Potensi Ekowisata di Tanah Papua

Papua benar-benar surga kecil yang diturunkan ke bumi, ungkapan itu disampaikan Presiden Joko Widodo kala menyambut pergantian tahun 2016 di Papua. Tanah Papua, menyimpan potensi ekowisata yang luar biasa bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, ya, kalian tidak salah membaca, potensi ekowisata, bukan sekedar pariwisata. Menurut The International Tourism Society tahun 2015, Ekowisata adalah aktifitas wisata yang penuh tanggung jawab dari para wisatawan ke daerah alami yang melestarikan lingkungan, menopang kesejahteraan masyarakat sekitar serta melibatkan interprestasi serta pendidikan lingkungan hidup.

Yang membedakan ekowisata dengan wisata jenis lain adalah tiga komponen utama yakni konservasi alam, pemberdayaan masyarakat lokal serta peningkatan kesadaran akan lingkungan hidup.

Pengalaman adalah guru terbaik, apalagi jika dikemas dalam aktifitas yang menyenangkan seperti berwisata, dengan menggunakan ekowisata untuk menanamkan pengalaman akan pentingnya pelestarian hayati, diharapkan dapat membuka pengetahuan baru bagi para wisatawan yang mengikuti kegiatan ekowisata ini.

pengertian ekowisata adalah
seorang wisatawan tengah mengamati burung (sumber medium)

Kegiatan ekowisata memerlukan keterlibatan masyarakat lokal, karena merekalah yang lebih mengenal bentang alam di lokasi tujuan wisata, mereka mengetahui keunikan daerahnya, serta keanekaragaman hayati yang hidup dan tumbuh di lingkungan ekowisata. Tidak lupa juga mereka bisa mengajarkan pada para wisatawan bagaimana kearifan lokal masyarakat bisa selaras dengan alam sekitar.

Pun demikian, di sisi lain, ekowisata memberikan kesempatan bagi masyarakat lokal untuk dapat memahami kekayaan alam di lingkungan tempat tinggal mereka dari sudut pandang yang lain. Bahwa kekayaan alam bukan hanya merupakan sumber pangan dan papan, melainkan juga sebagai sumber belajar bagaimana memperlakukan alam secara lebih seimbang. Masyarakat adat, dapat saling bertukar pengetahuan dengan para ahli lingkungan, pemerintah, stakeholder, serta para wisatawan itu sendiri mengenai bagaimana cara merawat alam, baik secara sudut pandang adat, maupun sudut pandang ilmiah. Bukan tidak mungkin, ke depan, akan ada adopsi yang lebih baik dari masyarakat adat dari pihak lain untuk menjaga keberlangsungan alam.

Ekowisata, Wisata Alam Yang Bertanggung Jawab

Dalam webinar Wonderful Papua Blogger Gathering Online, Jumat 7 Agustus 2020, CEO Econusa Bustar Maitar, Kristian Sauyai selaku Ketua Asosiasi Homestay Raja Ampat serta Alfa Ahoren mewakili generasi muda Papua kami banyak berdiskusi mengenai keunikan peluang ekowisata di Papua dan Papua Barat.

Mengapa Ekowisata di Papua itu unik? Papua bukanlah sebuah negeri dongeng dengan satu etnik dan satu kekayaan alam saja, data Badan Pusat Statistik mencatat ada sekitar 1300 suku di Indonesia dengan 652 bahasa berbeda, sekitar 250 suku dan 250 bahasa tersebut berada di tanah Papua.

Setiap suku di Papua memiliki budaya dan adat istiadat berbeda, namun mereka umumnya memiliki satu kesamaan, yakni hidup selaras dengan alam sekitar. Tiga puluh delapan persen hutan primer di Indonesia berada di Papua, hutan Papua merupakan habitat bagi 20.000 spesies tanaman, 602 jenis burung, 125 mamalia dan 223 reptil.

Dengan sistem ekowisata, para wisatawan tetap bisa menikmati keindahan alam yang ada, melakukan pengamatan hewan endemik, membuat swafoto, ataupun ikut terlibat dalam program menjaga hutan yang diselenggarakan oleh pengelola ekowisata.

Dalam kacamata EcoNusa, ekowisata haruslah berbasis masyarakat adat. Ini karena, hanya merekalah yang mengerti potensi alam yang ada, budaya, kuliner dan juga kerajinan tangannya. Selain itu, program ekowisata,  merupakan salah satu bentuk ketangguhan masyarakat (community resilence) yang tidak kita sadari. Program ini mendukung upaya-upaya melindungi ekosistem hutan dan ekosistem laut dalam skala luas.

Apa Saja Program Ekowisata di Papua

Pariwisata di Papua, dikembangkan dengan format ekowisata, mengingat, kekayaan alam dan budaya di Papua sangat berkaitan dengan alam, oleh karenanya berbagai pihak terus aktif menggalakkan program ekowisata ini, bersinergi dengan pemerintah, organisasi masyarakat, swasta dan tentu saja masyarakat yang bermukim di wilayah tersebut.

