Peran Media Dalam Perlindungan Gizi Anak

Pemenuhan gizi anak masih menjadi PR bersama pemerintah dan kita semua, masih tingginya angka gizi buruk di Indonesia, membuat kita tersadar, butuh lebih banyak pihak yang turun tangan guna menyelesaikan permasalahan nasional ini bersama-sama. Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak memiliki visi Indonesia Layak Anak (IDOLA) 2030, tentunya tidak berlebihan jika masalah seputar anak dan balita termasuk menjadi salah satu fokus yang ingin disasar KemenPPPA bersama dengan berbagai lembaga terkait, salah satunya dengan Foodbank of Indonesia.

Dalam kaitannya untuk meningkatkan awareness masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan hak anak akan gizi, Foodbank of Indonesia bersama KemenPPPA, Fakultas Teknologi Pertanian UGM serta Frisian Flag menggelar webinar bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2020. Pada perayaan Sumpah Pemuda ke 92 ini, fokus yang dituju adalah peran media sebagai bagian dalam penuntasan kelaparan balita di Indonesia.

Oleh karenanya, dalam materi webinar yang diselenggarakan ini cukup banyak mengupas tentang kondisi anak dan balita di Indonesia. Seperti apa? Yuk simak.

Status Gizi Anak Balita di Indonesia

Acara ini dipandu oleh Ketua Yayasan Lumbung Pangan Indonesia, Wida Septarina, dan menghadirkan narasumber dari KemenPPPA, FTP UGM, IPB, PT Frisian Flag Indonesia, Wartawan Kompas dan public figur serta seorang ibu yaitu mbak Shannaz Haque.

status gizi anak balita

Menurut Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM Ibu Eni Harmayani menyatakan, persoalan masalah gizi di Indonesia memang telah mengalami peningkatan, hal ini ditandai dengan menurunnya angka permasalahan gizi pada balita di Indonesia dari sebelumnya 30,8% pada 2018 hingga hanya menyisakan 27,67% saja. Pun demikian, penurunan ini masih belum on the track, gambaran saja dengan angka tersebut berarti 3 dari 10 anak di Indonesia mengalami permasalahan gizi.

ElYm nEXYAIZvwG?format=png

Merujuk data yang disajikan Ibu Lenny Rosalin selaku Deputi Menteri Bidang Tumbuh Kembang Anak KPPPA, ada 30% masyarakat Indonesia di usia anak, 22% atau 57,6 juta jiwa usia anak, dan 8% (21,9 juta jiwa) usia balita. Pemenuhan gizi 30% komposisi masyarakat Indonesia ini merupakan tanggung jawab bersama 70% sisanya dari masyarakat Indonesia, yaitu kita sebagai orang-orang yang telah dewasa.

Dari komposisi masyarakat Indonesia yang majemuk ini, 84,3% anak diasuh oleh orang tua kandung sementara 15.7% diasuh oleh pengasuh pengganti seperti nenek atau pengasuh lain. Angka-angka tersebut memunculkan tanda tanya, jika 84% anak Indonesia diasuh oleh orang tua kandung, lantas mengapa angka gizi buruk di Indonesia masih cukup tinggi?

Berdasarkan data survey demografi dan kesehatan Indonesia di tahun 2017. Ternyata hal ini terjadi karena masalah pola asuh sejak si kecil lahir. 1 dari 10 ibu di Indonesia tidak menyusui anak, 51 persen memberikan ASI eksklusif, yang mencengangkan adalah rata-rata pemberian ASI eksklusif pada anak di Indonesia hanya selama 3 bulan saja, setengah dari kebutuhan minimal bayi selama 6 bulan. 44% bayi mendapatkan asupan lain selain ASI.

peningkatan gizi anak dengan perkenalan pangan lokal

Sedangkan berbagai pihak sepakat bahwa ASI adalah nutrisi terbaik untuk anak dalam 1000 hari pertama usianya. Ketidakmampuan ibu untuk memberikan ASI eksklusif ini bisa terjadi karena berbagai hal, misalnya karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskannya segera kembali bekerja. Salah satu usaha yang coba dilakukan KemenPPPA adalah dengan mengajak perusahaan memberikan DayCare agar ibu pekerja bisa tetap memberikan ASI eksklusif.

