Term of Use, seandainya setiap manusia lahir selalu dibekali dengan manual book tata cara pemakaiannya mungkin bakal banyak manusia yang mikir betapa tubuh kita ini serupa barang elektronik yang bakalan rusak kalau dipakai tidak semestinya.

Sayangnya Tuhan terlalu sibuk untuk sekedar mengeluarkan manual book setiap manusia lahir, Tuhan hanya memberikan pedoman2 via kitab suci, para Nabi dan pengalaman orang2 terdahulu mengenai pentingnya kita merawat diri kita sendiri.

Yep, modal gratis yang akan selalu kita pakai sampai penghujung usia ini, seumur hidup akan melekat di diri kita, sebagai identitas kita, oke lah emang beberapa orang merasa perlu ganti casing, karena merasa Tuhan tidak adil ketika mencetak dirinya. Hadeh.

Seperti halnya barang elektronik yang punya batas maksimum pemakaian meskipun berstempel lifetime guaranted tetep aja pada waktunya semua itu tidak lebih dari seonggok mesin. Tubuh kita juga begitu, suatu ketika engine kita akan menua, berkarat, dan diakhiri dengan berhentinya detak mesin utama kita.

Manusia meskipun menyadari hidupnya selalu akan berakhir tentu tidak akan mensia-siakan hidupnya, tidak mensia-siakan disini bisa aja ngikut slogan, muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk kuburan juga. Atau bisa juga dengan sering2 melakukan banyak hal yang bener2 berguna, minimal untuk sisa umur mereka, intinya workaholic dengan aktifitas mereka.

Rentang usia yang cukup panjang, membuat manusia diberikan banyak hal untuk menunggu masa aktifnya di dunia ini habis. Tuhan tidak lupa memberikan fitur gres yang enggak diberikan selain pada para makhluk Tuhan yang ngakunya paling sexy, iyalah masak mau ngakuin kambing lebih sexy daripada manusia :P. Cipta, rasa dan karsa, adalah tiga hal yang membedakan manusia dengan para kambing yang jadi tetangga hidupnya di dunia.

Dengan Cipta manusia mampu membangun peradaban, dengan arsitektur2 yang tak pernah bisa ditiru oleh laba-laba. dengan rasa manusia dibekali rasa cinta kasih pada sesama, empati dan juga ego. Karsa atau kehendak, menjadi sumber kekuatan manusia untuk dapat mencapai tujuan hidupnya.

BACA JUGA:   Nrimo Ing Pandum

Ketiga fitur Tuhan tersebut hanya dimiliki oleh manusia, ya mungkin kambing memang punya perasaan, pada anak2nya yang masih kecil,  tapi tidak memiliki daya cipta, setidaknya manusia lah yang memiliki ketiga2nya sekaligus, ketiganya dapat kita anggap sebagai sebuah software dari Tuhan, sementara untuk mengeksekusi output software tersebut Tuhan menyediakan jasad kita sebagai hardwarenya.

Sering kali kita memaksakan hardware kita mengikuti kemauan software, memaksa memainkan game sekelas Final Fantasy XIII di komputer jangkrik, ya mendem. Sama seperti tubuh kita, seringkali karena tuntutan hidup, atau lebih tepat jika saya sebut tuntutan otak membuat kita lupa mengistirahatkan sejenak tubuh kita, atau memberikan waktu istirahat yang benar2 efektif.

Rata2 kita merasa dikejar deadline adalah karena gelombang stimulus yang dikeluarkan otak terus menerus, ya memang ini bisa menjadi pemacu semangat, tetapi jika tidak diimbangi dengan stamina hardware yang kuat, akibatnya justru bisa aja deadlinenya kadaluarsa akibat kelelahan fisik, dan akhirnya berimbas pada kelelahan psikologis, merasa sudah berbuat banyak tapi pada akhirnya gagal juga.

Konon, para ilmuwan dan direktur perusahaan besar hanya tidur dalam jam yang sangat sedikit, dan menggunakan hari2nya yang panjang untuk melakukan banyak aktifitas besar dalam hidupnya. Mereka menggunakan waktu istirahatnya seefektif mungkin, meski bagi saya itu sangat abstrak, menggunakan waktu istirahat seefektif mungkin? how can? bagaimana kita bisa menyebut istirahat kita efektif? bagaimana sebenarnya istirahat yang berkualitas? entahlah mungkin diluar sana banyak orang yang lebih bisa menjelaskannya daripada gw.

Ketika berhadapan dengan deadline dan merasa sudah diujung tanduk, adalah hal yang wajar ketika kita merasa sangat terpacu untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, tentu maksimal disini adalah sebagian besar, membicarakan kuantitas waktu yang kita habiskan untuk mengejar deadline tersebut. Bahkan saat tidur menjadi tidak nyaman karena dalam benak kita seolah didatangi ratusan memo yang berdemo meminta dikerjakan saat itu juga.

BACA JUGA:   Hujan oh hujan

Terkadang ketika dihadapkan dengan kondisi demikian, yang aku lakukan hanya bergumam pada diri sendiri, setel kendo… kemudian merefleksikan otak, memandang semuanya dengan santai, ya mencoba memandangnya dari sudut pandang pihak ketiga yang hanya sebagai penonton, disitu akan muncul beberapa pernyataan, kalimat atau opsi yang bisa membuatku lebih santai, tidak tegang, realistis, rasional dan kemudian aku bisa menuliskan daftar prioritas yang harus aku capai tanpa merasa terbebani deadline, ya karena aku melakukannya dari sudut pandang orang ketiga 😀

Dengan begitu aku bisa mengistirahatkan pikiran dan badanku lebih baik, aku tahu jika nantipun aku gagal maka itu bukanlah sesuatu yang fatal karena hanya sebuah episode yang sangat kecil dari keseluruhan cerita kehidupanku. Aku memiliki prioritas yang jauh lebih besar daripada tuntutan itu.

Jika merasa hidup kita tak cukup waktu, hanya karena deadline yang bisa kapan saja dipermainkan oleh manusia, istirahatkan tubuh, otak dan pikiranmu, jadilah tuan dari pemikiranmu sendiri, karena cuma kita sendirilah yang paling mampu mengukur kemampuan fisik dan psikis kita.

Ingatlah, perjalanan kita masih panjang, mungkin saat ini kita tidak akan merasa terlalu terganggu dengan masalah insomnia, kelelahan, istirahat, kesehatan, tapi ingatlah jangan habiskan energi dan daya tahan kita hanya untuk digunakan di usia muda, sisakan untuk masa tua, ketika kita membimbing anak2 kita dan menemani mereka beranjak dewasa, masa-masa terpenting dalam hidup kita masih menanti untuk dihadapi sepenuh hati.

gambar chest robot dari sini, swimming bedroom dapet dari FB, kaoskaki dari sini

News Reporter
Priyo Harjiyono, blogger kelahiran Cilacap yang kini menjadi warga Ngayogyakarta Hadiningrat, baginya blog adalah dunia untuk menciptakan mimpi2nya. Saat ini masih disibukkan sebagai pembelajar dalam dunia pendidikan.