<span class='p-name'>Multiply.co.id Anti Kritik</span>

Seperti dugaanku klo Multiply masih akan terus bertindak tidak profesional, setelah berbagai kasus antara Multiply versus Blogger kini giliran Multiply versus Online Seller dan Buyer. Kekisruhan terjadi karena terlalu sering Multiply tidak menanggapi keluhan pelanggan baik itu online seller maupun buyer. Walhasil buyer yang terlanjur mentransfer uang dan seller yang terlanjur mengirim barang tidak mendapatkan hak mereka yang ditahan secara semena2 oleh Multiply.

Kenapa aku bilang semena2? jelas, pertama tidak ada kepastian tentang apa dan bagaimana proses pembayaran hak masing2 pelanggan terpenuhi, sering sekali terjadi bottle neck dimana transaksi sukses berhasil tapi hak seller tidak diberikan bahkan dalam waktu puluhan hari. Itu belum terhitung dengan lamanya proses pengiriman ke buyer yang ada sampai kurang lebih tiga minggu tanpa ada kejelasan kecuali kata “sabar”.

Fasilitas komplain yang diberikan Multiply sama sekali menjijikan, penggunaan komplain via email [email protected] berawal dari sebuah insiden yang dikenal dengan sebutan jurnal23. Dimana pihak Multiply keteteran menghadapi komplain para blogger yang keberatan terhadap rencana perubahan platform Multiply. Mereka memilih jalur belakang via email karena mereka tidak berani memberikan tanggapan secara terbuka, tentu saja, karena mereka takut tanggapan mereka yang ala kadarnya akan diserang pertanyaan yang lebih telak oleh para blogger. Dan dari sinilah kepengecutan administrasi di Multiply bermula.

Tahun berganti, janji demi janji yang diucapkan Daniel Tumiwa selaku Country Manager terhadap para Blogger pun kerap dikhianati sampai akhirnya Blogger dipaksa angkat kaki dari Multiply. Aku dan beberapa teman blogger sudah yakin, ketidakberesan pengelolaan Multiply pada saatnya akan digunakan juga untuk merugikan para Online seller dan buyer.

Multiply panen hujatan
pergantian logo baru tidak dibarengi dengan perbaikan kualitas layanan dan sikap profesional terhadap pelanggan

Dan benar saja, kepengecutan para admin Multiply lewat penggunaan idsupport semakin menjadi, semakin banyak komplain transaksi yang tidak ditanggapi bahkan sampai berhari – hari. Fine, jika  berhadapan dengan kami, blogger, sikap pengecut mereka tidak terlalu mengganggu, tapi bagaimana dengan para online seller dan buyer?

Tadinya, sebelum Multiply berpindah ke tangan Naspers dan dikelola secara tidak profesional oleh admin lokal, setiap penjual di Multiply memiliki keunikan tersendiri, setiap toko memiliki merk sendiri dan berkembang sesuai dengan perjuangan mereka, tapi apa yang terjadi setelah Multiply pindah ke Indonesia?

Hancurlah semua perjuangan para penggiat UKM online ini, tidak terlihat ada perbedaan antara satu toko dengan yang lain, tidak ada keunikan antara satu penjual dengan yang lain, karena semua seolah terlihat berasal dari seorang kartel bernama Multiply, semua uang transaksi harus melewati tangan Multiply. Dan kebetulannya banyak sekali transaksi yang akhirnya bottle neck dalam genggaman tangan Multiply. Itu belum dihitung perubahan link yang terjadi di Multiply, bagaimana para online seller telah berusaha menerapkan promosi di berbagai situs dunia maya, mengusahakan SEO ala kadarnya karena tidak didukung javascript, pada akhirnya calon pembelinya hanya akan mendapatkan kalimat halaman error? jelas reputasi yang dibangun bertahun2 remuk redam seketika.

Pikiran para buyer dan seller yang banyak bersuara kritis difans page Multiply terjadi karena mereka sangat terganggu dengan adanya HAK FINANSIAL mereka yang tidak jelas keberadaannya, ketika ditanyakan sesuai peraturan (via idsupport) pun tidak ditanggapi selain kata, HAI-SEDANG DITERUSKAN UTK DITINDAKLANJUTI-TERIMAKASIH, bahkan untuk menyebut nama pelanggannya tersebut pun tidak, taik banget gak tuh???

Tapi sampai berhari hari berikutnya, tetap saja komplain itu tidak ada juntrungnya, mungkin memang benar pihak Multiply menindaklanjuti setiap keluhan dengan membuangnya ke laut.

Selain sifat pengecut yang tertutup, para admin Multiply juga gila pujian, lihat saja buktinya di fans page facebook mereka, setiap ada komentar bernada pujian akan segera ditanggapi dengan cepat, tapi ketika banyak sekali komplain, kritik dari yang biasa sampai super pedas karena tidak pernah ditanggapi akhirnya justru semua kritikan yang pedas itu dihapus dari komentar, kemudian para pengkomplain tersebut yang notabene hak nya tidak ditunaikan oleh Multiply, justru di block dari fans page tersebut. Terang saja sikap pengecut dan anti kritik ini menuai banjir kecaman dari para usernya, baik di jejaring sosial, forum, blog maupun surat pembaca.

Ibaratnya, uangnya disembunyikan di rumah mewah, kirim sms gak pernah dibalas, entah dibaca saja tidak, kemudian pemilik uangnya dilarang menginjakkan kaki ke halaman rumah mewah itu! Kurang menyakitkan apa kalau pada akhirnya hujan caci maki mengarah kepada Multiply? Lha kok masih bisa2nya Multiply berharap usernya bicara yang baik2? memuja muji, menyampaikan kritik di belakang, atau mereka pengen klo para online seller dan buyer nyembah kaki mereka dulu baru uangnya mereka lemparkan ke lantai? Membayangkannya saja sudah membuatku ingin muntah!

Ini sama aja sebuah pembohongan publik, bagi mereka orang yang baru akan mengenal Multiply hanya akan melihat muka Multiply yang bersih, tetapi sama sekali tidak mengetahui banyak sekali keluhan akibat ketidakprofesionalan para admin didalamnya dan ketidakberesan sistemnya. Setelah mereka bertransaksi di Multiply barulah sadar kalau mereka telah mempercayakan uangnya pada sebuah Marketplace yang sama sekali tidak profesional. Sudah sepantasnya marketplace penuh kepalsuan ini dilaporkan ke YLKI, lembaga ombudsman, Depkominfo.

Bagi yang ingin berjual beli online di Multiply sebaiknya anda mengurungkan niat anda, sebelum anda menjadi korban kesekian kali nya dari ketidakprofesionalan Multiply

arti njlebod, njlebod adalah, njlebod artinya
News Reporter
Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.