Ekowisata Isio Hill’s Bird Watching

Isio Hill’s Bird Watching terletak di Rhepang Muaif Unurum Guay, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura. Di lokasi wisata ini terdapat 84 species burung dari 31 famili di area seluas 98.000 hektar, termasuk di dalamnya enam jenis species burung cendrawasih dan lima hewan yang terancam punah seperti Casuarius unappendiculatusHarpyopsis novaeguineae, Goura victoria, Psittaculirostris salvadorii, dan Epimachus bruijnii.

Alex Waisimon Pahlawan Keragaman Hayati Papua
Alex Waisimon Pahlawan Keragaman Hayati Papua dengan teropong binocullar(sumber: matakata.com)

Untuk program ekowisata ini sendiri, Alex Waisimon, berusaha meyakinkan masyarakat dari sepuluh suku untuk bekerjasama menjaga hutan mereka. Para pelancong dapat menikmati serunya berburu foto burung endemik di habitat asli mereka, tidak hanya itu saja, wisatawan juga bisa menemukan pohon-pohon langka yang sudah berusia 600-700 tahun. Meskipun demikian pengelolaan ini bukan berarti tanpa tantangan, karena saat ini di lokasi yang sama akan dibangun perkebunan kelapa sawit.

EcoVillage Malagufuk

Ecovillage malagufuk
Ecovillage Malagufuk (sumber: econusa)

Ecovillage Malagufuk terletak di Distrik Makbon, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat. Lokasi ini didiami oleh Suku Moi, kampung Malagufuk sendiri merupakan kampung yang terbilang muda, karena merupakan pemekaran kampung lama tahun 2014. Namun diusia yang masih belia ini, Ecovillage Malagufuk terbukti mampu memberdayakan masyarakat sekitar.

Mengandalkan kekayaan alam yang ada di hutan Klasom, masyarakat Malagufuk mampu menjaga alam mereka sekaligus menjadi pelaku ekowisata itu sendiri. Masyarakat bekerja menjadi tour guide, koki, pengelola homestay bagi para tamu yang datang ke Malagufuk. Masyarakat juga menanam sayur mayur untuk disajikan bagi para wisatawan yang berkunjung ke kampung mereka. Dari pengelolaan Ekovillage Malagufuk masyarakat bisa membangun tempat peribadatan, fasilitas MCK serta meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat disana.

Raja Ampat

Tidak ada yang tidak terpesona dengan gugusan pulau di Raja Ampat. Keindahan alam yang terletak 50 km di barat laut Kota Sorong, Papua Barat itu begitu menggoda para wisatawan untuk datang berkunjung. Ada 610 pulau dalam area seluas 46 ribu kilometer persegi, dari ratusan pulau tersebut hanya 35 pulau saja yang berpenghuni. Kekayaan alam Raja Ampat bukan hanya dari keindahan gugusan pulaunya saja, melainkan juga keindahan alam bawah lautnya.

Menurut data Conservation International, The Nature Conservancy dan Lembaga Oseanografi Nasional LIPI, Raja Ampat memiliki 540 jenis karang keras, itu setara dengan 75% total jenis karang keras yang ada di dunia. Sementara itu terdapat lebih dari 1000 jenis ikan karang, 700 jenis moluska, 537 hewan karang serta spesies Udang Selingkuh, yakni sejenis lobster yang memiliki capit seperti kepiting.

Wisatawan bisa menikmati berbagai aktifitas menarik selama berada di Raja Ampat, seperti menyelam, snorkeling, fish feeding, pendakian bukit karst, pengamatan burung, kayaking, menikmati air terjun serta special snorkeling, yakni menyelam dengan ubur-ubur.

Tentu saja, masih banyak lagi lokasi ekowisata lainnya di Papua dan Papua Barat, dalam proses ekowisata di Papua, semuanya melibatkan peran serta masyarakat, dalam memandu, memberikan akomodasi serta berinteraksi secara langsung dengan para wisatawan. Harapannya para wisatawan bisa belajar bagaimana menjaga alam dari perjalanan mereka ke Papua, semoga

 

Referensi:

  • https://www.econusa.id/id/ecostory/malagufuk-ecotourism-village–maintaining-and-caring-for-forests
  • https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190912134534-269-429894/ekowisata-bird-watching-di-papua-gandeng-suku-adat
  • https://nasional.kompas.com/read/2019/03/30/21441421/cek-fakta-jokowi-sebut-ada-714-suku-dan-1001-bahasa-di-indonesia
  • https://www.republika.co.id/berita/daerah/papua-maluku/20/02/19/q5xtob396-ekowisata-konservasi-alam-dan-ketahanan-masyarakat-adat
  • https://www.econusa.id/id/ecostory/ecotourism–one-of-the-answers-to-participatory-forest-rescue
  • Mohammad Rizaldy Maturan, Daya Tarik Ekowisata Bahari Raja Ampat Papua Barat. Stipram. 2018

 

 

 

 

4 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.