Fakta Konsumsi Rumah Tangga dalam Sensus 2020

ElYpICnXEAMYT2r?format=jpg

Kesalahan kedua dalam pola asuh keluarga ini adalah kebiasaan buruk orang tua, laporan sensus penduduk 2020 menyebutkan dalam konsumsi rumah tangga, ternyata ROKOK merupakan komoditi tertinggi kedua setelah beras, dengan kisaran kurang lebih 11% konsumsi rokok rumah tangga lebih besar dari konsumsi telur (4%), daging (3%)

Artinya uang keluarga 10% dihabiskan untuk konsumsi rokok yang tidak hanya tidak memberikan kontribusi positif bagi peningkatan gizi balita, melainkan bisa memperburuk kesehatan balita. Ini ibu2 bisa mulai galakin suaminya yang suka memprotes harga skincare deh keknya.

Peran Pemerintah

Pemerintah sendiri menurut Ibu Lenny, menargetkan dalam RPJMN 2024 prevalensi stunting nasional bisa ditekan hingga 14% dari kondisi saat ini 27.7%. Salah satu strategi pemerintah guna mencapai target ini salah satunya dengan menempatkan prevalensi gizi anak (kluster III) sebagai salah satu dari indikator Kabupaten/Kota Layak Anak. Kepala daerah yang ingin wilayahnya mendapat predikat Layak Anak harus memenuhi 5 kluster perlindungan anak yaitu

  1. Hak Sipil dan Kebebasan
  2. Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif
  3. Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan
  4. Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang dan Kegiatan Budaya
  5. Perlindungan Khusus

ElYqCqvXIAUpF66?format=png

Posisi Media dalam Perlindungan Gizi Anak

Nah lalu peran media sendiri bagaimana?

Berdasarkan UU No 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, Media memainkan peranan penting dalam penyebarluasan informasi dan penyebarluasan materi edukasi dengan tetap memperhatikan aspek sosial budaya, pendidikan, agama, kesehatan dan yang paling penting adalah tetap memperhatikan kepentingan terbaik dari anak.

Pemberian intervensi yang dilakukan oleh lembaga seperti Foodbank of Indonesia dalam melakukan pendampingan bagi masyarakat harapannya dapat membantu masyarakat mengalami perubahan prilaku, mulai dari ibu-ibunya yang lebih rajin menyiapkan sarapan putra putrinya, bapak-bapak mengurangi konsumsi rokok, lingkungan warga yang menyediakan posyandu, sanitasi bersih dan seterusnya.

Potensi Pangan Lokal yang Termarjinalkan dalam Konsumsi Rumah Tangga

Salah satu narasumber pada kesempatan webinar ini, Ibu Nurkholis selaku pamong PAUD menuturkan, tidak kalah penting juga adalah bagaimana memperkenalkan ibu dan anak untuk memilih pangan lokal. Ibu Nurkholis memperkenalkan siswa didiknya untuk menanam, memanen hingga mempersiapkan pangan lokal.

Dengan pembelajaran holistik semacam ini, anak-anak perlahan mau diperkenalkan dengan sumber pangan lokal. Yang paling penting menurut bu Kholis, adalah memperkenalkan anak dengan pangan lokal, karena anak akan memiliki memory tentang makanan tersebut, anak akan cenderung menolak makanan yang ia tidak memiliki memory tentang makanan tersebut.

peningkatan gizi anak dengan pangan lokal

Pemilihan pangan lokal merupakan bagian dari peningkatan ketahanan pangan nasional lho, karena sumber pangan lokal bisa didapatkan dari kebun masing-masing. Untuk anak-anak sendiri bisa diperkenalkan pangan lokal mulai dari rasa yang ringan hingga ke rasa original.

Senada dengan bu Kholis, mbak Shannaz Haque juga menekankan karena anak adalah peniru ulung, maka sebagai orang tua kita wajib memberikan contoh-contoh yang baik pada anak. Dan sebagai closing statement, mbak Shannaz mengajak rekan-rekan media untuk menulis artikel yang mampu menggerakkan para bunda di Indonesia, agar mereka tergerak menyiapkan nutrisi terbaik bagi putra putrinya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.