, lha kok kita mau ikut ambil bagian di hal2 macem itu.
Ada istilah lain seribu teman terlalu sedikit, dan satu musuh terlalu banyak. Meski secara logikanya aku nggak nyambung tapi aku setuju2 saja dengan istilah ini, gak perlu mencari musuh lah intinya. Apalagi nge add temennya musuh buat kita masukin dalam enemy circle kita sendiri.

Priyo Harjiyono, bekerja sebagai guru komputer sejak 2011, blogger tekno sejak 2005, Pernah bekerja sebagai Asisten Dosen Teknik Informatika dan Teknik Elektronika UNY, SEO Specialist di Indobot dan saat ini sebagai SEO Specialist di Kommunitas.net , memiliki latar belakang pendidikan Teknik Elektronika, Teknik Informatika dan Program Profesi Guru Teknologi Komputer dan Informatika. Memiliki pengalaman sebagai narasumber, pembicara di bidang digital marketing, SEO dan informatika untuk bisnis dan UMKM.
Pengalaman lengkap saya bisa dicek disini
Artikel ini terakhir diperbarui pada: 27 Februari 2014 untuk menjaga relevansi dengan kondisi terkini.








Daripada mumet mikirin musuh, mending mikirin tengkleng gajah mas… udah dua kali kesana keabisan terus :p
wah aku malah ora tau sowan meneh mas